Nyawa Bocah Pemalang Melayang, Jateng Tak Ingin Luka Perundungan Terulang

JATENG.AKURAT.CO, Meninggalnya seorang siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, setelah diduga menjadi korban perundungan menjadi duka sekaligus peringatan keras bagi dunia pendidikan di Jawa Tengah. Tragedi yang merenggut nyawa bocah berinisial A (7) itu mendorong pemerintah memperketat pengawasan terhadap aktivitas siswa di lingkungan sekolah.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan tidak ingin peristiwa serupa kembali terjadi. Ia meminta seluruh satuan pendidikan meningkatkan pengawasan terhadap anak didik dan memperkuat upaya pencegahan kekerasan maupun perundungan.
"Saya sudah perintahkan Dinas Pendidikan, jadi di tempat kita seluruh sekolah harus zero bullying dengan mengedepankan edukasi yang kita lakukan," kata Luthfi saat ditemui seusai acara di Universitas Diponegoro, Rabu (7/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan setelah kasus perundungan di Pemalang berujung pada kehilangan nyawa. A meninggal dunia pada Rabu (30/9/2026), setelah sebelumnya menjalani perawatan di RSUD dr M Ashari Pemalang sejak Kamis (17/9/2026).
Kasus tersebut kini masih dalam penyelidikan kepolisian. Dugaan perundungan terhadap korban disebut melibatkan kakak kelasnya.
Bagi pemerintah, peristiwa itu menjadi pengingat bahwa pengawasan di sekolah tidak boleh berhenti sebatas keberadaan guru di ruang kelas. Celah pengawasan pada waktu istirahat, lingkungan sekolah, hingga setelah jam pelajaran berakhir juga harus menjadi perhatian.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Sadimin mengatakan berbagai program pencegahan kekerasan sebenarnya telah diterapkan di satuan pendidikan. Mulai dari gerakan sekolah ramah anak hingga pembentukan tim pencegahan dan penanganan kekerasan.
Namun, menurut dia, seluruh program tersebut harus terus dievaluasi dan dimaksimalkan agar tidak berhenti sebatas kebijakan.
"Imbauan sudah, gerakan sekolah ramah anak sudah, kemudian ada tim pencegahan dan penanganan kekerasan juga sudah ada. Ini tinggal dimaksimalkan saja, tentu dengan evaluasi tentang kelemahannya apa saja," ujar Sadimin.
Meski pendidikan SD dan SMP berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten/kota, Pemprov Jateng memastikan tetap ikut memantau penanganan kasus di Pemalang.
Sadimin mengatakan koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Pemalang terus dilakukan agar perlindungan terhadap anak dapat berjalan bersama.
"Kita kolaborasi dan koordinasi dengan dinas pendidikan Kabupaten Pemalang. Intinya bareng-bareng anak-anak kita dijaga," katanya.
Tidak hanya di Pemalang, pengawasan juga diminta diperkuat di seluruh daerah Jawa Tengah. Sekolah diminta memastikan setiap anak berada dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari tindakan kekerasan.
Sadimin bahkan mengingatkan pengawasan harus dilakukan pada waktu-waktu yang selama ini berpotensi luput dari perhatian, termasuk saat jam istirahat dan ketika kegiatan belajar telah selesai.
"Teman-teman di lapangan untuk selalu peduli di sekolah masing-masing. Misal di saat jam istirahat dipantau, kalau tidak ada CCTV ya memantau langsung," katanya.
Menurutnya, guru juga tidak boleh meninggalkan sekolah sebelum seluruh siswa meninggalkan lingkungan sekolah. Sistem piket perlu diperkuat sehingga anak tetap berada dalam pengawasan orang dewasa.
"Jangan sampai anak masih ada di sekolah tapi guru sudah pulang. Tetap tunggu sampai anak-anak di sekolah habis, perlu ada piket, supaya anak tetap dipantau di lingkungan sekolah," tegasnya.
Tragedi di Pemalang membuat pesan tersebut menjadi jauh lebih penting. Perundungan bukan sekadar persoalan kenakalan anak atau konflik antarsiswa. Ketika tidak terdeteksi dan ditangani sejak awal, tindakan kekerasan dapat meninggalkan luka panjang, bahkan dalam kasus A berujung pada kehilangan nyawa.
Karena itu, Dinas Pendidikan Jateng meminta sekolah tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga memastikan setiap anak merasa aman ketika berada di lingkungan pendidikan.
"Kami tetap ingatkan teman-teman di satuan pendidikan untuk selalu meningkatkan kewaspadaan. Jadi harapannya kita zero bullying," ungkap Sadimin.
Harapan tersebut kini berpijak pada satu kenyataan pahit: seorang anak telah kehilangan kesempatan untuk kembali belajar, bermain, dan tumbuh bersama teman-temannya.
Jangan sampai kematian A di Pemalang hanya menjadi berita duka yang kemudian dilupakan. Bagi dunia pendidikan, tragedi tersebut seharusnya menjadi momentum untuk memastikan tidak ada lagi anak yang datang ke sekolah dengan rasa takut, mengalami kekerasan dalam diam, atau kehilangan nyawa karena perundungan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1FAR Adukan Proyek Pakuwon Mall Gombel ke KPK, Soroti Dugaan Pelanggaran Amdal dan Kerusakan Rumah Warga
- 2FAR Soroti Dugaan Pelanggaran Sempadan, Pembangunan Hotel KoenoKoeni Disomasi
- 3Peluang Karier BPO di Surakarta: PT Sinar Hawila Indah Buka 10 Posisi Strategis
- 4BREAKING: Lionel Messi Resmi Pensiun dari Timnas Argentina, Akhiri Era 21 Tahun
- 57 Launcher Android Paling Ringan 2026, Ada yang Cuma 250 KB dan Hemat RAM
- 6Baseus MC2 NC Resmi Meluncur Harga Rp1,8 Jutaan, Bawa ANC -50dB, LDAC, AI, dan Baterai 60 Jam
- 7Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Dorong Semarang Great Event 2026 Gerakkan Ekonomi Kota
- 8YouTube Mulai Berantas Konten Reupload di Shorts, Clipper Siap-Siap
- 9Polres Pemalang Gelar Konferensi Pers Kasus Meninggalnya Pelajar SD
- 10Launcher Bawaan Bikin Bosan? Coba 8 Alternatif Android Terbaik 2026 Ini





