Jateng

Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946

Muhammad Husni Mushonifi | 13 Oktober 2026, 18:47 WIB
Kisah Heroik H Soekaimi, Komandan Hizbullah Mranggen yang Gugur Ditembak Belanda pada 1946
Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PCNU Kota Semarang, M Kholidul Adib

JATENG.AKURAT.CO, Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di wilayah Semarang dan sekitarnya tidak bisa dilepaskan dari peran para santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah. Salah satu sosok yang tercatat dalam sejarah perlawanan tersebut adalah H Soekaimi, komandan Laskar Hizbullah Mranggen yang gugur setelah terjebak serangan pasukan Belanda di Karangingas, kawasan Genuk, pada Juli 1946.

Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PCNU Kota Semarang, M Kholidul Adib, mengungkapkan bahwa perjuangan H Soekaimi menjadi bagian penting dari sejarah keterlibatan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Menurutnya, perjuangan para anggota Hizbullah tidak hanya berlangsung di medan pertempuran besar, tetapi juga di wilayah-wilayah strategis yang menjadi jalur pertahanan untuk membendung pergerakan pasukan Sekutu dan Belanda menuju pedalaman Jawa Tengah.

“Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya dibangun oleh tentara reguler, tetapi juga oleh para santri dan ulama yang mengambil peran langsung di medan pertempuran. H Soekaimi merupakan salah satu tokoh pejuang lokal yang mengorbankan nyawanya demi mempertahankan kemerdekaan,” ujar Kholidul Adib dalam keterangannya mengenai sejarah Laskar Hizbullah di Mranggen.

Ia menjelaskan, H Soekaimi dipercaya memimpin pasukan Hizbullah di sektor timur Semarang. Penunjukan tersebut tidak terlepas dari konsolidasi kekuatan santri yang dilakukan para ulama di wilayah Mranggen, Kabupaten Demak, untuk menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial.

Pada masa revolusi fisik 1945–1949, kawasan Semarang bagian timur dan tenggara menjadi salah satu wilayah penting dalam pertahanan para pejuang Indonesia. Daerah tersebut terhubung dengan jalur menuju Mranggen, Gubug, hingga Purwodadi yang memiliki arti strategis bagi pergerakan pasukan.

Salah satu pusat koordinasi pertahanan saat itu adalah Markas Medan Tenggara (MMTG). Markas tersebut mengoordinasikan berbagai unsur perjuangan, mulai dari laskar rakyat, Tentara Pelajar, hingga Laskar Hizbullah yang beranggotakan banyak kalangan santri.

“Keberadaan Markas Medan Tenggara menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan dilakukan melalui pengorganisasian kekuatan di berbagai wilayah. Mranggen memiliki posisi strategis karena menjadi bagian dari kawasan pertahanan di sisi timur Semarang,” jelasnya.

Peran Ulama dalam Mengonsolidasikan Laskar Hizbullah

Kholidul Adib memaparkan, kekuatan Hizbullah di wilayah Demak dan Semarang berkembang melalui pembinaan para kiai. Di Mranggen, konsolidasi pasukan santri dilakukan dalam Batalyon Bintoro yang berafiliasi dengan Barisan Hizbullah Divisi Semarang.

Sejumlah tokoh ulama yang berperan dalam pengembangan kekuatan tersebut di antaranya KH Muslih Abdurrahman dari Mranggen dan KH Abdullah Dainuri dari Sendangguwo.

KH Muslih Abdurrahman, yang dikenal sebagai mursyid tarekat sekaligus pengasuh Pesantren Futuhiyyah Mranggen, turut menggerakkan para santri dan pemuda untuk terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Bersama KH Abdullah Dainuri, ia membantu mengonsolidasikan kekuatan Laskar Hizbullah di kawasan tersebut.

Para anggota laskar tidak hanya memperoleh pembekalan kemampuan dasar kemiliteran, tetapi juga penguatan spiritual dan mental. Bekal tersebut menjadi bagian dari upaya membangun keberanian para pejuang dalam menghadapi situasi perang yang penuh risiko.

“Peran ulama pada masa itu tidak berhenti pada pembinaan keagamaan. Mereka juga ikut menggerakkan dan mengorganisasi para santri agar terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ini menjadi bukti bahwa pesantren memiliki kontribusi penting dalam sejarah bangsa,” ungkap Kholidul.

Dalam struktur pertahanan tersebut, H Soekaimi mendapat kepercayaan sebagai komandan lapangan di sektor timur. Ia bertugas memimpin pergerakan pasukan sekaligus mendukung pertahanan wilayah Mranggen dan sekitarnya dari ancaman serangan musuh.

Terjebak Serangan Mendadak di Karangingas

Perjalanan perjuangan H Soekaimi berakhir dalam sebuah operasi pengamatan yang berujung tragis. Mengutip buku Hizbullah Surakarta 1945–1950 karya Soepanto, Kholidul menjelaskan bahwa H Soekaimi gugur bersama lima anggota Laskar Hizbullah lainnya dalam peristiwa di Karangingas, kawasan Genuk.

Keenam pejuang tersebut mendapat tugas melakukan pengamatan di wilayah Tlogotimun, Genuk. Mereka direncanakan berangkat pada pagi hari setelah salat Subuh, 30 Juli 1946, dengan membawa senjata karabin.

Namun, pergerakan mereka diduga telah diketahui pihak lawan melalui jaringan mata-mata. Ketika memasuki kawasan Karangingas, para pejuang tersebut justru menghadapi serangan dari beberapa arah.

“Dalam catatan sejarah yang kami rujuk, H Soekaimi bersama lima anggota Hizbullah lainnya gugur setelah terjebak serangan musuh. Mereka menjalankan tugas pengamatan, tetapi pergerakan tersebut telah diketahui lawan sehingga berujung pada pertempuran yang merenggut nyawa keenam pejuang,” kata Kholidul.

Ia menambahkan, situasi setelah pertempuran juga menyulitkan proses evakuasi jenazah. Ketatnya penjagaan pihak lawan membuat jenazah para pejuang baru dapat diambil setelah tiga hari sejak peristiwa tersebut.

Enam pejuang yang gugur dalam kejadian itu adalah H Soekaimi, komandan Hizbullah Cie I Batalyon II Mranggen; Mustajab dari pasukan Gaco yang berasal dari Palur, Karanganyar; Rebo, mantan anggota Kaigun asal Mranggen; Tamsiri dari Solo; serta Mahmudi dan Musran.

Menurut Kholidul, peristiwa tersebut memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi para anggota laskar dalam mempertahankan kemerdekaan. Mereka tidak hanya menghadapi keterbatasan persenjataan, tetapi juga ancaman penyergapan dan informasi yang bocor kepada pihak lawan.

“Pengorbanan mereka menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak dipertahankan dengan mudah. Ada para pejuang di tingkat lokal yang harus menghadapi situasi sangat berat, bahkan kehilangan nyawa ketika menjalankan tugas,” tuturnya.

H Soekaimi Dimakamkan di Belakang Masjid Kauman Mranggen

Setelah tiga hari sejak peristiwa tersebut, jenazah H Soekaimi dan lima rekannya berhasil dievakuasi. Mereka kemudian dimakamkan pada 3 Agustus 1946 di kompleks Masjid Baiturrahman, Kauman, Mranggen, Kabupaten Demak.

Dalam perkembangannya, lima jenazah rekan H Soekaimi dipindahkan ke makam pahlawan di Semarang dan Solo. Sementara itu, makam H Soekaimi tetap berada di belakang Masjid Kauman Mranggen sesuai dengan keinginan keluarganya.

Bagi Kholidul, keberadaan makam tersebut memiliki arti penting dalam menjaga ingatan masyarakat terhadap sejarah perjuangan di wilayah Mranggen dan Semarang bagian timur.

Makam itu bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang pejuang, melainkan juga pengingat tentang kontribusi kalangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Keberadaan makam H Soekaimi menjadi pengingat bahwa di balik kemerdekaan yang kita nikmati sekarang, terdapat pengorbanan para pejuang yang mungkin belum banyak dikenal masyarakat. Karena itu, sejarah mereka perlu terus digali, ditulis, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.

Ia menilai, pengenalan kembali tokoh-tokoh pejuang lokal penting dilakukan agar generasi muda tidak hanya mengenal sejarah perjuangan dari nama-nama besar yang tercatat dalam buku sejarah nasional. Para pejuang di daerah juga memiliki peran yang tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa.

“Generasi muda, khususnya kalangan santri, perlu memahami bahwa perjuangan para pendahulu bukan hanya tentang pertempuran, melainkan juga tentang tanggung jawab, keberanian, persatuan, dan kesediaan berkorban demi kepentingan bangsa,” pungkas Kholidul.

Kisah H Soekaimi menjadi salah satu bukti bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Dari lingkungan pesantren di Mranggen hingga garis pertahanan di kawasan timur Semarang, para santri dan ulama turut mengambil bagian dalam perjuangan panjang yang menjadi fondasi berdirinya Indonesia sebagai negara merdeka.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.