Jateng

Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah

Theo Adi Pratama | 16 Oktober 2026, 07:47 WIB
Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah

JATENG.AKURAT.CO, Jumat pagi (16/10/2026) ini, antrean BBM masih mengular di sejumlah daerah di Indonesia—dari Bali sampai Manado, dari Surabaya sampai Ketapang—dan Ombudsman sudah buka suara soal 11 provinsi yang kena imbasnya.

11 Provinsi Kena Imbas, Antrean Ada yang Sampai 1 Kilometer

Kalau kamu pikir drama BBM cuma terjadi di Bali, kamu salah besar. Ombudsman Republik Indonesia sudah merilis hasil pemantauan mereka, dan hasilnya bikin geleng-geleng kepala: gangguan layanan BBM ditemukan di 11 provinsi sekaligus.

Provinsi-provinsi itu adalah Bali, Papua Barat, Banten, Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Aceh, dan Jawa Barat.

Di beberapa titik, antrean kendaraan bahkan mengular hingga satu kilometer, dengan waktu tunggu mencapai dua sampai tiga jam.

Anggota Ombudsman RI, Abdul Ghoffar, tidak main-main menyoroti persoalan ini.

Menurutnya, indikator keberhasilan pelayanan publik sektor energi tidak bisa hanya diukur dari ketersediaan stok di depot atau terminal penyimpanan.

"Antrean panjang yang menyita waktu produktif dan mengganggu roda ekonomi warga merupakan bukti adanya masalah nyata pada kualitas pelayanan publik yang wajib segera diatasi," ujar Ghoffar saat konferensi pers di Jakarta.

Baca Juga: Update Rute Macet Kota Semarang dan Solo, 16 Oktober 2026: Piere Tendean Ditutup 14 Hari! Ini Rute Alternatif Biar Nggak Nyangkut

Peta Antrean Pagi Ini: Dari Bali Sampai Sulawesi

Biar gampang, kita bedah per daerah. Ini yang paling parah:

Bali

Bali masih jadi juara bertahan. Antrean di Denpasar, Badung, Tabanan, dan beberapa kabupaten lain sudah terjadi sejak beberapa hari lalu.

Di Denpasar, antrean bahkan sempat mencapai 2 kilometer, dengan waktu tunggu 1-3 jam.

Kondisi ini dipicu oleh kepanikan masyarakat yang takut kehabisan BBM, sehingga berbondong-bondong mengisi bahan bakar secara bersamaan.

Pertamina sudah mengerahkan pasokan tambahan. Kapal pengangkut BBM dijadwalkan sandar di Terminal BBM Sanggaran dan Manggis pada 12, 14, dan 16 Oktober 2026, dengan total 26.200 kiloliter Pertalite dan Pertamax. Pertamina juga sudah minta maaf langsung ke warga Bali.

Jawa Timur (Surabaya, Malang, Jember, Blitar)

Jawa Timur juga kena imbas serius. Antrean panjang terjadi di Malang Raya, Jember, Kediri, Blitar, Bondowoso, Jombang, hingga Mojokerto sejak 14–15 Oktober 2026.

Di Surabaya, bahkan sempat menemukan antrean panjang di SPBU Jalan Stasiun Kota, Jalan Sultan Iskandar Muda, dan Jalan Anjasmoro.

SPBU di Jalan Semarang dan Jalan Tidar bahkan sempat kehabisan Pertalite hingga pukul 16.50 WIB akibat keterlambatan pasokan mobil tangki.

Kabar baiknya, Pertamina menyebut pasokan di Surabaya mulai memasuki tahap pemulihan.

Berdasarkan pemantauan per 15 Oktober 2026, sebanyak 92 SPBU di Kota Surabaya masih melayani Pertalite dan 73 SPBU melayani Biosolar.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan fenomena antrean ini dipicu oleh penyesuaian pola konsumsi masyarakat yang beralih dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi.

"Kita sama-sama pahami bahwa ada peralihan konsumsi dari produk non-subsidi seperti Pertamax ke bersubsidi seperti Pertalite," ujarnya.

Sulawesi Utara (Manado)

Manado juga tidak luput. Antrean Pertalite di beberapa lokasi mencapai 300–500 meter.

Wakil Wali Kota Manado, Richard Sualang, langsung menggelar pertemuan dengan Pertamina untuk menuntaskan persoalan ini dalam dua hingga tiga hari ke depan.

Pertamina merencanakan tambahan pasokan Pertalite sebanyak 5 ribu kiloliter (KL) pada Jumat (16/10/2026) ini.

Daerah Lain yang Juga Kena

  • Aceh, Riau, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Yogyakarta: Dilaporkan mengalami kekosongan Solar atau Pertalite di sejumlah SPBU.

  • Sumatera Barat: Waktu tunggu dilaporkan mencapai dua hingga tiga jam.

  • Papua Barat: Antrean malam hingga pagi dilaporkan mencapai sekitar satu kilometer.

  • Banten: Antrean Solar di koridor Tol Merak-Tangerang dilaporkan mencapai sekitar satu kilometer pada salah satu titik.

  • Ketapang: Kapal pengangkut yang seharusnya membawa 2.500 kiloliter Pertalite mengalami keterlambatan kedatangan.

Baca Juga: Update Prakiraan Cuaca Kota Semarang dan Solo, Jumat 16 Oktober 2026: Hari Ini Cerah Terik Tanpa Ampun

Apa Sebenarnya yang Terjadi?

Ada beberapa faktor yang bikin antrean ini meluas. Ombudsman mengidentifikasi setidaknya empat pemicu utama:

1. Kendala logistik dan distribusi. Keterlambatan kapal, hambatan bongkar muat di terminal, keterbatasan armada, hingga jadwal pasokan yang kacau. Di Bali, antrean dikaitkan dengan keterlambatan kapal dan kendala bongkar di Terminal IT Manggis.

2. Peralihan konsumsi ke BBM subsidi. Banyak konsumen yang sebelumnya pakai Pertamax beralih ke Pertalite karena disparitas harga yang semakin jauh. Ini bikin permintaan Pertalite melonjak drastis.

3. Ketidaksesuaian kuota dengan kebutuhan riil. Kuota yang dialokasikan tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan, termasuk perpindahan konsumen dari BBM nonsubsidi ke Solar.

4. Indikasi penyalahgunaan BBM bersubsidi. Ada temuan soal tangki modifikasi dan pembelian BBM secara berulang yang diduga untuk disalahgunakan.

Pemerintah dan Pertamina Bergerak, tapi...

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, membantah kalau kelangkaan ini disebabkan oleh menipisnya stok nasional.

Menurutnya, stok BBM nasional masih aman untuk 16–18 hari ke depan.

"Kalau stok nasional itu kita di angka 16 sampai 18 hari, jadi masih clear, enggak ada masalah secara stok nasional," kata Bahlil.

Bahlil juga memastikan tidak ada perubahan harga BBM subsidi. "Harga, untuk harga (BBM) untuk subsidi, masih tetap tidak ada perubahan (kenaikan) apa-apa," imbuhnya.

Pertamina sendiri sudah melakukan berbagai langkah:

  • Memperkuat pasokan ke Bali dengan total 26.200 KL Pertalite dan Pertamax.

  • Menambah pasokan Pertalite 5 ribu KL ke Manado pada 16 Oktober 2026.

  • Mengoptimalkan pasokan dari depot penyangga dan memprioritaskan pengiriman ke SPBU yang mengalami peningkatan konsumsi.

  • Berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan Dishub untuk mengurai antrean di SPBU yang berlokasi di ruas jalan padat.

  • Menerjunkan petugas marshall di lokasi SPBU yang terpantau padat.

Yang Bikin Miris: BBM Dijual Eceran Harga Selangit

Di tengah kelangkaan, penjualan BBM melalui media sosial semakin marak dengan harga jauh di atas normal.

Di Denpasar, Pertamax ditawarkan hingga Rp100 ribu per botol berukuran 1,5 liter.

Sementara Pertalite dijual Rp75 ribu untuk kemasan serupa. Padahal, harga normal Pertalite hanya sekitar Rp10 ribu per liter atau Rp15 ribu untuk 1,5 liter.

Ini jelas bikin warga makin nelangsa. Mereka yang butuh BBM untuk bekerja dan aktivitas sehari-hari harus merogoh kocek jauh lebih dalam, atau rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan harga normal.

Tips Biar Nggak Ikut Antre Panjang

BMKG dan Dishub sudah mengimbau masyarakat untuk mengatur ulang waktu perjalanan.

Kalau bisa, isi BBM saat stok tersedia dan hindari jam sibuk di sekitar SPBU yang masih antre panjang.

Manfaatkan aplikasi navigasi real-time untuk memantau kondisi terkini. Dan yang paling penting: beli BBM sesuai kebutuhan, jangan menimbun.

Karena antrean BBM pagi ini bukan soal "kalau", tapi "seberapa panjang".

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.