Jateng

Lies Iswar Aminuddin Bagikan Tips Atur Waktu, Ibu-Ibu Bisa Aktif PKK Tanpa Mengorbankan Keluarga

Muhammad Husni Mushonifi | 15 Oktober 2026, 16:09 WIB
Lies Iswar Aminuddin Bagikan Tips Atur Waktu, Ibu-Ibu Bisa Aktif PKK Tanpa Mengorbankan Keluarga
Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Semarang, Listyati Purnama Rusdiana

JATENG.AKURAT.CO, Kesibukan mengurus rumah tangga, bekerja, dan menjalankan aktivitas sosial kerap menjadi tantangan bagi ibu-ibu yang terlibat dalam kegiatan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Di tengah beragamnya agenda organisasi, kemampuan mengatur waktu dan membangun komunikasi menjadi kunci agar kegiatan sosial tetap berjalan tanpa mengorbankan tanggung jawab utama terhadap keluarga.

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Semarang, Listyati Purnama Rusdiana atau yang akrab disapa Lies Iswar Aminuddin, menegaskan bahwa keaktifan dalam PKK harus tetap diimbangi dengan kemampuan menjaga keharmonisan keluarga dan menyelesaikan pekerjaan masing-masing.

Menurut Lies, PKK tidak seharusnya menjadi alasan bagi seorang ibu untuk mengabaikan kebutuhan keluarga. Sebaliknya, keterlibatan dalam organisasi tersebut harus dijalankan dengan perencanaan yang matang, pembagian tugas, serta komunikasi yang baik dengan sesama pengurus.

“Percuma ikut PKK kalau keluarganya berantakan. Saya tidak mau. Tujuan PKK itu menyejahterakan keluarga, jangan sampai keluarga justru berantakan karena kegiatan PKK,” tegas Lies.

Ia mencontohkan pentingnya mengatur waktu sejak pagi hari. Apabila seorang ibu harus menghadiri kegiatan PKK, persiapan kebutuhan keluarga dapat dilakukan lebih awal agar tanggung jawab di rumah tetap terpenuhi sebelum menjalankan aktivitas organisasi.

Lies mengungkapkan, dirinya terbiasa bangun lebih pagi ketika memiliki agenda yang harus diikuti. Jika kegiatan dimulai pukul 06.00 atau 07.00 WIB, persiapan dilakukan sejak pukul 04.00 atau 05.00 WIB agar kebutuhan keluarga dapat diselesaikan terlebih dahulu.

“Kalau memang pukul 06.00 atau 07.00 harus berangkat, berarti saya harus bangun pukul 04.00 atau 05.00 untuk menyiapkan kebutuhan keluarga. Setelah semuanya beres, baru berangkat menjalankan kegiatan,” ujarnya.

Selain mengatur waktu pada pagi hari, Lies menyarankan agar kegiatan organisasi disesuaikan dengan waktu luang masing-masing anggota. Bagi ibu-ibu yang bekerja, keterlibatan dalam kegiatan PKK dapat dilakukan setelah jam kerja atau pada akhir pekan, sepanjang memungkinkan dan tidak mengganggu kewajiban utama.

Menurut dia, tidak semua pekerjaan organisasi harus diselesaikan ketika seluruh pengurus berkumpul. Tugas-tugas tertentu dapat dibagi dan dikerjakan secara fleksibel sesuai dengan kesempatan yang dimiliki setiap anggota.

“Kalau memang tidak bisa hadir saat waktu kumpul, komunikasikan dengan pengurus yang lain. Bisa izin, kemudian tanyakan apakah ada tugas yang dapat dikerjakan di rumah. Jadi, tidak harus semua pekerjaan diselesaikan saat pertemuan berlangsung,” jelasnya.

Lies menilai, komunikasi menjadi bagian penting dalam membangun organisasi yang sehat. Pengurus perlu memahami kondisi anggota, termasuk mereka yang memiliki pekerjaan formal, harus mengurus anak, merawat anggota keluarga, atau menyelesaikan tanggung jawab rumah tangga lainnya.

Karena itu, pembagian tugas perlu dilakukan secara proporsional. Pengurus yang memiliki waktu lebih longgar dapat membantu pekerjaan yang membutuhkan kehadiran langsung, sementara anggota lain tetap bisa berkontribusi melalui tugas yang dapat diselesaikan di luar pertemuan.

Ia juga menegaskan bahwa keterlibatan dalam PKK tidak boleh dibangun melalui pemaksaan. Setiap anggota perlu diberi ruang untuk mengatur kesibukan dan menyampaikan kendala yang dihadapi.

“Tidak ada pemaksaan bahwa semua harus ikut dan hadir. Pengurus bisa mengatur secara bergantian. Kalau memang tidak bisa, ya dikomunikasikan. Yang penting ada pembagian tugas dan semua bisa berjalan dengan baik,” katanya.

Bagi Lies, keikutsertaan dalam PKK membutuhkan kepedulian sosial, keikhlasan, dan kesediaan untuk bergotong royong. Namun, nilai-nilai tersebut harus diterapkan secara seimbang agar kegiatan organisasi memberikan manfaat bagi keluarga dan lingkungan, bukan justru menjadi sumber persoalan baru.

Ia menyebutkan, banyak manfaat yang bisa diperoleh ibu-ibu melalui kegiatan PKK, mulai dari menambah pengetahuan untuk mendukung tumbuh kembang anak, memperkuat hubungan sosial, hingga membangun kebiasaan saling membantu di lingkungan tempat tinggal.

Menurutnya, interaksi antaranggota juga dapat membuka kesempatan untuk bertukar pengalaman dan mencari solusi atas berbagai persoalan keluarga. Dengan demikian, PKK tidak sekadar menjadi agenda pertemuan rutin, tetapi juga wadah pembelajaran dan penguatan solidaritas masyarakat.

Lies turut menyoroti kegiatan pemilahan sampah sebagai salah satu contoh program yang dapat dijalankan tanpa menyita banyak waktu. Ia menjelaskan, kebiasaan memilah sampah seharusnya dimulai dari rumah dengan memisahkan sampah plastik, kardus, dan jenis sampah lainnya ke dalam wadah berbeda.

Sampah yang telah dipilah kemudian dapat dikumpulkan di tingkat RT, misalnya sebulan sekali, untuk selanjutnya ditimbang dan disalurkan kepada pengepul. Dengan pola tersebut, warga tidak harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilah sampah bersama-sama di satu lokasi.

“Pemilahan sampah itu sebenarnya dimulai dari rumah. Sampah plastik sudah ditempatkan di wadah plastik, kardus di wadah kardus. Sebulan sekali dikumpulkan di RT, dikoordinasikan, kemudian pengepul datang untuk menimbang. Jadi, tugasnya bisa sederhana dan tidak harus mengumpulkan ibu-ibu berlama-lama,” paparnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga dapat menjadi sarana membangun kebiasaan positif di lingkungan keluarga. Apabila pemilahan dilakukan secara konsisten dari rumah, pelaksanaan program di tingkat RT akan lebih mudah dan efisien.

Dalam pelaksanaannya, TP PKK Kota Semarang juga mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pencatatan kegiatan. Penggunaan aplikasi diharapkan mempermudah pendataan dan meningkatkan efisiensi kerja, meskipun penyesuaian tetap diperlukan apabila ditemukan kendala teknis.

Lies menilai, modernisasi menjadi bagian penting agar PKK dapat mengikuti perkembangan zaman. Kaderisasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak juga diperlukan untuk menjaga keberlanjutan program serta memastikan semakin banyak anggota yang mampu menjalankan tugas organisasi secara efektif.

Pada akhirnya, Lies mengingatkan bahwa aktif di PKK bukan berarti seorang ibu harus selalu hadir dalam setiap kegiatan. Kontribusi dapat diberikan melalui beragam cara sesuai dengan kemampuan, waktu, dan tanggung jawab masing-masing.

Baginya, keberhasilan PKK justru terletak pada kemampuannya memberdayakan keluarga dan masyarakat tanpa menambah beban yang tidak perlu bagi para anggotanya. Dengan pengaturan waktu yang baik, pembagian tugas yang adil, dan komunikasi terbuka, ibu-ibu tetap dapat berperan dalam kegiatan sosial sekaligus menjaga keharmonisan rumah tangga.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.