Jateng

Tiga Hari Kendalikan Bara TPA Jatibarang, Pemkot Semarang Terapkan Teknologi Thermal

Muhammad Husni Mushonifi | 9 Oktober 2026, 09:01 WIB
Tiga Hari Kendalikan Bara TPA Jatibarang, Pemkot Semarang Terapkan Teknologi Thermal

JATENG.AKURAT.CO, Pemerintah Kota Semarang menerapkan strategi baru dalam menangani kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang. Berbekal pengalaman kebakaran pada 2023, petugas kini mengoptimalkan penggunaan alat berat, penyiraman, serta teknologi kamera thermal untuk mendeteksi bara api yang tersembunyi di balik tumpukan sampah.

Perubahan metode tersebut dinilai mempercepat proses pengendalian kebakaran. Jika pada 2023 pemadaman membutuhkan waktu lebih dari satu bulan, dalam kejadian terbaru bara api di permukaan TPA Jatibarang dapat dikendalikan dalam waktu sekitar tiga hari.

Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, mengatakan pengalaman penanganan kebakaran sebelumnya menjadi pelajaran penting bagi tim di lapangan. Evaluasi tersebut mendorong petugas mengambil langkah lebih cepat dalam menjangkau sumber panas yang berada di antara timbunan sampah.

“Kalau kita bandingkan dengan 2023, dulu kita baku hantam sampai satu bulan lebih. Alhamdulillah kemarin dalam tiga hari bara api sudah tidak terlihat lagi. Pengalaman dulu jadi pelajaran berharga sehingga metode penyelesaian tim di lapangan sekarang jauh lebih cepat dan berani,” ujar Iswar, Kamis (8/10/2026).

Menurut dia, keberhasilan mengendalikan bara di permukaan tidak serta-merta menghilangkan seluruh risiko kebakaran. Titik panas yang masih tersimpan di bagian dalam timbunan sampah tetap berpotensi memicu api kembali apabila tidak ditangani hingga benar-benar dingin.

Karena itu, Pemkot Semarang mengubah pendekatan penanganan dengan lebih aktif membongkar timbunan sampah yang diduga menjadi sumber bara.

Alat Berat dan Penyiraman Jadi Strategi Utama

Iswar menjelaskan, salah satu perbedaan penanganan saat ini dibandingkan kejadian 2023 adalah keberanian petugas menggunakan alat berat untuk menjangkau titik-titik yang berpotensi menyimpan bara api.

Pada penanganan sebelumnya, petugas masih menghadapi keraguan untuk mendekatkan alat berat ke area yang terbakar. Kini, pengalaman tersebut membuat tim lebih siap melakukan pembongkaran dan pemindahan material sampah yang masih menyimpan panas.

Metode yang diterapkan dilakukan secara berulang, yakni mengeruk timbunan sampah, memindahkan material, kemudian menyiramnya menggunakan air untuk menurunkan suhu.

“Dulu kita masih takut mendekati api dengan beko (alat berat). Sekarang teman-teman sudah belajar dan jauh lebih berani. Metodenya langsung garuk, pindahkan, siram. Garuk, pindahkan, siram,” jelasnya.

Pola tersebut memungkinkan petugas menjangkau bagian dalam timbunan yang tidak dapat ditangani hanya melalui penyiraman dari permukaan. Dengan membuka lapisan sampah, sumber panas dapat ditemukan dan didinginkan secara lebih efektif.

Langkah ini juga menjadi bagian penting dalam mencegah munculnya kembali api setelah kobaran di permukaan berhasil dikendalikan.

Kamera Thermal Bantu Temukan Titik Panas Tersembunyi

Selain mengandalkan alat berat dan pasokan air, Pemkot Semarang memanfaatkan teknologi kamera thermal untuk memetakan titik panas di kawasan TPA Jatibarang.

Perangkat tersebut digunakan dalam bentuk kamera thermal maupun drone thermal. Teknologi ini memungkinkan petugas memantau perbedaan suhu pada timbunan sampah, termasuk area yang secara visual tidak menunjukkan kobaran api.

Iswar menilai penggunaan perangkat tersebut membantu petugas menentukan lokasi yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Dengan mengetahui titik panas secara lebih akurat, proses pendinginan dapat dilakukan tanpa harus menunggu munculnya api atau asap tebal.

“Teknologi ini sangat membantu, baik teropong maupun drone thermal. Kamera thermal bisa mendiagnosa titik-titik mana yang menyimpan potensi bara api berdasarkan jarak dan suhunya,” katanya.

Dia menjelaskan, permukaan timbunan sampah yang tampak aman belum tentu menandakan seluruh bagian di bawahnya telah dingin. Hasil pemantauan thermal menjadi salah satu acuan untuk memastikan apakah masih terdapat sumber panas yang perlu ditangani.

“Meski dari luar terlihat padam, kalau di kamera masih berwarna merah, artinya bawahnya masih panas,” lanjut Iswar.

Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan membantu petugas mengidentifikasi potensi kebakaran berulang sekaligus menentukan prioritas lokasi pendinginan.

Pemantauan Thermal Bakal Dilakukan Rutin

Belajar dari kejadian tersebut, Pemkot Semarang berencana memasukkan pemantauan menggunakan perangkat thermal ke dalam prosedur operasional pengelolaan TPA Jatibarang.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang diminta memperkuat langkah pencegahan dengan melakukan pemeriksaan suhu secara berkala. Upaya ini terutama diperlukan ketika kondisi cuaca memasuki musim kemarau, saat risiko munculnya titik panas di timbunan sampah perlu diantisipasi.

Iswar menegaskan, penanganan tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman setelah api terlihat membesar. Deteksi dini dan pendinginan harus menjadi bagian dari upaya rutin untuk mengurangi potensi kebakaran.

Dengan pemeriksaan suhu secara berkala, titik panas diharapkan dapat diketahui lebih awal sehingga petugas bisa segera mengambil tindakan sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Personel dan Pasokan Air Harus Siaga 24 Jam

Selain memperkuat sistem deteksi, Pemkot Semarang meminta kesiapsiagaan personel dan sarana pendukung penanganan kebakaran di TPA Jatibarang tetap terjaga selama 24 jam.

Kesiapan tersebut mencakup ketersediaan sumber air, peralatan pemantauan suhu, serta dukungan operasional yang diperlukan untuk melakukan pendinginan ketika ditemukan titik panas.

Iswar juga meminta pemeriksaan menggunakan kamera thermal dilakukan secara berkala pada pagi, sore, dan malam hari. Pemeriksaan pada beberapa waktu tersebut diperlukan agar perubahan suhu di area timbunan sampah dapat terus dipantau.

“Jaga 24 jam itu wajib, tapi sarana prasarananya juga harus dilengkapi. Pagi, sore, dan malam hari dicek terus dengan thermal,” tegasnya.

Dia mengingatkan, setiap indikasi titik panas harus segera ditindaklanjuti. Petugas DLH diminta tidak menunda pendinginan apabila hasil pemantauan menunjukkan adanya bagian timbunan yang masih menyimpan panas.

“Begitu terlihat ada warna merah di bawah tumpukan sampah, petugas DLH harus langsung melakukan pendinginan dengan sumber air yang disiapkan. Jangan tunggu sampai apinya membesar dan asapnya tinggi baru kita sibuk penanganan,” pungkas Iswar.

Melalui strategi tersebut, Pemkot Semarang berupaya memperkuat sistem pengendalian kebakaran di TPA Jatibarang dengan mengutamakan deteksi dini, pemantauan suhu, serta pendinginan secara cepat dan terukur.

Pengalaman kebakaran pada 2023 menjadi dasar bagi pemerintah kota untuk meningkatkan kesiapan petugas dan mengoptimalkan teknologi, sehingga potensi kebakaran di kawasan pengolahan sampah dapat diketahui serta ditangani sebelum berkembang lebih besar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.