Jateng

Mengenal Tokoh Pewayangan dari Sisi Sejarah dan Budaya: Banjaranjali, Sang Raja Alengka yang Berakhir Damai

Theo Adi Pratama | 10 Maret 2024, 14:30 WIB
Mengenal Tokoh Pewayangan dari Sisi Sejarah dan Budaya: Banjaranjali, Sang Raja Alengka yang Berakhir Damai

AKURAT.CO, Dalam pewayangan Jawa, kisah Ramayana tak hanya berfokus pada Rama dan Shinta.

Ada tokoh lain yang tak kalah menarik, yaitu Banjaranjali, raja Alengka sebelum Rahwana.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Brajadenta, Legenda Pemberontakan dan Kekuatan Mistis dalam Mitologi Jawa

Silsilah dan Masa Pemerintahan

Banjaranjali merupakan putra Prabu Hiranyakasipu, raja pertama Alengka, dengan Dewi Nariti.

Ia memiliki dua orang saudara perempuan, Dewi Kasipi dan Dewi Kistapi.

Setelah Prabu Hiranyakasipu tewas di tangan Wisnu, Banjaranjali naik tahta sebagai raja Alengka.

Kekalahan dan Pengabdian

Didorong dendam, Banjaranjali berupaya membalas kematian ayahnya.

Namun, ia takluk di tangan Maharaja Sunda, perwujudan Brahma.

Alih-alih hukuman, Banjaranjali malah dinikahkan dengan Dewi Bremani, putri Brahma.

Kedua adik perempuannya pun turut dipersunting oleh para dewa.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Brajalamatan, Sosok Pemberani dalam Mitologi Jawa

Keturunan dan Warisan

Dari pernikahannya dengan Dewi Bremani, Banjaranjali dikaruniai seorang putri bernama Dewi Bremaniwati.

Dewi Bremaniwati inilah yang nantinya menikah dengan Banjaransari dan menjadi nenek moyang para raja Alengka selanjutnya.

Tokoh Penting dalam Silsilah Alengka

Meski tak sepopuler Rahwana, Banjaranjali memegang peranan penting dalam silsilah para raja Alengka.

Kisahnya menandai peralihan kekuasaan dari dinasti Hiranyakasipu ke dinasti yang kelak melahirkan tokoh antagonis utama, Rahwana.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Bambang Bratalaras, Legenda Satria Pandawa dalam Bharatayudha

Pelajaran dari Kisah Banjaranjali

Kisah Banjaranjali menawarkan perspektif berbeda dalam melihat konflik antara kebaikan dan kejahatan.

Alih-alih dendam, Banjaranjali justru menerima takdir dan menjadi bagian dari tatanan yang lebih besar.

Ini bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya memaafkan dan menerima kenyataan demi mencapai kedamaian.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.