Jateng

Kebakaran Hutan Gunung Lawu, Sekitar 200 Personel Dikerahkan Menyisir Empat Jalur

Muhammad Husni Mushonifi | 16 Oktober 2026, 13:15 WIB
Kebakaran Hutan Gunung Lawu, Sekitar 200 Personel Dikerahkan Menyisir Empat Jalur

JATENG.AKURAT.CO, Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu dilakukan melalui koordinasi lintas unsur dengan mengerahkan sekitar 200 personel pada Jumat (16/10/2026). 

Tim gabungan dibagi menjadi empat kelompok pergerakan untuk menjangkau sejumlah arah yang menjadi sasaran penanganan kebakaran.

Informasi mengenai koordinasi penanganan karhutla tersebut dilaporkan Muhammad Toba, relawan Banser Siaga Bencana (BAGANA). 

Berdasarkan laporan koordinasi yang diterima pada pukul 06.35 WIB, pergerakan personel dijadwalkan dimulai pukul 06.30 WIB dengan melibatkan unsur kepolisian, TNI, warga setempat, dan relawan yang telah terdaftar.

Total personel yang terlibat diperkirakan mencapai 200 orang. Rinciannya, sebanyak 30 personel dari Polres, 20 personel dari Kodim, 50 warga lokal, serta sekitar 100 relawan yang telah terdaftar dalam koordinasi penanganan kebakaran.

Pengerahan personel dalam jumlah besar tersebut menjadi bagian dari upaya mengoordinasikan pergerakan tim di lapangan agar penanganan kebakaran dapat dilakukan secara terarah. Pembagian kelompok juga memungkinkan personel bergerak menuju sejumlah sektor yang telah ditentukan dalam koordinasi awal.

Sebelum bergerak menuju sasaran masing-masing, tim menggunakan Posko 1 yang berada di pintu masuk Desa Gondosuli, tepatnya di rumah Mbah Toyo, sebagai titik koordinasi. Posko tersebut menjadi lokasi penting untuk mengatur pergerakan personel sekaligus mendukung komunikasi antarkelompok selama operasi berlangsung.

Dalam skema yang disiapkan, personel dibagi menjadi empat kelompok pergerakan. Kelompok pertama diarahkan menuju Pos 2 Bayangan CK. Kelompok kedua bergerak ke arah Pampung Obong-obongan, sedangkan kelompok ketiga diarahkan menuju Klarasan. Adapun kelompok keempat bergerak ke arah Cemoro Dowo.

Pembagian empat arah tersebut menjadi acuan bagi masing-masing kelompok saat menjalankan tugas di lapangan. Setiap tim diminta mengikuti sektor yang telah ditentukan agar pergerakan personel dapat terkoordinasi dan tidak terpusat hanya pada satu titik.

Selain pembagian jalur, koordinasi juga menekankan pentingnya pelaporan posisi setiap kelompok. Masing-masing satuan relawan atau tim pencarian dan penyisiran (SRU) diwajibkan melaporkan titik koordinat lokasi mereka.

Pelaporan koordinat tersebut diperlukan untuk mengetahui posisi masing-masing tim selama bergerak di kawasan gunung. Informasi lokasi juga menjadi bagian dari komunikasi operasional agar perkembangan pergerakan personel dapat dipantau oleh unsur yang terlibat dalam koordinasi.

Dalam laporan yang disampaikan, terdapat pula pengaturan khusus terhadap kelompok terakhir. SRU terakhir ditahan sementara untuk menjalankan tugas pendistribusian logistik. Pengaturan ini menunjukkan bahwa selain pengerahan personel ke sejumlah sektor, dukungan kebutuhan operasional juga menjadi bagian dari skema penanganan karhutla.

Dukungan logistik diperlukan untuk menunjang personel yang bergerak di lapangan, terutama ketika operasi melibatkan banyak kelompok dengan arah pergerakan berbeda. Dengan adanya tim yang difokuskan pada distribusi logistik, kebutuhan operasional diharapkan dapat dikoordinasikan sesuai perkembangan situasi.

Untuk menjaga komunikasi antarpersonel, koordinasi menetapkan penggunaan frekuensi radio komunikasi HT pada kanal 158.440 MHz dengan sistem komunikasi langsung atau direct. Ketentuan ini menjadi pedoman komunikasi radio bagi personel yang terlibat dalam operasi.

Penggunaan frekuensi yang sama diharapkan membantu penyampaian informasi mengenai posisi tim, perkembangan situasi, serta kebutuhan koordinasi selama pergerakan berlangsung. Dalam operasi yang melibatkan sekitar 200 personel, komunikasi menjadi salah satu unsur penting untuk menjaga keterhubungan antarkelompok.

Laporan Muhammad Toba tersebut menggambarkan langkah koordinasi penanganan karhutla Gunung Lawu pada Jumat pagi, mulai dari penentuan titik posko, pembagian personel, pengaturan empat arah pergerakan, pelaporan koordinat, hingga penyiapan dukungan logistik dan komunikasi radio.

Meski demikian, laporan koordinasi tersebut belum memuat informasi mengenai luas kawasan yang terbakar, lokasi titik api secara terperinci, penyebab kebakaran, maupun perkembangan kondisi api setelah personel bergerak menuju sektor masing-masing.

Belum terdapat pula keterangan mengenai hasil penyisiran setiap kelompok, jumlah titik api yang berhasil ditangani, serta kondisi terkini kawasan hutan yang terdampak. Karena itu, perkembangan penanganan kebakaran masih memerlukan informasi lanjutan dari tim yang bertugas di lapangan dan pihak berwenang.

Keterlibatan unsur kepolisian, TNI, warga lokal, dan relawan dalam koordinasi ini memperlihatkan pentingnya kerja bersama dalam menghadapi kebakaran di kawasan pegunungan. Dengan pembagian tugas dan pelaporan posisi yang terarah, pergerakan tim diharapkan dapat berlangsung lebih terkoordinasi dalam mendukung upaya penanganan karhutla Gunung Lawu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.