Jateng

MotoGP Mandalika 2026: Acosta dan Marquez Saling Memberi Posisi demi Hindari Penalti

Theo Adi Pratama | 11 Oktober 2026, 19:29 WIB
MotoGP Mandalika 2026: Acosta dan Marquez Saling Memberi Posisi demi Hindari Penalti

JATENG.AKURAT.CO, Pedro Acosta melampiaskan kekesalannya terhadap regulasi tekanan ban MotoGP setelah balapan utama GP Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Minggu (11/10/2026).

Pembalap Red Bull KTM Factory Racing itu menyebut dirinya dan Marc Marquez “tampak seperti keledai” karena terpaksa saling memberikan posisi di lintasan demi menghindari penalti waktu 16 detik. Insiden ini menjadi puncak dari kekecewaan yang menumpuk sepanjang akhir pekan, setelah Jorge Martin juga kehilangan kemenangan di Sprint Race akibat masalah tekanan ban yang sama.

Aturan tekanan ban minimum yang diberlakukan Michelin memang telah lama menjadi sumber kontroversi di paddock MotoGP.

Para pembalap harus menjaga tekanan ban depan tetap di atas 1,80 bar selama 60 persen jarak balapan, dan aturan ini sulit diprediksi karena tekanan ban berubah tergantung apakah pembalap berada di udara bersih atau terjebak di belakang motor lain.

Kritik Pedro Acosta terhadap aturan tekanan ban MotoGP Mandalika 2026 ini menjadi salah satu suara paling lantang yang pernah disampaikan pembalap terhadap regulasi tersebut.

Baca Juga: Patah Tangan, Fermin Aldeguer Harus Operasi Usai MotoGP Mandalika 2026

Kronologi Duel Aneh di Mandalika

Balapan utama GP Indonesia 2026 berlangsung 27 lap di bawah terik matahari Lombok. Acosta yang start dari posisi kesembilan tampil impresif dan berhasil menyalip Marc Marquez untuk merebut posisi keempat pada lap ketujuh. Namun, setelah berada di udara bersih, tekanan ban depan Michelin miliknya justru turun drastis dan memicu peringatan di dasbor.

Ia pun terpaksa memperlambat laju dan membiarkan Marquez menyalipnya kembali. Selama 10 hingga 12 lap berikutnya, kedua pembalap itu terlibat pertukaran posisi yang membingungkan penonton.

Acosta dan Marquez saling menyalip lalu saling memberi jalan, dalam sebuah tarian aneh yang lebih mirip balap sepeda velodrome daripada balapan MotoGP. Situasi ini pada akhirnya membuka peluang bagi Ai Ogura dari Trackhouse Aprilia untuk menyalip keduanya dan mengunci posisi keempat.

Baca Juga: Marquez Akhiri Tren Buruk di Mandalika, Finis Keenam dan Menangi Sprint

“Kita Tampak Seperti Keledai”

Dalam sesi wawancara usai balapan, Acosta tidak menyembunyikan frustrasinya. “Kita tampak seperti keledai,” ujarnya dikutip dari Crash.net dan The Race. “Saya rasa dia (Marquez) mengalami masalah yang sama dengan saya, karena dia juga membiarkan saya lewat.”

Acosta menjelaskan bahwa masalah utamanya bukan terletak pada kesalahan pembalap atau tim, melainkan pada sistem yang tidak dapat diprediksi.

“Saya paham kita harus memiliki tekanan minimum sebelum balapan dimulai. Tetapi kita tidak bisa menentukan apa yang akan terjadi selama balapan berlangsung,” katanya. “Kemarin Martin mengalami hal yang sama. Kita tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan pembalap lain.”

Aturan yang Sulit Diprediksi

Regulasi tekanan ban MotoGP 2026 memang menjadi momok bagi banyak tim. Sejak diperkenalkan pada 2023, sistem pemantauan tekanan ban real-time ini mewajibkan pembalap menjaga tekanan ban depan minimal 1,80 bar selama 60 persen putaran di balapan utama, atau 30 persen di Sprint Race.

Pelanggaran berujung pada penalti waktu 16 detik di balapan utama atau 8 detik di Sprint. Masalahnya, tekanan ban sangat bergantung pada suhu dan posisi pembalap di lintasan. Ketika berada di udara bersih, suhu ban menurun sehingga tekanan ikut turun.

Sebaliknya, ketika berada di belakang motor lain, suhu dan tekanan ban justru naik. Inilah yang membuat perhitungan tekanan awal menjadi tebak-tebakan yang hampir mustahil dilakukan dengan akurat.

Dampak bagi Acosta dan Marquez

Bagi Acosta, insiden ini bukan hanya soal gengsi, tetapi juga merugikan secara kompetitif. Ia kehilangan banyak waktu berharga akibat harus berulang kali memberi jalan kepada Marquez.

“Saya berjuang sepanjang balapan dengan tekanan ban depan dan kehilangan banyak waktu, membiarkan Marc lewat, lalu menyalipnya lagi, lalu membiarkannya lewat lagi,” jelasnya. “Lalu Ogura menangkap kami dan dia lebih cepat. Saya rasa kami sudah mengambil hasil maksimal yang bisa kami ambil.”

Marc Marquez sendiri mengakui bahwa ia juga sempat mengalami masalah tekanan ban, meskipun tidak sebesar yang dialami Acosta. Marquez menyatakan bahwa ban depannya masih dalam kondisi yang terkendali.

Penalti yang Menimpa Pembalap Lain

Masalah tekanan ban tidak hanya menghantam Acosta. Maverick Vinales dari KTM Tech3 menerima penalti 16 detik karena gagal memenuhi persyaratan tekanan minimum, meskipun penalti tersebut tidak mengubah posisinya yang sudah berada di urutan terakhir di antara pembalap yang finis.

Jorge Martin juga menjadi korban aturan ini pada Sprint Race hari Sabtu, di mana ia terpaksa melepaskan keunggulan kepada Marquez dan harus puas finis keempat.

Kejadian-kejadian ini semakin memperkuat argumen bahwa aturan tekanan ban saat ini lebih banyak menimbulkan drama dan ketidakadilan daripada manfaat keselamatan yang nyata.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.