Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru

JATENG.AKURAT.CO, Warga Semarang dan Solo yang berangkat kerja pagi ini, Kamis (15/10/2026), bakal disuguhi drama lalu lintas yang tak jauh beda dari hari-hari sebelumnya: proyek yang belum kelar, rekayasa arus yang bikin bingung, dan tentu saja, antrean kendaraan yang bikin waktu tempuh membengkak.
Kalau kamu tipe orang yang berangkat kerja sambil berharap jalanan lengang, mungkin pagi ini saatnya realistis.
Sebab, sejumlah titik di dua kota itu masih jadi “langganan” padat merayap, terutama di jam sibuk pagi antara pukul 06.00 hingga 08.00 WIB.
Semarang: Titik yang Bikin Kepala Pusing
1. Jalan Kapten Piere Tendean – Ditutup 14 Hari
Ini yang paling anyar. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang resmi menutup sementara Jalan Kapten Piere Tendean, tepatnya di lingkar Taman Signature atau Taman Parikesit yang mengarah ke Balai Kota dan Tugu Muda.
Penutupan mulai 14 Oktober hingga 28 Oktober 2026, murni untuk proyek drainase, bukan demo atau acara politik.
Artinya, kalau kamu biasa melintas dari Jalan Pemuda dan belok ke arah Balai Kota lewat lingkar Taman Signature, dua minggu ke depan kamu harus cari akal.
Kepala DPU Kota Semarang, Suwarto, bilang proyek ini sebelumnya sempat dihentikan sementara karena berpotensi mengganggu lalu lintas. Kini dilanjutkan kembali.
“September ini masih cukup waktu. Kebanyakan selesainya pertengahan Desember, sekitar tanggal 15 sampai 20,” ujarnya, dikutip RRI.
2. Jalan Madukoro – Perbaikan Rel, Sistem Buka-Tutup
Perbaikan rel kereta api di perlintasan sebidang yang dilakukan KAI Daop 4 Semarang masih berlangsung.
Sistem buka-tutup satu sisi di titik ini bikin akses menuju Bandara Ahmad Yani tersendat sejak pagi.
Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, sudah mengimbau pengguna jalan untuk memanfaatkan Jalan Arteri Utara sebagai jalur alternatif.
Solo: Nonongan dan Yos Sudarso Masih Jadi Biang Drama
Di Solo, pagi hari bukan cuma soal macet, tapi juga soal proyek yang belum kelar.
Jalan Slamet Riyadi, terutama di koridor Nonongan, jadi langganan padat merayap di jam berangkat kerja dan sekolah, sekitar pukul 07.00–09.00 WIB.
Masalah utamanya: proyek revitalisasi Jalan Yos Sudarso sisi barat masih berlangsung hingga Desember 2026. Sejak Agustus lalu, arus dari selatan ke utara ditutup sementara, dan pengendara dialihkan lewat simpang Gemblegan, Jl Veteran, Jl Kapten Mulyadi, atau via Simpang Coyudan, Jl Radjiman, dan Jl Gatot Subroto.
Kabid Lalu Lintas Dishub Solo, Andri Wahyudi, menjelaskan skema pengalihan ini saat dihubungi detikJateng.
“Pengerjaan satu sisi dulu. Besok hari Senin (3/8), pengerjaan di sisi barat dulu. Kendaraan dari arah selatan (ke arah Slamet Riyadi), kita alihkan ke Jalan dr. Rajiman, lalu ke Jalan Gatot Subroto (Gatsu), dan masuk ke Jalan Slamet Riyadi,” katanya.
Belum lama ini, jagat maya juga dihebohkan dengan video mobil ambulans yang terhalang Toyota Kijang Innova di jalur contraflow Jalan Slamet Riyadi.
Andri membenarkan kejadian tersebut dan menyatakan akan mengecek rekaman CCTV di Simpang Nonongan.
“Kalau misalkan itu warga Solo kan harusnya paham bahwa itu jalur contraflow sebenarnya,” ujarnya, dikutip Kompas.com.
Jalur Tikus yang Bisa Kamu Coba
Tenang, ada beberapa jalur alternatif yang bisa bikin kamu sampai rumah atau kantor lebih cepat tanpa harus pasrah terjebak antrean panjang.
Untuk warga Semarang:
Kalau dari arah Tembalang ingin menuju Semarang bawah, hindari Kedungmundu saat jam sibuk. Manfaatkan jalur tembus Jangli-Undip yang sudah selesai dibangun.
Bagi warga Semarang Selatan, cobalah jalur alternatif via Jalan Setiabudi atau Gunungpati.
Buat kamu yang sering ke Solo atau Ungaran, jalur Sampangan–Gunungpati–Ungaran bisa jadi penyelamat. Lewat Sampangan, Jembatan Besi, Unnes Sekaran, Gunungpati, hingga Ungaran. Bebas dari titik macet utama di kawasan Gombel, dengan panorama perbukitan hijau.
Untuk warga Solo:
Jalan Yos Sudarso dan Adi Sucipto sering lebih lancar saat jalan utama padat. Tapi perlu dicatat, Jalan Yos Sudarso sisi barat masih dalam proses revitalisasi hingga Desember 2026.
Dishub Solo punya aplikasi Pantau Lalin Solo yang bisa kamu unduh di Google Play untuk memantau kondisi lalu lintas secara real-time lewat CCTV ATCS.
Tips Biar Pagi Nggak Bikin Stres
Berangkat lebih awal. Buat kamu yang punya jadwal ke stasiun atau bandara, Dody menyarankan berangkat satu hingga dua jam sebelum keberangkatan.
Manfaatkan aplikasi peta. Google Maps bukan satu-satunya. Ada Waze, Travoy untuk pantau tol, dan Sipolan chatbot Polisi Jateng di WhatsApp.
Ikuti arahan petugas. Rambu-rambu sementara dan instruksi di lapangan lebih akurat daripada asumsi pribadi.
Siapkan rute cadangan. Kalau Pamularsih dan Kaligarang padat, ada jalur alternatif lain seperti Sigar dan sebagainya.
Intinya, pagi ini bukan soal menghindari macet sepenuhnya, tapi soal memilih medan perang yang paling bisa ditaklukkan.
Selamat berangkat, dan semoga selamat sampai tujuan tanpa drama berlebihan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
- 2Kapan Balapan F1 Berikutnya? GP Amerika Serikat 2026 di Austin, Ini Jadwal Lengkapnya
- 3Ditreskrimsus Polda Jateng Cek Tiga Rumah di Gombel Lama, Dugaan Kerusakan Lingkungan Didalami
- 4Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
- 5Tugu Muda Semarang Direkayasa Dua Hari, Pengendara ke Stasiun dan Bandara Diminta Berangkat Lebih Awal
- 6Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 7Selasa Kliwon: Weton Neptu 11 yang Wataknya Bisa Jadi Pujangga atau Malah Menyebalkan
- 8Cegah Pembayaran Upah Tak Sesuai Kinerja, Pemkot Semarang Perkuat Sistem Evaluasi PJLP
- 9OJK Jateng Gandeng Nasyiatul Aisyiyah, 70 Kader Perempuan Disiapkan Jadi Duta Literasi Keuangan
- 10Target Operasi 2031, Proyek Geotermal Gunung Ungaran Masih Bergantung Hasil Eksplorasi dan Kajian Lingkungan





