Jateng

Kemarau Tapi Ada Peringatan Hujan Lebat? BMKG: Ini 13 Provinsi yang Harus Waspada

Theo Adi Pratama | 16 Oktober 2026, 09:09 WIB
Kemarau Tapi Ada Peringatan Hujan Lebat? BMKG: Ini 13 Provinsi yang Harus Waspada
Cuaca hari ini. - Magnific

JATENG.AKURAT.CO, Jumat pagi (16/10/2026) ini, langit Indonesia sedang pura-pura kalem: 76 persen wilayah masih kering kerontang, tapi BMKG sudah ngasih kode kalau hujan lebat sampai sangat lebat siap nyiram 13 provinsi, dari Aceh sampai Papua.

Baca Juga: Asap Karhutla Bikin 1.673 Penerbangan Terganggu, Tapi Pekerja Lapangan Tetap Harus Keluar Rumah

Peringatan Dini Pagi Ini: Siapa yang Kena "Siraman"?

BMKG baru saja merilis peringatan dini cuaca untuk periode 15–17 Oktober 2026.

Hasilnya: nggak ada status Awas, tapi jangan senang dulu. Status Siaga dan Waspada tetap dipasang di sejumlah wilayah.

Ini daftar lengkapnya, biar kamu nggak salah bawa payung:

Siaga (Hujan Lebat – Sangat Lebat):

  • Kepulauan Bangka Belitung

  • Papua Barat Daya

  • Papua

Waspada (Hujan Sedang – Lebat):

  • Aceh

  • Sumatra Utara

  • Riau

  • Jawa Barat

  • Kalimantan Barat

  • Kalimantan Tengah

  • Kalimantan Timur

  • Papua Barat

  • Papua Tengah

  • Papua Pegunungan

Angin Kencang:

  • Banten

  • Jawa Barat

  • Jawa Timur

  • Sulawesi Selatan

Sementara itu, berdasarkan rilis terbaru Kompas TV, wilayah dengan status Siaga hujan lebat hingga sangat lebat juga mencakup Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Papua Barat Daya, dan Papua untuk periode 16–18 Oktober 2026.

Baca Juga: Dilema UU Baru Setelah Disahkan, Buruh Tetap Waswas: Upah Naik, Tapi Pesangon Masih Tanda Tanya

Kenapa Hujan Datang di Tengah Kemarau?

Ini yang bikin banyak orang bingung. Kok masih kemarau, tapi ada peringatan hujan lebat? Jawabannya: dinamika atmosfer lokal.

Sekitar 76 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia memang masih musim kemarau—terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi.

Tapi delapan persen ZOM sudah memasuki musim hujan, dan sisanya berada di masa transisi.

Yang bikin hujan tiba-tiba muncul adalah kombinasi beberapa fenomena:

1. Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif di sebagian Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara.

2. Gelombang Rossby Ekuatorial yang aktif di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra.

3. Gelombang Kelvin yang aktif di sebagian Sumatra Selatan, Bangka Belitung, sebagian besar Kalimantan, pesisir selatan Jawa, sebagian besar Sulawesi, NTT, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

4. Pola pertemuan dan perlambatan angin di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua.

Aktivitas gelombang atmosfer tersebut mendukung pertumbuhan awan hujan secara lokal. Jadi meski secara umum curah hujan rendah, hujan bisa turun tiba-tiba dalam waktu singkat.

Baca Juga: Catatan Hari Parlemen 2026: Capaian 16 UU vs Kepuasan Publik yang Ambruk ke 39 Persen

El Nino Masih "Ngambek", Musim Hujan Mundur

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, sudah buka suara soal kenapa hujan nggak kunjung datang merata. Penyebab utamanya: El Nino yang masih berstatus sangat kuat.

"Terkait datangnya musim hujan, karena ini juga salah satu upaya harapan kita gitu agar musim hujan segera datang, tapi karena El Nino sekarang posisinya sangat kuat, fasenya, sehingga musim hujan di Indonesia itu akan sedikit mundur," ujar Teuku, dikutip Tribunnews.

Wilayah yang terdampak karhutla seperti Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada Oktober ini.

Sementara wilayah lain baru akan mengalami musim hujan secara bertahap pada November hingga Desember 2026.

Baca Juga: Cek Harga Sebelum Belanja! Update Bumbu Dapur Pagi Ini 16 Oktober 2026

Yang Perlu Diwaspadai: Bukan Cuma Basah

BMKG mengategorikan dampak risiko bencana hidrometeorologi dalam tiga level:

  • Level Waspada: Genangan, luapan air sungai, dan tanah longsor yang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.

  • Level Siaga: Banjir, banjir bandang, dan tanah longsor yang berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat, layanan publik, serta infrastruktur.

  • Level Awas: Potensi dampak meluas berupa banjir, banjir bandang, dan tanah longsor yang bisa menghentikan layanan publik dan berisiko terhadap keselamatan jiwa.

Kabar baiknya, status Awas nihil untuk hari ini. Tapi bukan berarti boleh lengah.

Selain hujan lebat, BMKG juga mengeluarkan peringatan gelombang tinggi 2,5–4 meter di Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai hingga Lampung, serta Samudra Hindia selatan Banten hingga Jawa Barat dan Yogyakarta. Nelayan dan pengguna transportasi laut diminta waspada.

Cuaca Panas Masih "Candu" di Kota Besar

Satu hal yang perlu dicatat: meski ada peringatan hujan, beberapa kota besar justru diprediksi hanya berawan atau hujan ringan.

Medan, Pekanbaru, Padang, Tanjung Pinang, Pontianak, dan sejumlah kota lain diprakirakan hujan ringan. Sementara Banda Aceh, Bandar Lampung, Serang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Mataram, dan Kupang diprediksi hanya berawan.

Artinya, buat kamu yang di kota-kota itu, jangan berharap hujan turun deras hari ini. Panas dan gerah masih jadi teman setia.

Tips Biar Nggak "Tumbang" Saat Cuaca Ekstrem

BMKG sudah kasih imbauan. Ini poin-poin pentingnya:

1. Pantau informasi cuaca terkini. Cek aplikasi BMKG atau media terpercaya sebelum beraktivitas di luar ruangan.

2. Siapkan payung atau jas hujan. Hujan lokal bisa turun tiba-tiba meski pagi cerah.

3. Hindari aktivitas di luar ruangan saat cuaca buruk. Terutama saat hujan lebat disertai angin kencang dan petir.

4. Waspada genangan dan longsor. Kalau kamu tinggal di daerah rawan, pastikan saluran air lancar dan waspadai tanda-tanda tanah longsor.

5. Jaga hidrasi. Cuaca panas ekstrem masih mengintai, jadi minum air yang cukup.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.