Jateng

Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!

Muhammad Husni Mushonifi | 15 Oktober 2026, 15:07 WIB
Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Padatnya agenda kegiatan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Dasa Wisma (Dawis) di lingkungan permukiman Kota Semarang menjadi perbincangan hangat di media sosial Threads. Sejumlah perempuan mengeluhkan banyaknya aktivitas rutin warga yang dinilai menyita waktu di tengah kesibukan mengurus rumah tangga maupun bekerja.

Keluhan tersebut mencuat setelah sejumlah pengguna Threads menceritakan pengalaman mereka mengikuti berbagai kegiatan lingkungan, mulai dari pertemuan PKK, arisan, pemilahan sampah, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), hingga kerja bakti membersihkan taman tanaman obat keluarga (TOGA).

Salah satu unggahan datang dari akun @ibucibam yang menyindir bahwa tinggal di kompleks perumahan elite menjadi impian sebagian ibu-ibu di Semarang. Menurutnya, lingkungan tersebut dianggap bisa membuat mereka terhindar dari beragam agenda kemasyarakatan yang selama ini dirasakan merepotkan.

“Cita-cita seluruh ibu-ibu di Semarang: tinggal di cluster elit. Biar ga ribet segala jenis kegiatan PKK, pilah sampah, dawis, psn dan apalah apalah itu,” tulis akun tersebut.

Keluhan serupa disampaikan akun @nateskywalker89 yang mengaku mengalami kejutan budaya setelah pindah ke Semarang. Ia menyoroti banyaknya agenda pertemuan warga yang, menurut pengalamannya, hampir selalu ada setiap pekan.

Selain pertemuan PKK dan arisan, warga juga dihadapkan pada kegiatan pemilahan sampah, pertemuan Dawis, serta gotong royong membersihkan taman TOGA.

Melalui unggahannya, akun tersebut mempertanyakan apakah padatnya kegiatan lingkungan telah mempertimbangkan kesibukan perempuan dalam menjalankan pekerjaan domestik maupun aktivitas di luar rumah.

Ia juga meminta Pemerintah Kota Semarang memberi perhatian terhadap beban kegiatan sosial yang harus dijalani kaum perempuan di tengah tanggung jawab sehari-hari.

“Culture shock pindah ke Semarang: Acara PKK sama Dawisnya banyak benerrr Ya Allah.. Tiap minggu ada aja ketemuannya,” tulisnya dalam unggahan yang menuai perhatian tersebut.

Sindiran lain datang dari akun @intanorii yang menggambarkan warga Semarang seolah memiliki jadwal kegiatan yang tidak pernah sepi. Ia menyebut agenda bulanan seperti PKK, Dawis, pemilahan sampah, pemeriksaan jentik nyamuk, kerja bakti, hingga pengajian sebagai rangkaian aktivitas yang membuat warga merasa sangat sibuk.

“Tau gak orang paling sibuk siapa?? Warga Semarang!!! Tiap bulan ada pkk, dawis, pilah sampah, jentik nyamuk, kerja bakti, pengajian bulanan wes pokoke sibuke ngalahi pejabat,” tulisnya.

Beragam curahan hati tersebut memperlihatkan adanya keresahan sebagian warga terhadap intensitas kegiatan kemasyarakatan di lingkungan tempat tinggal mereka. Persoalan yang disorot bukan semata-mata keberadaan kegiatan PKK dan Dawis, melainkan frekuensi agenda serta waktu yang harus dialokasikan untuk mengikutinya.

Padahal, kegiatan PKK dan Dawis selama ini memiliki peran penting dalam mendorong pemberdayaan keluarga, menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan kepedulian sosial, serta mendukung upaya kesehatan masyarakat. Aktivitas seperti pemilahan sampah dan PSN juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

Namun, pelaksanaan kegiatan tersebut perlu mempertimbangkan kondisi warga yang beragam. Sebagian ibu memiliki pekerjaan formal, menjalankan usaha, mengurus anak, dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang tidak sedikit.

Karena itu, pengaturan jadwal, efektivitas pertemuan, serta pembagian tanggung jawab menjadi hal yang patut diperhatikan agar kegiatan lingkungan tetap berjalan tanpa menambah beban berlebihan bagi kelompok tertentu.

Ramainya keluhan di Threads pun menjadi bahan refleksi mengenai pelaksanaan kegiatan kemasyarakatan di Kota Semarang. Semangat gotong royong dan pemberdayaan warga diharapkan tetap terjaga, tetapi perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap waktu, kebutuhan, dan kemampuan masing-masing warga.

Dengan begitu, kegiatan PKK dan Dawis tidak sekadar menjadi rutinitas yang wajib dihadiri, melainkan benar-benar memberikan manfaat bagi keluarga dan lingkungan tanpa mengorbankan keseimbangan kehidupan pribadi para anggotanya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.