Jateng

Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya

Theo Adi Pratama | 13 Oktober 2026, 21:30 WIB
Malam di Semarang Makin Gerah, Warga Kehilangan 83 Jam Tidur Setahun—Ini Penyebabnya
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Malam di Semarang makin gerah, dan tanpa sadar tubuh kehilangan 83 jam tidur per tahun hanya karena suhu malam yang tak kunjung turun—sebuah fenomena yang diperparah efek pulau panas perkotaan dan bikin tidur jadi barang mewah.

Fariz Fardianto, 38 tahun, warga Jalan Layur, Semarang, mondar-mandir di depan rumahnya. Sudah jam sebelas malam, tapi ia sama sekali tidak bisa tidur.

Baju sudah dilepas, kaus singlet sudah dipakai, tapi gerah tetap saja menyelimuti tubuhnya. Ia bahkan memilih tidur di lantai kamar dengan kipas angin yang berputar di sampingnya, berharap sensasi dingin bisa menipu tubuhnya untuk beristirahat. Tapi tetap saja, mata ini susah merem.

Cerita Fariz bukan cerita langka. Hampir setiap malam, ribuan warga Semarang mengalami hal yang sama. Bukan karena stres pekerjaan atau kopi terlalu banyak, tapi karena udara malam di kota ini benar-benar tidak nyaman untuk tidur.

Neptu Suhu yang Tidak Nyaman: 27-29 Derajat, Kelembapan 70%

Berdasarkan data BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, suhu udara di Kota Semarang pada malam hari berkisar antara 27-29 derajat Celsius, dengan kelembapan udara mencapai 64-72%.

Angka ini terlihat tidak ekstrem, tapi kombinasi keduanya justru menciptakan sensasi gerah yang luar biasa.

Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani, Yoga Sambodo, menjelaskan fenomena ini dengan gamblang:

"Bulan Oktober ini matahari pas di Jateng. Jadi secara umum, wilayah Jateng paling banyak menerima radiasi matahari. Radiasi yang diserap pada siang hari dilepaskan bumi ketika malam. Itu yang menyebabkan suhu terasa gerah," ujarnya.

Yoga menambahkan bahwa adanya awan di malam hari justru memperburuk situasi. Proses kondensasi—perubahan uap air menjadi awan—melepaskan energi panas ke udara, yang membuat udara terasa semakin sumuk.

Jadi, meskipun matahari sudah terbenam, bumi masih terus melepaskan panas yang diserap sepanjang hari.

Suhu Ideal untuk Tidur: 20-25 Derajat Celsius

Lalu, berapa suhu yang sebenarnya ideal untuk tidur? Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science of The Total Environment pada 2023 menemukan bahwa kualitas tidur paling optimal terjadi pada suhu ambient malam hari antara 20 hingga 25 derajat Celsius.

Ketika suhu meningkat dari 25 ke 30 derajat Celsius, efisiensi tidur turun secara signifikan sebesar 5-10%.

Suhu malam di Semarang yang berkisar 27-29 derajat Celsius memang berada di ambang batas atas zona ideal, tapi kelembapan udara yang mencapai 64-72% membuat sensasi gerah jauh lebih terasa.

Kelembapan yang tinggi menghambat penguapan keringat, sehingga tubuh tetap terasa panas meskipun suhu udara tidak terlalu tinggi.

Efek Urban Heat Island: Kota yang Tak Pernah Tidur

Salah satu faktor yang membuat masalah ini semakin parah adalah urban heat island (UHI)—fenomena di mana perkotaan menyimpan lebih banyak panas dibandingkan daerah sekitarnya. Bangunan beton, aspal jalanan, dan minimnya ruang hijau membuat panas terperangkap di kota dan dilepaskan secara perlahan sepanjang malam.

Penelitian dari ejournal Warunayama menunjukkan bahwa penurunan suhu pada sore hingga malam hari di kawasan perkotaan hanya sekitar 0,63 derajat Celsius per jam, jauh lebih lambat dibandingkan daerah pinggiran.

Artinya, ketika matahari terbenam, kota tidak langsung mendingin. Panas yang diserap gedung dan jalanan sepanjang hari masih terus dilepaskan hingga larut malam.

Efek ini diperkuat oleh letak geografis Semarang yang berada di pesisir serta aktivitas industri yang masif, kepadatan bangunan, dan volume kendaraan yang tinggi.

Tidur Hilang 83 Jam Setahun: Angka yang Mengkhawatirkan

Dampak dari semua ini sangat nyata. Laporan Climate Central bertajuk Climate Change is Costing People Sleep menganalisis dampak suhu malam terhadap kualitas tidur selama periode 2020-2025. Hasilnya? Warga Semarang kehilangan sekitar 83 jam tidur setiap tahun akibat suhu malam yang semakin panas.

Angka ini lebih buruk dari rata-rata global yang mencapai 56 jam per tahun. Bahkan, Indonesia secara keseluruhan mencatat kehilangan waktu tidur tertinggi di Asia Tenggara.

Yang lebih mengkhawatirkan: sekitar tujuh hingga sembilan jam dari kehilangan tidur warga Semarang secara langsung terkait dengan perubahan iklim.

Artinya, bukan cuma efek pulau panas perkotaan, tapi juga pemanasan global yang membuat malam-malam di Semarang semakin tidak bersahabat untuk tidur.

Ketika Tubuh Tidak Bisa "Mendingin" untuk Tidur

Mengapa suhu yang tinggi begitu mengganggu tidur? Jawabannya ada pada cara kerja tubuh manusia.

Saat kita tidur, tubuh secara alami menurunkan suhu inti (core temperature) sebagai bagian dari proses persiapan tidur. Proses ini disebut thermoregulation—kemampuan tubuh mengatur suhunya sendiri.

Ketika suhu udara di sekitar terlalu panas, proses penurunan suhu inti ini menjadi lebih sulit, sehingga seseorang lebih mudah terbangun atau kesulitan memasuki fase tidur yang nyenyak.

Ketua Aliansi Iklim dan Kesehatan Global, Courtney Howard, menjelaskan dampak jangka panjangnya:

"Tidur kurang dari 7 jam per malam dikaitkan dengan gangguan fungsi kekebalan tubuh dan kinerja, serta peningkatan kesalahan, nyeri, dan kecelakaan. Jika kurang tidur terus berlanjut secara teratur, hal itu dikaitkan dengan penambahan berat badan, diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan peningkatan risiko kematian," ujarnya.

Jadi, insomnia yang kamu alami di malam-malam gerah bukan sekadar rasa tidak nyaman sesaat. Ini adalah masalah kesehatan serius yang berdampak jangka panjang.

Solusi: Bagaimana Tidur Nyenyak Saat Malam Gerah?

Kabar baiknya, ada beberapa langkah praktis yang bisa kamu lakukan untuk tetap tidur nyenyak meskipun udara malam terasa gerah:

  • Tutup tirai atau gorden pada siang hari. Menutup tirai di jendela yang terkena sinar matahari langsung dapat mengurangi panas yang masuk ke dalam rumah. Cara ini membantu menjaga suhu kamar tetap lebih sejuk hingga malam.

  • Buka jendela saat udara mulai lebih dingin. Jendela sebaiknya dibuka pada pagi atau malam hari ketika suhu di luar lebih rendah dibandingkan di dalam rumah. Sebaliknya, tutup jendela saat siang jika udara luar lebih panas.

  • Manfaatkan ventilasi silang. Membuka pintu atau jendela di sisi rumah yang berbeda akan menciptakan aliran udara alami sehingga panas yang terperangkap di dalam ruangan dapat keluar.

  • Gunakan kipas angin dengan bijak. Kipas angin membantu mempercepat penguapan keringat agar tubuh terasa lebih sejuk. Hindari mengarahkan kipas langsung ke wajah sepanjang malam dan tetap perbanyak minum air putih agar tubuh tidak mengalami dehidrasi.

  • Gunakan pakaian dan sprei berbahan adem. Pilih bahan seperti katun atau linen yang mudah menyerap keringat dan memiliki sirkulasi udara lebih baik dibandingkan bahan sintetis.

  • Tidur di ruangan yang lebih sejuk. Jika kamar tidur berada di lantai atas atau menghadap matahari, pertimbangkan untuk sementara tidur di ruangan lain yang suhunya lebih rendah selama cuaca panas berlangsung.

  • Manfaatkan alat pendingin sederhana. Bantal pendingin, kompres dingin, atau kantong es yang dibungkus kain dapat membantu mengurangi rasa gerah. Gunakan kantong es yang telah dibungkus kain agar kulit terlindungi dari paparan suhu dingin secara langsung.

Penelitian dari Universitas Diponegoro terhadap 16 mahasiswa di Semarang menemukan bahwa baik ventilasi alami maupun mekanis memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ventilasi alami meningkatkan kualitas udara dengan menurunkan kadar CO2, tapi juga meningkatkan kelembapan yang menurunkan efisiensi tidur.

Sebaliknya, ventilasi mekanis seperti kipas angin meningkatkan efisiensi tidur tapi meningkatkan kadar CO2 dan menimbulkan kebisingan dari motor kipas.

Kesimpulan dari penelitian ini? Kombinasi keduanya, ditambah kontrol kelembapan, adalah kunci untuk tidur yang lebih baik di iklim tropis seperti Semarang.


Malam ini, kalau kamu terbangun lagi karena gerah, ingat: ini bukan salahmu. Ini adalah kombinasi dari posisi matahari, efek pulau panas perkotaan, perubahan iklim, dan bangunan-bangunan kota yang menyerap panas sepanjang hari.

Tapi dengan sedikit penyesuaian—membuka jendela saat udara dingin, menutup tirai saat siang, dan memilih sprei yang tepat—tidur nyenyak di tengah malam Semarang yang gerah bukan lagi mimpi. Yang penting, jangan menyerah dan jangan lupa minum air putih.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.