Jateng

Target Operasi 2031, Proyek Geotermal Gunung Ungaran Masih Bergantung Hasil Eksplorasi dan Kajian Lingkungan

Muhammad Husni Mushonifi | 13 Oktober 2026, 18:49 WIB
Target Operasi 2031, Proyek Geotermal Gunung Ungaran Masih Bergantung Hasil Eksplorasi dan Kajian Lingkungan

JATENG.AKURAT.CO, Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran, Jawa Tengah, masih menghadapi sejumlah tahapan penting sebelum dapat direalisasikan. Di tengah target operasi pada 2031, hasil eksplorasi, kelayakan teknis, perlindungan lingkungan, dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor yang menentukan arah pengembangan proyek tersebut.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut proyek panas bumi Gunung Ungaran masih berada dalam tahap eksplorasi dan studi kelayakan. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pembangkit tersebut direncanakan memiliki kapasitas sekitar 55 megawatt (MW).

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyampaikan bahwa pengembangan proyek dilakukan melalui kajian teknis serta pemenuhan ketentuan lingkungan yang berlaku. Dengan demikian, target pengoperasian pada 2031 masih bergantung pada hasil tahapan yang sedang berjalan.

Di tengah proses tersebut, Guru Besar Fisika Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip), Agus Setyawan, menilai pembahasan mengenai geotermal Gunung Ungaran perlu dilakukan secara terbuka dan berdasarkan bukti ilmiah. Menurutnya, potensi energi panas bumi harus dikaji secara menyeluruh agar pemanfaatannya dapat memberikan manfaat tanpa mengabaikan perlindungan lingkungan.

Pandangan itu disampaikan Agus dalam acara Suluk Senen Pahingan #43 bertajuk Panas Bumi: Mitos dan Sains di Joglo Pondok Pesantren Al-Itqon, Pedurungan, Kota Semarang, Minggu (11/10/2026) malam.

Agus menjelaskan, panas bumi merupakan salah satu sumber energi yang dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Dalam sistem ketenagalistrikan, energi tersebut dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik dengan emisi yang secara umum lebih rendah dibandingkan pembangkit berbasis bahan bakar fosil.

“Secara umum rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi menghasilkan emisi gas rumah kaca seperti CO2, SOx, NOx, dan partikulat yang sangat rendah dibandingkan pembangkit berbasis bahan bakar fosil,” kata Agus.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa setiap sistem panas bumi memiliki karakteristik berbeda. Kandungan gas dalam fluida reservoir, kondisi geologi, serta teknologi yang digunakan dapat memengaruhi tingkat emisi dan pengelolaan lingkungan di sekitar pembangkit.

Karena itu, potensi geotermal Gunung Ungaran tidak cukup dinilai hanya berdasarkan besarnya kapasitas listrik yang direncanakan. Penelitian mengenai kondisi bawah permukaan dan karakteristik fluida panas bumi diperlukan untuk menentukan teknologi yang sesuai sekaligus memetakan potensi dampak yang perlu diantisipasi.

Hasil Eksplorasi Menjadi Dasar Penentuan Teknologi

Menurut Agus, eksplorasi memiliki peran penting untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai karakteristik sumber daya panas bumi. Data yang dihasilkan dapat menjadi dasar dalam menentukan kelayakan pemanfaatan energi, rancangan pembangkit, dan langkah pengelolaan lingkungan.

Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah kandungan gas alami dalam fluida panas bumi. Fluida dari reservoir dapat membawa karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S), sehingga karakteristiknya harus diketahui sebelum sistem pembangkitan ditentukan.

“Namun, jumlah hasil emisi dapat berbeda-beda, tergantung pada karakteristik fluida dan penggunaan teknologi pembangkit,” jelasnya.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, kajian teknis dan lingkungan perlu berjalan beriringan. Penilaian tidak hanya mencakup kemampuan sumber daya menghasilkan listrik, tetapi juga bagaimana potensi emisi dan dampak lainnya dapat dikendalikan selama proyek berlangsung.

Agus menilai pendekatan berbasis data diperlukan agar pembahasan mengenai geotermal tidak terjebak pada anggapan yang belum teruji. Informasi ilmiah harus menjadi landasan untuk menjelaskan potensi, keterbatasan, serta langkah mitigasi yang diperlukan dalam pengembangan panas bumi.

Pengelolaan Panas Bumi Tidak Berhenti pada Pembangunan Pembangkit

Selain tahap eksplorasi, keberlanjutan pemanfaatan panas bumi juga ditentukan oleh pengelolaan reservoir selama pembangkit beroperasi.

Agus menjelaskan, salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah reinjeksi, yaitu mengembalikan fluida yang telah dimanfaatkan ke dalam reservoir melalui sistem yang dirancang sesuai kondisi lapangan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari pengelolaan fluida untuk mengurangi pembuangan ke lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan operasi lapangan panas bumi.

“Fluida yang sudah tidak berguna akan direinjeksikan kembali ke reservoir sehingga akan mengurangi pembuangan limbah berbahaya yang merusak ekosistem,” ujarnya.

Namun, pelaksanaan reinjeksi dan pengelolaan reservoir tetap harus disesuaikan dengan karakteristik geologi serta hasil kajian teknis. Pengawasan lingkungan juga diperlukan untuk memastikan kegiatan operasional berlangsung sesuai ketentuan.

Agus mencontohkan lapangan panas bumi Kamojang di Jawa Barat sebagai salah satu pengalaman pemanfaatan energi geotermal dalam jangka panjang. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya secara konsisten.

Keberlanjutan pembangkit, lanjutnya, bukan semata-mata ditentukan oleh ketersediaan panas di dalam bumi. Pengelolaan reservoir, pemeliharaan fasilitas, dan perhatian terhadap lingkungan juga berperan dalam menjaga keandalan pasokan listrik.

Perbedaan Pendapat Perlu Dijawab dengan Dialog

Di luar persoalan teknis, Agus menilai komunikasi dengan masyarakat menjadi bagian penting dalam rencana pengembangan geotermal Gunung Ungaran.

Ia mendorong agar warga memperoleh informasi yang memadai mengenai hasil eksplorasi, potensi pemanfaatan energi, serta kemungkinan dampak terhadap lingkungan. Masyarakat juga perlu mendapat ruang untuk menyampaikan aspirasi dan pertanyaan sejak tahap perencanaan.

Menurut Agus, perbedaan pandangan mengenai rencana proyek tidak semestinya membuat komunikasi antara pihak yang mendukung dan menolak pengembangan panas bumi terhenti.

Sebaliknya, perbedaan tersebut perlu dibahas melalui dialog terbuka dengan mengacu pada hasil penelitian, ketentuan pemerintah, dan pertimbangan lingkungan.

“Intinya, kami sebagai akademisi di bidang ini memaparkan bahwa sistem geotermal itu tidak merusak lingkungan. Ketika ada penentangan, jangan menganggap sebagai oposisi atau berlawanan. Mari kita berembuk bersama supaya geotermal Ungaran yang akan berkembang ini bisa terkelola bersama,” kata Agus.

Ia menegaskan, keterlibatan masyarakat seharusnya tidak hanya dilakukan ketika proyek memasuki tahap pembangunan atau operasional. Partisipasi sejak awal dibutuhkan agar aspirasi warga dapat menjadi bagian dari proses pembahasan dan pengambilan keputusan.

Agus juga mengingatkan bahwa pengembangan panas bumi harus mengikuti prosedur dan peraturan yang berlaku. Potensi manfaat energi terbarukan perlu disertai upaya nyata untuk mengendalikan dampak lingkungan, bukan dijadikan alasan untuk mengabaikan kekhawatiran masyarakat.

“Secara teori, sistem geotermal tidak merusak lingkungan. Mari saling mengikuti prosedur dan peraturan pemerintah yang ada. Jika semua itu terjag, secara normatif dan teori, pengembangan panas bumi tidak bertentangan dengan perlindungan lingkungan, tetapi justru bisa bersinergi,” tuturnya.

Peluang Menambah Pasokan Energi Terbarukan di Jawa Tengah

Apabila terealisasi sesuai perencanaan, PLTP Gunung Ungaran dengan kapasitas sekitar 55 MW berpotensi menambah pasokan listrik berbasis energi terbarukan di Jawa Tengah.

Pemanfaatan panas bumi juga dapat memperluas pilihan sumber energi dalam sistem ketenagalistrikan. Akan tetapi, kontribusinya terhadap pengurangan emisi dan ketahanan pasokan listrik akan bergantung pada hasil pengembangan serta pengelolaan pembangkit dalam jangka panjang.

Dengan target operasi pada 2031, proyek ini masih memerlukan pembuktian melalui eksplorasi dan studi kelayakan. Hasil tahapan tersebut akan menjadi salah satu dasar untuk menentukan apakah sumber daya yang tersedia dapat dikembangkan secara teknis dan ekonomis dengan tetap memenuhi persyaratan lingkungan.

Bagi Agus, pembahasan geotermal Gunung Ungaran harus menempatkan kepentingan energi, kelestarian lingkungan, dan aspirasi masyarakat dalam satu kerangka penilaian.

Kajian ilmiah yang transparan, kepatuhan terhadap peraturan, serta dialog yang melibatkan masyarakat menjadi unsur penting agar keputusan mengenai kelanjutan proyek dapat diambil secara objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.