Jateng

Kamu Lapar atau Cuma Kena Racun FYP? Potret Foodies 2026 yang Rela Antre Dua Jam Demi Konten

Theo Adi Pratama | 17 Oktober 2026, 11:33 WIB
Kamu Lapar atau Cuma Kena Racun FYP? Potret Foodies 2026 yang Rela Antre Dua Jam Demi Konten
Foto Ilustrasi - Konten Kuliner

JATENG.AKURAT.CO, Dari Sushi Taco yang viral di TikTok sampai antrean dua jam di Blok M, gaya hidup foodies di 2026 bukan lagi soal lapar, tapi soal eksistensi, FOMO, dan algoritma yang terus menyodorkan racun kuliner baru.

Ada satu momen yang rasanya sangat akrab di tahun 2026 ini. Kamu sedang rebahan, scroll TikTok, dan tiba-tiba muncul video sebuah tempat makan dengan antrean mengular. Makanannya terlihat menggiurkan, suasananya estetik, dan videonya di-edit sedemikian rupa sampai kamu merasa harus mencobanya. Padahal, lima menit sebelumnya kamu bahkan tidak tahu tempat itu ada.

Itulah sihir algoritma. Dan jutaan anak muda Indonesia sudah jadi korban yang happy ending, rela menempuh perjalanan jauh, mengantre berjam-jam, dan mengeluarkan uang lebih hanya demi satu suapan yang bisa diabadikan di Instagram Story.

Ini bukan lagi soal makan untuk menghilangkan lapar. Ini sudah jadi gaya hidup. Foodies 2026 bukan cuma pencinta kuliner, mereka adalah pemburu pengalaman, kolektor konten, dan yang paling penting, bagian dari algoritma yang tidak pernah tidur.

Sushi Taco dan Ilusi "Kreativitas" yang Bikin Antre

Ambil contoh Sushi Taco. Di awal Oktober 2026, makanan fusion yang memadukan rumput laut renyah berbentuk cetakan taco dengan isian nasi dan ikan segar ini tiba-tiba membanjiri media sosial. Kedai-kedai di kota besar langsung kebanjiran antrean. Orang-orang datang bukan cuma untuk makan, tapi untuk membuktikan bahwa mereka juga bagian dari tren.

Dra. Anita Kusuma, M.Sc., pakar gastronomi dan peneliti budaya kuliner, menilai popularitas makanan ini dipicu oleh tren tampilan visual yang sangat menarik saat diunggah ke platform jejaring sosial. Bukan soal rasanya yang luar biasa, tapi soal seberapa "instagramable" makanan itu.

Dan di sinilah ironinya. Kita sering mengira foodies itu orang yang punya selera tinggi, yang bisa membedakan rasa autentik dan gimmick murahan. Kenyataannya, sebagian besar dari kita memilih tempat makan berdasarkan seberapa bagus videonya di FYP, bukan seberapa enak rasanya di lidah.

FOMO: Bahan Bakar Utama Industri Kuliner Viral

Sebuah studi fenomenologi yang diterbitkan di Priviet Social Sciences Journal pada Juli 2026 mengungkap akar dari fenomena ini. Penelitian terhadap empat informan Gen Z menemukan bahwa kurasi algoritma TikTok berfungsi sebagai stok pengetahuan intersubjektif yang terus-menerus memaparkan mereka pada konten makanan viral, menghasilkan rasa penasaran sensorik sebelum konsumsi sebenarnya.

FOMO, atau fear of missing out, beroperasi sebagai motif yang berakar pada pengalaman sebelumnya tentang eksklusi sosial, sementara motif mereka berorientasi pada pemeliharaan rasa memiliki sosial dan relevansi digital.

Artinya, kita antre dua jam bukan semata-mata karena ingin makan. Kita antre karena takut dianggap ketinggalan, takut tidak bisa ikut membicarakan tren yang sedang ramai.

Konsumsi makanan viral dengan demikian berfungsi secara simultan sebagai konsumsi, komunikasi, dan pertunjukan identitas. Setiap suapan adalah statement. Setiap story adalah bukti eksistensi.

Dari Kimpul sampai Mie Marimbon: UMKM yang Naik Kelas

Tapi jangan salah. Di balik hiruk-pikuk FOMO, ada cerita-cerita yang jauh lebih membahagiakan. UMKM lokal yang tiba-tiba viral dan penjualannya meledak.

Ambil kisah Mie Marimbon di Aceh Barat. Muhammad Safwani, pemiliknya, awalnya cuma jualan kecil-kecilan di teras rumah dengan meja seadanya. Tanpa strategi khusus, ia iseng mengunggah video masakannya ke TikTok.

Video itu masuk FYP, dan penjualannya melonjak 10 kali lipat, dari hanya lima kilogram mie per hari menjadi 40 hingga 50 kilogram per hari. "Setelah posting di TikTok, tiba-tiba viral dan banyak orang datang," kata Safwani.

Cerita serupa datang dari Bu Kimpul. Kreator TikTok asal Bantul ini berhasil membuat umbi kimpul yang tadinya kurang dikenal jadi bahan pembicaraan di seluruh Indonesia. Akunnya kini punya 267,3 ribu pengikut, dan kontennya menginspirasi UMKM lain untuk berkreasi.

Murwanti, pelaku UMKM asal Demangan, Yogyakarta, bahkan sampai menciptakan Kimpul Chewy Cookie dan Es Krim Gabin yang terjual laris di festival kuliner.

Ini sisi baik dari foodies culture. Algoritma, meski sering bikin kita boros dan antre tanpa ujung, juga bisa jadi mesin penggerak ekonomi rakyat.

Data yang Bikin Mata Terbuka

Kalau kamu masih ragu seberapa besar fenomena ini, coba lihat angka-angkanya.

Data dari ekosistem Tokopedia dan TikTok Shop menunjukkan bahwa pada semester pertama 2026, jumlah pesanan makanan dan minuman (F&B) melonjak hampir 95 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Jumlah penjualnya pun bertambah 184 persen. Yang lebih menarik: pesanan F&B yang berasal dari video pendek tumbuh 86 persen secara tahunan pada kuartal I 2026.

Stephanie Susilo, Executive Director Tokopedia and TikTok Shop Indonesia, bilang Indonesia punya ekosistem kuliner lokal yang sangat beragam, dengan jutaan pelaku usaha yang terus berinovasi.

Sebuah studi yang diterbitkan di International Journal of Consumer Studies pada Januari 2026 juga menemukan bahwa 97 persen responden pernah memasak resep yang mereka temukan di TikTok, dan lebih dari separuh mengunjungi restoran setelah melihat ulasannya di aplikasi.

Algoritma bukan cuma memengaruhi apa yang kita makan, tapi juga ke mana kita pergi dan bagaimana kita menghabiskan waktu luang.

Tapi, Kamu Sendiri Bagaimana?

Di tengah semua data dan tren ini, pertanyaan yang paling penting sebenarnya sederhana: apakah kamu benar-benar menikmati makanannya, atau hanya menikmati sensasi terlihat "update"?

Olivia, seorang pencinta kuliner asal Bandung, punya prinsip yang sehat. Ia rela antre demi mencicipi tempat makan viral, tapi selalu mencari ulasan terlebih dahulu untuk memastikan makanan tersebut layak dicoba dan bukan sekadar gimmick marketing.

"Karena ada yang kayak misal brand makanan, kalau liat konten di media sosialnya si isian dia itu melimpah, bikin ngiler pokoknya. Tapi pas aku cek lagi, ada review pembeli yang bilang isiannya tuh seuprit. Jadi katanya isian yang melimpah itu cuma buat take konten," katanya.

Olivia juga membatasi diri: maksimal dua restoran viral dalam sebulan, dengan anggaran tidak lebih dari Rp400 ribu. Pendekatan ini mungkin terdengar sederhana, tapi justru inilah yang membedakan foodies sejati dari korban FOMO.

Jadi, Foodies Sejati Itu yang Mana?

Foodies sejati bukan yang paling banyak koleksi konten kuliner. Foodies sejati adalah yang bisa menikmati makanan tanpa harus memikirkan berapa banyak likes yang akan didapat.

Yang berani mengakui bahwa sebuah tempat viral ternyata biasa saja. Yang tahu kapan harus antre dan kapan harus bilang "skip".

Di era ketika algoritma terus-menerus menyodorkan "racun" kuliner baru, kemampuan untuk berhenti dan bertanya, "Aku benar-benar mau ini, atau cuma takut ketinggalan?" adalah bentuk literasi digital yang paling berharga.

Makanlah untuk pengalaman, bukan untuk validasi. Antrelah kalau memang penasaran, tapi jangan sampai lupa bahwa makanan yang paling enak adalah yang dinikmati tanpa tekanan untuk mengunggahnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.