Jateng

Kasus Depresi di Semarang Tinggi, Abdul Hakam Beberkan Datanya

Theo Adi Pratama | 25 Oktober 2023, 18:25 WIB
Kasus Depresi di Semarang Tinggi, Abdul Hakam Beberkan Datanya

AKURAT.CO SEMARANG - Kecamatan Mijen, menjadi wilayah tertinggi kasus depresi di Kota Semarang.

Hal itu berdasarkan hasil skrining kesehatan mental yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang. 

Data Dinkes Kota Semarang, kasus kesehatan mental tercatat sebanyak 935 kasus hingga 10 Oktober 2023. Kasus kesehatan mental didominasi kasus gangguang depresi sebanyak 445 kasus.

Baca Juga: Sarasehan Kemandirian Ekonomi Pesantren, Ponpes Ar-Rois Cendekia Undang Umi Wahedaa

Kemudian, kasus gangguan campuran axietas dan depresi sebanyak 276 kasus. Gangguan neurotik 31 kasus. Gangguan somatoform 65. Gangguan insomnia ada 116 kasus.

Sedangkan, kasus percobaan bunuh diri sebanyak dua kasus. 

Kepala Dinkes Kota Semarang, Moh Abdul Hakam mengatakan, Puskesmas Mijen menyumbang angka kasus depresi tertinggi.

Angka itu diperoleh dari hasil skrining kesehatan mental pada anak usia 4 - 18 tahun dan dewasa di atas 18 tahun dengan menggunakan SDQ.

Baca Juga: Bappilu Gerindra Kota Semarang Siapkan Strategi Pemenangan Prabowo-Gibran

Dinas Kesehatan membagikan kuisioner melalui puskesmas setempat. 

“Peta sebaran kasus gangguan depresi paling banyak ada di Puskesmas Mijen," ungkap Hakam, Rabu (25/10/2023).

Data Dinkes Kota Semarang, wilayah di bawah naungan Puskesmas Mijen menyumbang 61 kasus.

Disusul, wilayah Puskesmas Rowosari dan Puskesmas Srondol masing-masing 36 kasus.

Baca Juga: Gerindra Jateng Optimis Keberadaan Gibran Bisa Menangkan Pilpres 2024

Kemudian, Puskesmas Padangsari 30 kasus. Puskesmas Halmahera dan Puskesmas Tlogosari masing-masing 24 kasus.

Puskesmas Ngesrep menyumbang 22 kasus. Puskesmas lainnya masing-masing menyumbang kurang dari 20 kasus.  

Hakam menjelaskan, ada beberapa upaya penanganan dan penanggulangan kesehatan jiwa yang dilakukan oleh Dinkes. 

Pihaknya menjadwalkan Posbindu rutin ditiap kelurahan dengan pemeriksaan antropometri, tekanan darah, gula darah, kesehatan jiwa, dan indera penglihatan/pendengaran.

Baca Juga: 22 Pelajar di Semarang Ditangkap Terlibat Tawuran dan Kepemilikan Senjata Tajam

Selain itu, Dinkes mengajak dan mengedukasi kader untuk aktif memantau warga yang membutuhkan perawatan jiwa.

"Kami juga meningkatkan awareness masyarakat dengan edukasi dan perluasan informasi tentang kesehatan jiwa,: jelasnya.

Pihaknya juga melakukan pembentukan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) Kota Semarang, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader kesehatan melalui pelatihan ataupun workshop dengan menghadirkan praktisi psikolog dan psikiater.

Baca Juga: Pemkot Semarang Siapkan Mitigasi Bencana Antisipasi Persoalan Banjir

Tak hanya itu, pihaknya juga memilah hasil skrining baik yang normal dan abnormal serta memberikan rujukan untuk melakukan wawancara psikiatrik lanjutan pada hasil abnormal.

Dinkes juga memiliki layanan SULTAN (Konsultasi Kesehatan Mental) di puskesmas.

"Bahkan kami sedang menyiapkan layanan SULTAN Online yang terintegrasi," tuturnya.

Sebelumnya, Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengaku prihatin adanya kasus dugaan bunuh diri di ibu kota Jawa Tengah.

Baca Juga: Pemerintah Jawa Tengah Gencarkan Perekaman e-KTP untuk Pemilih Pemula Jelang Pemilu 2024

Menurutnya, peran orangtua harus memperhatikan anaknya meski sudah beranjak dewasa.

Orang tua dituntut harus peka terhadap perkembangan putra-putri masing-masinh

Dia menyebut, Kota Semarang sebenarnya ada layanan konseling dalam Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM).

Namun, RDRM selama ini memang fokus pada penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan persoalan kasus bullying di sekolah.

Pasalnya, domain Pemkot Semarang saat ini hanya menangani tingkatan sekolah TK, SD, hingga SMP saja. 

Menurutnya, perlu ada kolaborasi dalam mencari solusi masalah ini.

Persoalan pada para pelajar khususnya mahasiswa, pihak kampus, orang tua kos, dan rekan-rekan harus bisa memahami. 

"Sehingga, kasus seperti bunuh diri bisa dihindari. Karena mahasiswa ini tidak mesti warga Semarang, dan kebanyakan anak kos yang merantau dari daerah lain," katanya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.