Jateng

Malam Ini Mau Tidur atau Rebahan Sambil Ngelamun? Ini Cara Ngusir Insomnia Tanpa Obat

Theo Adi Pratama | 17 Oktober 2026, 01:00 WIB
Malam Ini Mau Tidur atau Rebahan Sambil Ngelamun? Ini Cara Ngusir Insomnia Tanpa Obat

JATENG.AKURAT.CO, 43,7 persen orang Indonesia ternyata mengalami insomnia, dan malam ini jutaan orang akan kembali berbaring di kasur sambil menatap langit-langit, berharap kantuk datang tanpa harus menelan pil apa pun.

Jam sudah menunjukkan angka satu pagi. Kamu sudah matiin lampu, sudah pasang alarm, sudah bilang ke diri sendiri “malam ini harus tidur cepat”.

Tapi tubuhmu sepertinya punya rencana lain. Mata masih segar, pikiran masih jalan ke mana-mana, dan tanpa sadar tangan sudah meraih HP buat scroll TikTok lagi.

Dua jam kemudian, kamu masih di posisi yang sama. Insomnia memang bukan cuma soal susah tidur, tapi soal bagaimana otak kita menolak untuk berhenti bekerja.

Data dari Indonesia Family Life Survey-5 pada penduduk usia 19 tahun ke atas melaporkan prevalensi insomnia sebesar 43,7 persen.

Survei konsumen di enam negara Asia Tenggara bahkan menunjukkan 46 persen responden mengalami masalah tidur setidaknya beberapa kali dalam sepekan, dan 59 persen tidur kurang dari tujuh jam per malam. Artinya, hampir separuh orang dewasa di Indonesia berjuang dengan hal yang sama setiap malam.

Kabar baiknya, ada banyak cara mengatasi insomnia tanpa harus langsung menelan obat tidur. Dan beberapa di antaranya justru lebih efektif dalam jangka panjang.

Kenapa Insomnia Bukan Cuma Masalah “Kurang Ngantuk”

Sebelum masuk ke tips, ada baiknya kita pahami dulu kenapa insomnia itu perlu ditangani serius. Insomnia kronis, yang didefinisikan sebagai kesulitan tidur lebih dari tiga malam dalam sepekan selama minimal tiga bulan, bukan sekadar bikin kamu mengantuk di siang hari.

Sebuah review internasional yang diterbitkan di Sleep Medicine Reviews pada September 2026 menemukan bahwa insomnia berasosiasi dengan risiko stroke 26 persen lebih tinggi dan kemungkinan dirawat di rumah sakit 28 persen lebih besar.

Studi yang akan dipresentasikan di SLEEP 2026 annual meeting juga menemukan bahwa remaja dengan gejala insomnia berisiko hampir 2,5 kali lebih tinggi mengalami rawat inap di usia 20-an, dan 66 persen lebih tinggi mengalami kesulitan memulai tidur. Jadi, kalau kamu masih berpikir “ah, insomnia cuma soal kurang tidur”, coba pikirkan lagi.

1. Jadwal Tidur yang Konsisten: Kunci yang Paling Sering Diabaikan

Ini mungkin saran yang paling klise, tapi juga paling sering dilanggar. Tubuh manusia punya jam internal yang disebut ritme sirkadian. Kalau kamu tidur dan bangun di jam yang berbeda-beda setiap hari, jam internal ini jadi kacau. Hasilnya? Tubuh bingung kapan harus merasa ngantuk dan kapan harus bangun.

Michael Pippi, physician assistant di UPMC ENT and Sleep Medicine, bilang tubuh mengikuti ritme sirkadian: tidur saat gelap, bangun saat terang. “Tetap berada dalam ritme sirkadian alami siang dan malam adalah cara terbaik untuk menjaga pola tidur yang teratur,” katanya.

Coba mulai dengan bangun di jam yang sama setiap hari, bahkan di akhir pekan. Jangan biarkan selisih waktu tidur antara hari kerja dan hari libur lebih dari satu jam. Kalau perlu, set alarm buat bangun, bukan buat tidur.

2. Stimulus Control: Kasur Hanya untuk Tidur

Ini salah satu prinsip dasar dari terapi perilaku untuk insomnia. Dokter spesialis tidur dr. Andreas Prasadja, RPSGT, pernah bilang bahwa kesalahan terbesar saat begadang bukanlah begadangnya, melainkan lokasinya.

“Karena kalau kita satukan, irama biologis kita bisa terganggu. Karena otak akan mengidentifikasi ini tempat tidur tempat aktivitas, bukan tempat istirahat,” jelasnya.

Kalau kamu susah tidur, jangan berbaring di kasur sambil main HP, nonton film, atau kerja. Pindah ke ruang tamu. Baru kembali ke kasur ketika benar-benar mengantuk.

Kalau dalam 20–30 menit masih belum tidur, bangun lagi. Lakukan hal yang menenangkan sampai kantuk datang. Ini melatih otak bahwa kasur adalah tempat tidur, bukan tempat ngelamun.

3. Sleep Restriction: Jangan Terlalu Lama di Kasur

Ini mungkin terdengar kontra-intuitif, tapi tidur tidak bisa dipaksakan dengan berbaring lebih lama. Sleep restriction therapy (SRT), yang merupakan komponen inti dari Cognitive Behavioral Therapy for Insomnia (CBT-I), bekerja dengan membatasi waktu di kasur sesuai dengan jumlah tidur yang benar-benar kamu dapatkan. Kalau kamu cuma tidur lima jam, jangan berbaring di kasur selama delapan jam.

CBT-I sendiri sudah direkomendasikan sebagai pengobatan lini pertama untuk insomnia karena efektivitasnya yang bertahan lama dan tanpa risiko ketergantungan.

Berbeda dengan obat tidur, CBT-I menargetkan pikiran dan perilaku yang mendasari insomnia, sehingga menghasilkan perbaikan yang lebih berkelanjutan. CBT-I juga tersedia dalam berbagai format, termasuk sesi tatap muka, telehealth, dan platform digital.

4. Teknik Pernapasan 4-7-8: Relaksasi dalam Hitungan Detik

Kalau kamu butuh sesuatu yang bisa langsung dicoba malam ini, teknik pernapasan 4-7-8 adalah pilihan yang bagus. Caranya sederhana: hirup melalui hidung selama 4 detik, tahan napas selama 7 detik, lalu buang melalui mulut selama 8 detik. Ulangi beberapa kali.

Penelitian yang diterbitkan di ScienceDirect pada Januari 2026 menunjukkan bahwa latihan pernapasan 4-7-8 efektif meningkatkan kualitas tidur pada mahasiswa keperawatan. Teknik ini bekerja dengan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, yang bertanggung jawab untuk respons relaksasi tubuh.

5. Suhu, Cahaya, dan Suara: Optimalkan Kamar Tidur

Kamar tidur yang ideal itu gelap, sejuk, dan tenang. Atur suhu ruangan sekitar 20–22 derajat Celsius. Matikan semua lampu atau gunakan lampu temaram. Kalau perlu, pakai penutup mata dan penutup telinga.

Ethan Youssefzadeh, dokter keluarga di Cedars-Sinai, menyarankan untuk meredupkan lampu selama satu jam sebelum tidur dan menjadikan kasur khusus untuk tidur. “Cahaya terang mendekati waktu tidur bisa membuat kita lebih sulit untuk rileks,” katanya.

6. Digital Detox: Jauhkan Layar Sebelum Tidur

Ini mungkin yang paling sulit dilakukan, tapi juga salah satu yang paling penting. Paparan cahaya biru dari layar HP, laptop, atau TV bisa menghambat produksi melatonin, hormon yang membantu kita tidur. National Sleep Week 2026 merekomendasikan untuk menghindari cahaya layar digital lebih dari 4 jam sebelum tidur.

Kalau empat jam terlalu lama, setidaknya matikan layar 30–60 menit sebelum tidur. Ganti dengan aktivitas yang lebih menenangkan seperti membaca buku fisik, mendengarkan musik santai, atau melakukan peregangan ringan.

7. Olahraga: Waktu yang Tepat Itu Penting

Olahraga memang bisa membantu tidur, tapi waktu pelaksanaannya juga perlu diperhatikan. Olahraga aerobik moderat diketahui meningkatkan jumlah tidur gelombang lambat yang restoratif. Tapi hindari olahraga dalam dua jam sebelum tidur, karena aktivitas fisik melepaskan endorfin yang justru membuat kamu tetap terjaga.

Penelitian yang diterbitkan pada Oktober 2026 menyarankan untuk menghindari olahraga berat di malam hari, meskipun olahraga pagi dan sore hari bisa membantu memperpanjang tidur non-REM. Jadi, kalau mau olahraga, lakukan di pagi atau sore hari.

8. Makanan dan Minuman yang Perlu Dihindari

Apa yang kamu konsumsi sebelum tidur juga berpengaruh. Hindari kafein setidaknya 6 jam sebelum tidur. Kopi, teh, cokelat hitam, dan minuman energi adalah musuh utama tidur nyenyak. Alkohol juga sering dianggap membantu tidur, padahal justru mengganggu kualitas tidur dan membuat kamu sering terbangun di malam hari.

Makan besar dalam dua jam sebelum tidur juga sebaiknya dihindari. Sistem pencernaan yang masih bekerja keras bisa membuat tidurmu tidak nyenyak. Kalau lapar, camilan ringan seperti pisang atau segelas susu hangat bisa jadi pilihan.

9. Membalikkan Logika: Coba Tetap Terjaga

Ini terdengar aneh, tapi coba pikirkan. Kalau kamu berbaring di kasur sambil terus berusaha keras untuk tidur, kamu justru menciptakan tekanan dan kecemasan yang bikin susah tidur.

Sebaliknya, coba teknik paradoxical intention: niatkan untuk tetap terjaga, bukan untuk tidur. Ini mengurangi kecemasan performa yang sering menjadi penyebab insomnia.

10. Cari Bantuan Kalau Sudah Kronis

Kalau kamu sudah mencoba semua tips di atas tapi masih susah tidur selama lebih dari tiga bulan, mungkin sudah waktunya mencari bantuan profesional.

Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) membuka Sleep Center yang menyediakan layanan komprehensif untuk diagnosis dan penanganan gangguan tidur, dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada keluhan sulit tidur tetapi juga menelusuri penyebab yang mendasarinya.

Tidur Itu Bukan Kemewahan, Tapi Kebutuhan

Pada akhirnya, tidur yang cukup dan berkualitas bukanlah sesuatu yang bisa ditawar. Tubuh kita butuh waktu untuk pulih, otak butuh waktu untuk memproses memori, dan sistem imun butuh waktu untuk bekerja. Insomnia yang dibiarkan bisa berkembang menjadi masalah kesehatan yang jauh lebih serius.

Malam ini, sebelum kamu berbaring dan berharap kantuk datang, coba terapkan satu atau dua tips di atas. Jangan mencoba semuanya sekaligus.

Mulai dari yang paling mudah: matikan HP, redupkan lampu, dan tarik napas dalam-dalam. Tidur yang nyenyak bukanlah kemewahan. Itu hak kamu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.