Jateng

Asap Karhutla Bikin 1.673 Penerbangan Terganggu, Tapi Pekerja Lapangan Tetap Harus Keluar Rumah

Theo Adi Pratama | 16 Oktober 2026, 08:59 WIB
Asap Karhutla Bikin 1.673 Penerbangan Terganggu, Tapi Pekerja Lapangan Tetap Harus Keluar Rumah
Kabut asap

JATENG.AKURAT.CO, Pagi ini, Jumat (16/10/2026), langit di Palangka Raya masih berwarna kuning kecokelatan pekat—dan di bawahnya, jutaan pekerja terus memaksa diri beraktivitas meski udara yang mereka hirup masuk kategori paling berbahaya di dunia.

Baca Juga: Dilema UU Baru Setelah Disahkan, Buruh Tetap Waswas: Upah Naik, Tapi Pesangon Masih Tanda Tanya

11 Tahun Terparah, dan Kita Masih di Sini

Ini bukan drama sehari. Sejak Agustus, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan terus membara, dan sekarang kita sedang menanggung konsekuensi terburuknya dalam 11 tahun terakhir.

Pagi ini, berdasarkan pantauan IQAir, Palangka Raya mencatat indeks kualitas udara 988—masuk kategori berbahaya.

Beberapa hari lalu bahkan menembus 1.258 untuk PM2.5, tertinggi di Indonesia. Artinya apa? Udara di sana bukan sekadar "tidak sehat". Udara di sana adalah racun yang berjalan pelan.

Tapi di bawah semua angka itu, ada manusia. Ada ojol yang masih harus narik. Ada buruh sawit yang tetap harus panen. Ada pedagang yang tetap harus buka lapak.

Mereka tidak punya pilihan untuk tinggal di rumah.

Baca Juga: Catatan Hari Parlemen 2026: Capaian 16 UU vs Kepuasan Publik yang Ambruk ke 39 Persen

Heri dan Ribuan Pekerja yang "Dipaksa" Menghirup Asap

Nama Heri mungkin tidak akan pernah masuk berita utama. Dia pengemudi ojek motor di Palangka Raya.

Empat bulan terakhir, dia bekerja di tengah asap yang tebal. Setiap pagi, ia mengenakan masker—tapi itu tidak cukup.

"Asapnya sangat tebal, dan karena saya bekerja di luar ruangan, saya terpaksa menghirupnya meski pakai masker," ujarnya kepada AFP.

"Mata saya mulai perih karena debu dari puing-puing yang terbakar beterbangan di asap."

"Saya tetap harus bekerja dan sudah berjuang di tengah asap ini selama empat bulan. Kalau saya tidak bekerja, saya tidak dapat uang. Semua orang dipaksa melawan asap tebal ini."

Heri bukan satu-satunya. Di Balikpapan, Kalimantan Timur, warga mengeluhkan mata perih, bau asap menyengat, dan gangguan pernapasan sejak Kamis pagi (15/10).

Di Jambi, indeks pencemaran udara menembus angka 389—kategori berbahaya—dan dampaknya paling dirasakan para pekerja yang setiap hari harus keluar rumah.

Baca Juga: Cek Harga Sebelum Belanja! Update Bumbu Dapur Pagi Ini 16 Oktober 2026

Data yang Bikin Merinding

Ini rangkuman situasi pagi ini:

Titik Panas Masih Menyala

Hingga 12 Oktober malam, Indonesia mendeteksi 1.085 titik panas berkualitas tinggi.

Yang paling parah: Kalimantan Tengah (227 titik), Sumatera Selatan (147 titik), dan Kalimantan Selatan (113 titik).

28 Ribu Lebih Kasus Infeksi Saluran Pernapasan

Kementerian Kesehatan melaporkan lebih dari 280 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut dalam dua bulan terakhir akibat paparan asap.

Di Palangka Raya saja, ada 10.240 kasus ISPA antara Juni dan awal Oktober.

1.673 Penerbangan Terganggu

Sejak Agustus, sekitar 1.673 penerbangan di Indonesia mengalami keterlambatan, pembatalan, atau pengalihan akibat asap.

Dampak Lintas Negara

Asap dari karhutla Indonesia sudah menyebar ke Malaysia, Singapura, Filipina, dan Timor Leste.

Malaysia menutup 1.198 sekolah di Johor, berdampak pada 617 ribu siswa.

Timor Leste mengumumkan penutupan sekolah selama tiga hari mulai 15 Oktober.

Baca Juga: Jakarta Pagi Ini 16 Oktober 2026 Panas Banget! Suhu Tembus 35 Derajat, Warga: Kayak Matahari Sejengkal di Atas Kepala

Kenapa Api Ini Sulit Banget Dipadamkan?

Ini bukan kebakaran hutan biasa. Api di Sumatera dan Kalimantan sebagian besar terjadi di lahan gambut—ekosistem yang biasanya basah, tapi kini mengering akibat drainase dan kekeringan ekstrem.

Kepala BNPB menjelaskan bahwa api gambut bisa menyala di bawah tanah hingga kedalaman 10 meter.

Artinya, meski permukaan sudah disiram, api di bawah tetap membara dan bisa muncul kembali beberapa hari kemudian.

Faktor pemicunya berlapis: El Nino kuat yang membawa kekeringan panjang, drainase lahan gambut untuk perkebunan, dan praktik slash and burn yang masih marak meski sudah dilarang.

Presiden Prabowo bahkan menyebut praktik ini sebagai "ecological terrorism" , dan pemerintah sudah mencabut izin 26 perusahaan yang diduga terkait dengan titik api.

60 Ribu Personel Dikerahkan, Tapi...

Pemerintah tidak tinggal diam. Sekitar 60.177 personel gabungan dari Damkar, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, dan relawan sudah diterjunkan hingga 13 Oktober.

Puluhan helikopter dan pesawat dikerahkan untuk water bombing dan modifikasi cuaca.

Tapi ada masalah: asap terlalu tebal, sehingga operasi udara sulit dilakukan.

Menko Polhukam Dudung Abdurachman mengakui bahwa operasi darat lebih dominan karena "asapnya terlalu tebal."

Presiden Prabowo juga sudah menyetujui penerimaan bantuan dari negara tetangga.

Malaysia siap mengirim satu pesawat, tiga helikopter, dan 52 personel pemadam kebakaran.

Tapi Kenapa Belum Jadi Bencana Nasional?

Ini pertanyaan yang mungkin bikin banyak orang garuk kepala. Pemerintah belum menetapkan karhutla sebagai bencana nasional karena menilai penanganannya masih mampu dilakukan.

"Belum, belum. Masih mampu kita mengatasi," kata Dudung Abdurachman, dikutip RRI.

Padahal, dampaknya sudah lintas provinsi, lintas negara, dan sudah memakan korban jiwa—tiga petugas pemadam kebakaran meninggal saat bertugas di Bromo pada 15 Oktober.

Yang Bikin Ironis: Pekerja Lapangan Paling Terdampak, Tapi Paling Sedikit Dilindungi

Ini poin yang mungkin paling bikin kita semua merenung. Saat sekolah diliburkan, saat kantor menerapkan WFH, saat warga diminta tinggal di rumah—ada satu kelompok yang tidak punya opsi itu: pekerja lapangan.

Ojol, buruh perkebunan, pedagang pasar, pekerja konstruksi, petugas kebersihan—mereka semua tetap harus keluar rumah, menghirup PM2.5 yang bisa masuk jauh ke dalam paru-paru, memicu iritasi, peradangan, dan stres oksidatif.

"Jika paparan PM2.5 ini terjadi lama dan berulang, dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, memperberat kondisi penderita asma dan PPOK, serta meningkatkan risiko penyakit paru kronis," jelas Dr Alfian Nur Rosyid, pakar paru Universitas Airlangga.

Sawit Watch bahkan menyoroti bahwa perlindungan buruh sawit dalam situasi karhutla masih sangat terabaikan, meski mereka bekerja di tengah kepulan asap setiap hari.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Ini bukan situasi di mana kita bisa hanya menunggu pemerintah. Tapi setidaknya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

1. Jika kamu pekerja lapangan: Gunakan masker N95, bukan masker kain biasa. Masker kain tidak mampu menyaring partikel PM2.5. Bawa air minum yang cukup dan seringlah beristirahat di ruangan tertutup jika memungkinkan.

2. Jika kamu di daerah terdampak: Pantau indeks kualitas udara secara rutin. Batasi aktivitas luar ruangan saat indeks sudah masuk kategori tidak sehat.

3. Jika kamu punya suara: Desak perusahaan untuk menyediakan perlindungan bagi pekerja lapangan—masker, ruang istirahat ber-AC, dan jadwal kerja yang lebih fleksibel saat kualitas udara buruk.

4. Untuk jangka panjang: Karhutla bukan cuma soal cuaca. Ini soal tata kelola lahan, penegakan hukum, dan keseriusan kita semua dalam menghentikan praktik "烧芭" yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.