Jateng

Krisis Air Bukan Cuma Soal Cuaca: Infrastruktur Keropos dan Kebocoran di Mana-mana

Theo Adi Pratama | 16 Oktober 2026, 15:08 WIB
Krisis Air Bukan Cuma Soal Cuaca: Infrastruktur Keropos dan Kebocoran di Mana-mana
foto Ilustrasi - krisis air bersih

JATENG.AKURAT.CO, Sumur kering, sungai menyusut, warga antre berjam-jam demi setetes air, sementara 1,29 juta orang di Jawa Barat saja terdampak kekeringan yang diperparah El Nino kuat sepanjang 2026.

Air Itu Sekarang Barang Mewah: Antre Jam 3 Pagi, Beli Rp10 Ribu Cuma Cukup Dua Jam

Bayangkan kamu harus bangun jam tiga pagi bukan karena mau olahraga atau kerja shift, tapi karena harus antre di sumur yang airnya tinggal rembesan. Itu pun kalau beruntung.

Kalau telat sedikit, ya pulang tangan kosong dan besok harus coba lagi.

Itulah realitas yang dihadapi ratusan ribu orang Indonesia sepanjang musim kemarau 2026. El Nino yang kata BMKG berkategori "sangat kuat" sudah bikin 98 zona musim yang biasanya basah sepanjang tahun ikut kering. Bukan cuma daerah yang biasa kekeringan. Kali ini hampir semua kena.

Dan tanggal 16 Oktober hari ini, saat sebagian wilayah sudah mulai mendung tanda musim hujan datang, masih ada jutaan orang yang belum bisa mandi dengan tenang.

Angka yang Bikin Geleng-Geleng Kepala

Coba cerna data ini sebentar. Di Jawa Barat saja, 1.294.655 jiwa terdampak kekeringan. Itu tersebar di 394.052 kepala keluarga, 276 kecamatan, dan 840 desa.

Pemerintah sudah menyalurkan 38.695.275 liter air bersih ke berbagai wilayah. Kabupaten Bekasi paling banyak menerima bantuan: 15.869.275 liter. Disusul Bogor dengan 7.615.000 liter.

Tapi angka-angka itu baru Jawa Barat. Di Brebes, Jawa Tengah, ribuan warga sudah enam bulan terakhir antre berjam-jam cuma buat dapat jatah air.

Desa Taraban, Kecamatan Paguyangan, jadi salah satu yang paling parah. Sumur gali yang biasanya jadi tumpuan warga sudah mengering total. Kalau pun masih ada sisa air, baunya nggak karuan dan warnanya sudah berubah.

Zulia, warga Desa Taraban, bilang krisis air ini sudah memutus harapan warga buat kebutuhan dasar seperti memasak, minum, mencuci, dan mandi.

"Selain kemarau panjang, krisis air yang melanda desa kami ini diperparah rusaknya instalasi pipa distribusi PDAM Tirta Baribis," ujarnya.

Yang bikin makin pahit: meski air PDAM mandek dan nggak mengalir setiap hari, warga tetap harus bayar tagihan penuh sekitar Rp115 ribu per bulan. Layanan berhenti, tagihan jalan terus.

Dari Bali Sampai NTT, Semua Haus

Kalau kamu pikir ini cuma masalah Jawa, kamu salah besar. Di Bali, tepatnya Kabupaten Jembrana, krisis air sudah memicu ketegangan antarwarga.

Dua kelompok di Desa Berangbang saling berebut pasokan air dari Sungai Pangkung Gayung yang debitnya makin menyusut. Gesekan di lapangan berujung sabotase dan pengrusakan fasilitas pipa.

Direktur Utama PDAM Tirta Amertha Jati Jembrana, I Gede Puriawan, bilang pihaknya langsung menerjunkan tim buat meredam ketegangan.

"Memang kemarin ada keributan di hulu, di sumber air. Ada kelompok dan BUMDes yang saling berebut mengambil air," ungkapnya. Rapat darurat pun digelar buat menetapkan mekanisme giliran distribusi air yang diatur resmi dan tertulis.

Di Kuta Selatan, harga air tangki melambung. Satu tangki 5.000 liter yang dulunya Rp250.000 sekarang jadi Rp300.000. Kalau daerahnya lebih pelosok, bisa Rp400.000. Anggota DPRD Badung, I Made Sumerta, bilang dampaknya berantai sampai ke harga sewa kos-kosan karena pemilik kos harus beli air tangki.

"Air ini kebutuhan yang sangat vital. Bagi investor, air juga menjadi pertimbangan karena biayanya sangat tinggi. Dampaknya juga berantai," kata Sumerta.

Belum selesai di situ. Di Nusa Tenggara Timur, 10 dari 21 kabupaten dan 1 kota masuk status waspada hingga awas krisis air. Daerah-daerah itu meliputi Alor, Belu, Flores Timur, dan Kabupaten Kupang.

Di Desa Sisir, Manggarai Timur, warga harus bangun jam tiga pagi buat antre di satu-satunya sumber air yang tersisa. Herry Narendra, warga setempat, bilang sumur-sumur sudah kering selama empat bulan.

"Untuk mendapatkan air, kami harus bangun jam tiga pagi untuk mengantre sumur. Itu pun airnya berbau dan kotor," katanya.

Krisis ini berdampak pada lebih dari 140 kepala keluarga, dengan Dusun Nganta paling parah. Satu fasilitas kesehatan pun ikut kesulitan air.

Di Desa Wolomotong, Sikka, situasinya nggak kalah memprihatinkan. Warga harus menunggu hingga larut malam buat menampung tetesan air yang keluar dari balik bebatuan.

Anak-anak pun ikut mencari air sepulang sekolah. Kepala Desa Wolomotong, Sergius Sareng, bilang sebanyak 2.724 jiwa atau 720 kepala keluarga butuh pasokan air bersih.

Pemerintah desa sudah menyurati BPBD Sikka pada 29 September 2026 buat minta bantuan.

Air Lebih Mahal dari Kopi Kekinian

Ini bagian yang paling bikin kita sebagai orang kota merasa tertampar.

Di Sumenep, Jawa Timur, warga Desa Larangan Barma sudah enam bulan dilanda kekeringan.

Mereka beli air Rp7.000 sampai Rp10.000 per jeriken. Air seharga Rp10.000 itu cuma cukup buat sekitar dua jam pemakaian.

Suhrani, warga setempat, bilang kebunnya kini mengering. Ia beralih memberi makan kerbau, sementara suaminya buka bengkel.

"Sudah sekitar enam bulan kekeringan ini. Kami air beli satu jam sekali Rp7.000 sampai Rp10.000. Jadi bersih-bersih juga harus hemat," katanya.

Sarifah, warga lainnya, mengaku ini pertama kalinya dia dapat dropping air dari pemerintah. "Kalau bersih-bersih pakai air sumur tapi gak banyak airnya. Jadi kami mengandalkan beli air," ujarnya.

Kekeringan di Sumenep berdampak pada 70 desa dengan 103.691 kepala keluarga atau 271.017 jiwa terdampak.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sudah menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Larangan Barma pada 14 Oktober lalu.

Pemerintah provinsi juga mengalokasikan bantuan senilai Rp130 juta buat mendukung distribusi air bersih di Sumenep.

Infrastruktur yang Keropos di Tengah Krisis

Yang bikin makin frustrasi, krisis ini bukan cuma gara-gara cuaca. Infrastruktur air di banyak daerah memang sudah bermasalah sejak lama.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, bahkan menyoroti bahwa 33 persen air PDAM hilang sebelum sampai ke warga. Kebocoran di mana-mana.

Di Banjarbaru dan Martapura, Kalimantan Selatan, kebocoran pipa intake Mandikapau bikin sekitar 80 ribu sambungan rumah terdampak.

Kepala BPAM Banjarbakula, Siddiq Wahyu Pamungkas, bilang distribusi belum normal karena tekanan air belum optimal.

"Karena tekanan masih belum full, otomatis banyu tidak sampai ke sana," ujarnya.

Di Depok, Sungai Ciliwung menyusut 70 sampai 90 persen. Direktur Operasional PDAM Tirta Asasta, Sudirman, bilang petugas terpaksa melakukan modifikasi manual pakai tumpukan karung pasir buat membendung dan menaikkan permukaan air agar bisa masuk ke saluran intake.

"Keringnya Sungai Ciliwung melumpuhkan kinerja komponen utama operasional PDAM Tirta Asasta," katanya.

Sungai Ciliwung menyuplai sekitar 90 persen kebutuhan air baku warga Depok.

Bayangkan kalau sungai itu benar-benar kering. Sekitar 100 ribu pelanggan perpipaan bisa kehilangan akses air.

Pemerintah Bergerak, Tapi...

Pemerintah sebenarnya sudah melakukan berbagai upaya. Di Sumenep, Pemprov Jatim menyiapkan opsi pembangunan sumur bor pada awal 2027.

Gubernur Khofifah bilang rencana itu akan disesuaikan dengan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat.

Di Balikpapan, Menko AHY menginstruksikan jajarannya buat meneliti teknologi desalinasi air laut sebagai solusi jangka panjang. Kota ini mengalami defisit pasokan air bersih hingga 1.000 liter per detik.

"Sementara kita hitung pemanfaatan teknologi desalinasi. Teruskan Satgas Tangki Air, karena sangat dibutuhkan masyarakat yang tidak memiliki akses IPA," kata AHY.

Di Sumatera Barat, Pemprov menyiapkan langkah cepat buat mengatasi krisis air bersih pascabencana hidrometeorologi di Kota Padang, termasuk suplai air menggunakan mobil tangki.

Kementerian PU juga membangun proyek SPAM Danau Lut Tawar buat memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di 14 kecamatan yang terdampak bencana.

Tapi pertanyaannya: apakah semua ini cukup cepat? Warga yang sudah enam bulan antre air nggak bisa menunggu sampai 2027 buat dapat sumur bor. Mereka butuh air hari ini, besok, dan seterusnya.

Ini Bukan Sekadar Soal Cuaca

Yang perlu kita sadari, krisis air ini bukan fenomena sekali lewat. BMKG sudah memprediksi bahwa musim kemarau 2026 akan lebih kering dari normal.

Sebanyak 482 zona musim masuk kategori kemarau lebih kering. Dan 98 zona musim yang biasanya hujan sepanjang tahun ikut terdampak kekeringan.

Artinya, apa yang terjadi hari ini bisa jadi gambaran masa depan kalau kita nggak serius menangani masalah air.

Infrastruktur yang bocor, tata kelola sumber daya air yang lemah, dan perubahan iklim yang makin ekstrem adalah kombinasi yang mematikan.

Di Brebes, warga nggak cuma kesulitan air. Mereka juga terbebani tagihan PDAM yang tetap harus dibayar meski air nggak mengalir.

Kasi Intel Kejari Brebes, Hendrik Murbawan, yang turut membantu pendistribusian air, mengakui bantuan yang ada masih jauh dari cukup.

"Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air bersih," katanya.

Jadi kalau hari ini kamu masih bisa buka kran dan air mengalir lancar, bersyukurlah. Karena di banyak tempat, air sudah jadi barang mewah yang harus diperjuangkan setiap hari.

Dan krisis ini nggak akan selesai cuma dengan doa atau menunggu hujan turun.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.