Nyetir Malam Jangan Sok Kuat: 49 Persen Kematian di Jalan Terjadi Setelah Gelap

JATENG.AKURAT.CO, Berkendara di malam hari ternyata sembilan kali lebih mematikan dibanding siang hari, dan sepanjang 2026 ini ratusan nyawa melayang di jalanan Indonesia akibat minim penerangan, kelelahan, dan mikro-sleep yang sering diabaikan.
Ada satu ilusi yang sering kita pelihara sendiri saat menyetir malam: jalanan lebih sepi, udara lebih sejuk, jadi perjalanan pasti lebih nyaman.
Kenyataannya, statistik global justru bicara sebaliknya. Data terbaru dari MoneyGeek yang dirilis September 2026 menunjukkan bahwa berkendara di malam hari sembilan kali lebih mematikan dibanding siang hari.
Hanya 9 persen perjalanan terjadi setelah matahari terbenam, tapi 49 persen kecelakaan fatal justru terjadi di rentang waktu itu.
Artinya, apa? Artinya, jalanan malam itu bukan cuma gelap secara visual, tapi juga gelap secara harfiah.
Risiko kematian di jalan melonjak drastis begitu matahari tenggelam, dan sebagian besar dari kita masih menganggap remeh hal ini.
Data Indonesia: Malam Hari Adalah Jam Paling Berbahaya
Kalau kamu pikir ini cuma masalah negara maju dengan jalan tol lebar dan mobil cepat, kamu salah besar. Data dari berbagai daerah di Indonesia justru menunjukkan pola yang sama, bahkan lebih mengkhawatirkan.
Di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Kanit Gakkum Satlantas Polres Wajo, IPTU Rahmat Akbar Sultan, mengungkap bahwa dari 88 kasus kecelakaan yang terjadi Januari–Mei 2026, 21 orang meninggal dunia.
Penyebabnya didominasi minimnya penerangan jalan, dan kecelakaan mayoritas terjadi saat malam hari. “Berdasarkan data olah TKP, rata-rata kecelakaan terjadi di malam hari akibat minim penerangan jalan,” jelasnya.
Di Boyolali, Jawa Tengah, Dishub mencatat lonjakan kasus kecelakaan hingga 45 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Kepala Dishub Boyolali, Insan Adi Asmono, menyebut periode Jumat malam hingga Minggu sebagai waktu paling kritis, dengan tingkat fatalitas tertinggi terjadi pada dini hari pukul 00.00–05.59 yang mencapai 11,8 persen.
Di Kendal, Jawa Tengah, Kasat Lantas Polres Kendal AKP Panji Yugo Putranto mengungkap bahwa 36 persen kecelakaan di wilayahnya terjadi di jalur Weleri–Sukorejo, dan mayoritas terjadi pada malam hari akibat kombinasi pengendara yang lelah, kurang konsentrasi, serta minimnya penerangan. “Jalur itu ramai, tapi minim penerangan,” katanya.
Jadi kalau kamu masih berpikir “ah cuma jalan biasa”, coba hitung lagi berapa banyak nyawa yang melayang di jalanan Indonesia setiap malam.
Kelelahan: Pembunuh Diam-Diam di Balik Kemudi
Kalau ada satu faktor yang paling sering diabaikan pengendara malam, itu adalah kelelahan. Bukan mabuk, bukan ngebut. Tapi ngantuk yang datang diam-diam, lalu tiba-tiba kamu sudah microsleep dua detik dan mobilmu sudah menabrak sesuatu.
Kasus paling mengerikan terjadi di Tol Pekanbaru–Dumai pada Juni 2026. Sebuah Toyota Hiace travel menabrak bagian belakang dump truk di KM 46+200. Lima orang meninggal dunia. Penyebabnya? Sopir mengalami microsleep saat melaju di gelap dini hari.
Founder Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa berkendara malam bertentangan dengan siklus biologis tubuh manusia.
“Jangan mengemudi after 7. Maksudnya tidak mengemudi setelah jam 19.00 malam untuk perjalanan ke luar kota,” kata Jusri.
Ia menambahkan bahwa pada malam hari, mata cenderung mengalami tunnel vision — bidang pandang menyempit, dan peripheral sight berkurang drastis.
Fatigue driving juga disebut sebagai penyebab dominan kecelakaan selama arus mudik Lebaran 2026 oleh Direktur Utama Jasa Raharja, Awaluddin.
“Dominasinya masih pada kendaraan bermotor roda dua, berbagai penyebab peristiwa ini adalah fatigue driving atau kelelahan dari pengemudi,” ujarnya.
Data menunjukkan penurunan fatalitas 28 persen dibanding tahun sebelumnya, tapi 218 orang masih meninggal selama periode angkutan Lebaran 2026.
Minim Penerangan: Jalanan yang Seakan “Buta”
Satu hal yang paling sering ditemui pengendara malam di Indonesia adalah jalan yang gelap gulita. Bukan cuma di pelosok, tapi juga di jalur nasional.
Jalan Trans Sulawesi di Kecamatan Keera dan Pammana, misalnya, masih minim penerangan hingga saat ini. “Karena daerah tersebut sampai saat ini masih minim penerangan itulah salah satu penyebab terbesar kecelakaan di Kabupaten Wajo,” papar IPTU Rahmat.
Kondisi jalan yang licin akibat cuaca hujan menambah faktor risiko. Beberapa ruas jalan di Wajo sering licin saat hujan, yang membuat pengendara kesulitan mengendalikan kendaraan.
Training Director Real Driving Centre (RDC), Marcell Kurniawan, menjelaskan bahwa mengemudi di jalan minim penerangan meningkatkan risiko kecelakaan karena pengemudi hanya mengandalkan pijar lampu utama.
“Karena kita hanya mengandalkan pijar lampu utama, dan sulit juga menilai jarak kendaraan dari arah berlawanan,” ucap Marcell.
Banyak kejadian tabrak belakang terjadi karena pengemudi tidak mampu melihat kendaraan di depan akibat minimnya penerangan. Belum lagi bila ada kendaraan di depan yang tidak memiliki lampu senja belakang yang menyala cukup terang.
Jam 9 sampai 10 Malam: Waktu Paling Berbahaya di Jalan
Kalau kamu masih berpikir bahwa jam paling berbahaya di malam hari adalah tengah malam atau dini hari, data terbaru justru menunjukkan hal yang berbeda.
Laporan India Road Safety Report 2026 yang menganalisis lebih dari 4,5 juta perjalanan menemukan bahwa slot pukul 21.00–22.00 adalah waktu paling berisiko di jalan, dengan skor keselamatan mengemudi turun ke angka 86 — terendah sepanjang hari.
Perilaku mengemudi mulai memburuk secara signifikan setelah pukul 20.00. Pengereman mendadak dan akselerasi kasar muncul sebagai aspek terlemah dari perilaku mengemudi secara global. Faktor perilaku menyumbang lebih dari 80 persen kecelakaan lalu lintas.
Sementara itu, dari sisi fisiologis, kelelahan memuncak antara tengah malam hingga pukul 6 pagi. Menurut NHTSA, kecelakaan akibat mengantuk mencapai puncaknya pada rentang waktu tersebut.
Bukan Cuma Gelap dan Ngantuk: Ada Faktor Lain yang Sering Diabaikan
MoneyGeek juga menemukan bahwa 70 persen kecelakaan fatal akibat mabuk terjadi pada malam hari, dan sekitar satu dari empat kecelakaan fatal malam melibatkan pengemudi yang mabuk.
Di Indonesia, kasus kecelakaan malam akibat pengaruh alkohol memang masih sering terjadi. Pada Maret 2026, seorang pengemudi Fortuner di bawah pengaruh alkohol menabrak enam kendaraan di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, pada pukul 22.00 WIB. Dua orang tewas dalam kejadian itu.
Faktor lain yang cukup sering muncul adalah distraksi dari ponsel. Menggunakan ponsel saat mengemudi malam — apalagi di jalan minim penerangan — adalah kombinasi yang sangat berbahaya.
Sorot layar ponsel mengganggu adaptasi mata terhadap gelap, dan butuh beberapa detik untuk mata bisa menyesuaikan kembali setelah melihat layar terang.
Panduan dari Pakar: Cara Bertahan Hidup di Jalanan Malam
Keselamatan berkendara malam bukan soal keberuntungan. Ini soal persiapan, kewaspadaan, dan kesediaan mengakui keterbatasan diri sendiri.
Berikut panduan dari para pakar keselamatan jalan yang bisa kamu terapkan malam ini:
1. Siapkan kendaraan sebelum berangkat. Adrianto Sugiarto dari PT Karya Fajar Ultima, Konsultan Keselamatan Jalan, menekankan pentingnya memastikan semua lampu kendaraan berfungsi normal. “Siapkan kondisi mobil sebaik-baiknya, terutama lampu kendaraan, pastikan semua berfungsi normal,” ujarnya. Lampu bukan cuma penerangan, tapi juga sarana komunikasi dengan pengendara lain ketika malam hari.
2. Jangan paksakan diri saat lelah. “Ketika kondisi fisik cukup lelah, jangan paksakan untuk mengemudi malam,” tambah Adrianto. Mengemudi malam membutuhkan konsentrasi lebih tinggi karena indera penglihatan bekerja lebih keras.
3. Atur spion dan instrumen panel dengan benar. Atur spion tengah dalam posisi Night Mode agar tidak memantulkan sinar lampu dari mobil belakang tepat ke mata. Instrumen panel, terutama yang menggunakan layar, sebaiknya tidak disetel terlalu terang agar mata tidak cepat lelah akibat kontras cahaya di dalam kabin.
4. Kurangi kecepatan di jalan minim penerangan. Marcell menyarankan untuk tidak mengemudi dengan kecepatan tinggi karena kamu hanya mengandalkan pijar lampu utama. “Bikin jarak aman yang mengakomodasi berhenti dalam jarak pijar lampu tersebut,” katanya.
5. Atasi silau dengan memalingkan pandangan. Bila ada kendaraan dari arah berlawanan yang lupa mematikan lampu jauhnya, segera palingkan wajah ke kiri dan lihat jalan dari sudut mata. “Agar kita tidak kesilauan,” ucap Marcell. Jangan menatap langsung ke arah lampu lawan.
6. Bersihkan kaca jendela dan kaca spion. Kaca yang kotor atau berlemak akan memantulkan cahaya secara tidak teratur dan membuat pandangan semakin buruk di malam hari. Luangkan waktu beberapa menit sebelum berangkat untuk membersihkan kaca depan, samping, dan spion.
7. Kenali gejala microsleep. Tanda-tanda yang harus diwaspadai meliputi kelopak mata yang terasa berat, sering menguap, kesulitan mengingat beberapa detik terakhir perjalanan, dan tiba-tiba tersadar setelah beberapa detik tidak fokus. Jika mengalami ini, segera menepi dan istirahat setidaknya 15–20 menit.
Jam Tubuh Manusia Tidak Bisa Ditawar
Satu hal yang paling sulit diterima pengendara malam adalah kenyataan bahwa tubuh manusia memang dirancang untuk istirahat saat gelap.
Ini bukan soal kuat-kuatan atau niat. Ini soal hormon melatonin yang diproduksi saat gelap, menurunkan suhu tubuh dan membuat kantuk datang tanpa diundang.
Jusri Pulubuhu dari Jakarta Defensive Driving Consulting menegaskan bahwa anggapan berkendara malam lebih nyaman karena jalan sepi tidak sepenuhnya benar.
“Jadi terbalik dengan apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang. Karena dua alasan tadi, visibilitas dan tubuh kita memang membutuhkan istirahat pada malam hari,” katanya.
Laporan keselamatan dari India juga mengonfirmasi hal ini secara numerik: perilaku mengemudi memburuk secara signifikan setelah pukul 20.00, dan terus menurun sepanjang malam.
Kalau Harus Tetap Nyetir Malam, Lakukan Ini
Ada kalanya kamu memang harus berkendara malam. Pulang kerja larut, perjalanan jauh, atau keadaan darurat. Kalau memang tidak bisa dihindari, setidaknya lakukan ini:
Istirahat cukup sebelum berangkat. Tidur minimal 6–8 jam sebelum perjalanan malam panjang. Jangan mengandalkan kopi untuk tetap terjaga, karena kafein cuma menunda kantuk, bukan menghilangkannya.
Berhenti setiap 2 jam. Jangan pernah mengemudi lebih dari 2 jam tanpa jeda. Menepi di rest area atau pom bensin, berjalan sebentar, cuci muka, minum air.
Jangan gunakan ponsel. Distraksi dari layar ponsel di malam hari sangat berbahaya. Mode pesan otomatis bisa jadi penyelamat.
Pilih jalur yang lebih terang. Kalau ada dua pilihan rute, pilih yang lebih banyak penerangan jalan. Selisih beberapa menit jauh lebih berharga dari risiko kecelakaan.
Pertimbangkan berhenti sebelum jam 9 malam. Sesuai data India Road Safety Report, jam 9–10 malam adalah waktu paling berisiko. Kalau memungkinkan, berhenti dan lanjutkan perjalanan setelah istirahat cukup.
Keselamatan Itu Pilihan, Bukan Kebetulan
Pada akhirnya, berkendara malam hari bukan soal kamu bisa nyetir atau tidak. Ini soal kesadaran bahwa tubuh dan penglihatanmu punya batas yang tidak bisa dilampaui begitu saja.
Data global dan lokal sudah jelas: malam hari jauh lebih mematikan, dan risiko itu bisa dikurangi dengan persiapan yang tepat.
Jadi sebelum kamu menyalakan mesin malam ini, cek lampu, cek kondisi fisik, dan yang paling penting, cek kejujuran dirimu sendiri.
Apakah kamu benar-benar siap nyetir malam, atau kamu cuma berharap semuanya baik-baik saja?
Tubuhmu tau jawabannya. Jangan tunggu jawaban itu tiba dalam bentuk kecelakaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ibu-Ibu Semarang Curhat Agenda PKK dan Dawis Padat, Tiap Pekan Ada Kegiatan!
- 2Lima Gunung Kompak Erupsi Hari Ini: Semeru Muntah Abu 4.600 Meter, Merapi Luncurkan Lava 2,5 Km
- 3Cek SPBU Sebelum Berangkat! Antrean BBM Pagi Ini 16 Oktober 2026 di Berbagai Daerah
- 4Cek Update Rute Macet Kota Surabaya, Kamis 15 Oktober 2026: Proyek Drainase 100 Titik Bikin Surabaya Macet Parah
- 5Update Rute Macet Hari Ini 14 Oktober 2026: Pulang Kerja Sore Ini Semarang dan Solo Macet Parah, Ini Jalur Tikusnya
- 6Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Macet
- 7Rute Macet Semarang Pagi Hari, Kamis 15 Oktober 2026: Jalan Kapten Piere Tendean Ditutup 14 Hari, Warga Semarang Siap-Siap Cari Rute Baru
- 8Kapolda Jateng Tegas: Tak Ada Ampun bagi Polisi yang Bekingi Kejahatan
- 9FBI Apresiasi Polda Jateng Bongkar Penipuan Pig Butchering Scam, Empat Polisi Diundang Pelatihan Internasional
- 10Cek Rute Macet Kota Surabaya 14 Oktober 2026: Proyek Drainase Jadi Biang Kerok, Titik Mana yang Harus Dihindari?




