Jateng

Alarm Jam 13.15, Matikan Lampu, Tutup Mata 15 Menit: Kebiasaan Power Nap yang Ternyata Bicara Soal Watak

Theo Adi Pratama | 21 Oktober 2026, 12:13 WIB
Alarm Jam 13.15, Matikan Lampu, Tutup Mata 15 Menit: Kebiasaan Power Nap yang Ternyata Bicara Soal Watak
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Orang yang bisa tidur 15 menit di sela jam kerja bukan tipe yang malas, melainkan sosok yang sadar batas, disiplin pada waktu, dan tahu bahwa otak yang lelah bukan bahan bakar yang baik untuk mengambil keputusan.

Di kantor, Damar (32) punya ritual yang jarang dimiliki rekan-rekannya. Setiap hari, sekitar pukul satu siang, ia menghilang dari meja. Bukan ke pantry. Bukan ke ruang rapat. Ia pergi ke ruang istirahat kecil di lantai dasar, memasang penutup mata, menyetel alarm 15 menit, lalu tidur.

Tidak lebih. Tidak kurang.

“Kalau lebih dari 20 menit, bangunnya malah pusing. Jadi aku disiplin 15 menit,” kata pria yang bekerja sebagai analis data di Jakarta itu.

Rekan-rekannya dulu menganggap kebiasaan itu aneh. Ada yang bercanda, “Kamu ngantuk atau lagi sakit?” Ada yang diam-diam iri karena tidak bisa tidur siang di kantor. Ada juga yang menuduh Damar tidak produktif.

Tiga bulan kemudian, tuduhan itu berubah jadi pertanyaan. “Kamu kok bisa tetap fokus sampai sore? Aku udah blank dari jam tiga.”

Damar cuma tersenyum. Ia tidak sedang punya kekuatan super. Ia cuma tahu kapan harus berhenti.

Baca Juga: Jam 10 Pagi, Rapat Belum Selesai, Tapi Kepalanya Sudah Mikirin Nasi Padang atau Salad: Ada Watak Apa di Baliknya?

15 Menit Bukan Angka Asal

Durasi 15 menit bukan mitos. Sleep medicine specialist Dr. Nancy Foldvary-Schaefer dari Cleveland Clinic merekomendasikan tidur siang 15–20 menit untuk orang dewasa.

Waktu itu cukup untuk merasa segar tanpa masuk ke tidur dalam yang bikin pening saat bangun.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Sleep oleh Dr. Leon Lack dan tim dari Flinders University menemukan bahwa tidur 10 menit memberikan perbaikan paling signifikan pada kewaspadaan dan performa kognitif dibandingkan durasi yang lebih lama atau tanpa tidur sama sekali. Efeknya bahkan bertahan hingga beberapa jam setelahnya.

RRI juga melaporkan hal serupa. Power nap 10–15 menit adalah strategi biologis yang cerdas untuk memulihkan energi tanpa rasa pening saat terbangun.

Durasi itu memastikan tubuh hanya berada di tahap awal tidur (light sleep), sehingga bisa langsung terjaga dengan perasaan segar.

Damar tidak tahu nama penelitiannya. Tapi tubuhnya sudah membuktikan. “Aku nggak perlu baca jurnal. Aku cuma perlu coba 15 menit, 20 menit, 30 menit. Yang paling enak ya 15,” katanya.

Baca Juga: Orang yang Suka Coret-Coret Papan Tulis Saat Rapat Ternyata Punya Watak Ini

Tipe yang Sadar Batas, Bukan yang Malas

Psikologi tidur tidak pernah benar-benar sepakat bahwa kebiasaan tidur siang bisa membaca kepribadian secara pasti.

Sebuah artikel di Economic Times (2026) menegaskan bahwa preferensi tidur siang lebih mencerminkan pola tidur dan respons individu terhadap tekanan tidur biologis, bukan tipe kepribadian tertentu.

Tapi ada satu hal yang bisa dibaca dari orang yang secara rutin memilih power nap 15 menit: ia sadar batas.

Kelelahan kronis sering memicu iritabilitas yang merusak hubungan antar rekan kerja. Dengan memberi otak waktu untuk beristirahat sejenak, tingkat stres bisa ditekan.

Orang yang punya kontrol emosi baik cenderung lebih bijak menghadapi konflik daripada mereka yang memaksakan bekerja dengan otak yang sudah “panas”.

Damar bukan orang yang gampang marah. Tapi ia mengaku dulu sering uring-uringan sore hari. “Dulu aku pikir itu karena lapar. Ternyata karena otakku udah penuh,” ujarnya.

Baca Juga: Melihat kepribadian Seseorang: Kenapa Orang yang Menyeduh Kopi Perlahan Sering Lebih Tenang dari yang Pesan Kopi Ojol?

Strategis, Tapi Bukan Perfeksionis

Ada satu lagi yang sering terlewat. Power nap adalah keputusan strategis. Orang yang melakukannya tidak sekadar tidur. Ia menghitung waktu.

Ia menyiapkan alarm. Ia memilih tempat. Ia tahu kapan harus bangun agar tidak mengganggu tidur malam.

RRI menyebut power nap sebagai “metode manajemen energi yang berbasis data”.

Orang yang rutin melakukannya cenderung melihat istirahat sebagai investasi, bukan kemewahan. Mereka tidak menunggu sampai burnout. Mereka berhenti sebelum otak benar-benar habis.

Tapi bukan berarti mereka perfeksionis. Justru sebaliknya. Power nap adalah pengakuan bahwa tubuh punya batas.

Orang yang mengakuinya biasanya lebih realistis, lebih toleran pada ketidaksempurnaan, dan lebih bisa memaafkan diri sendiri ketika produktivitas menurun.

“Aku nggak bisa kerja 12 jam nonstop. Nggak ada yang bisa. Jadi aku tidur 15 menit, terus lanjut lagi,” kata Damar.

Bukan Soal Malas, Tapi Soal Berani Berhenti

Di banyak kantor, tidur siang masih dianggap tabu. Ada yang merasa tidak enak dengan atasan. Ada yang takut dibilang tidak serius.

Ada yang memilih menahan kantuk dengan kopi ketiga, lalu menyesal sore hari karena badan gemetar dan kepala berat.

Damar tidak peduli. Bukan karena ia berani melawan budaya. Tapi karena ia sudah mencoba kedua cara dan tahu mana yang lebih baik untuk tubuhnya.

“Dulu aku juga nggak berani. Aku pikir tidur siang itu buat anak TK. Sekarang aku pikir, yang nggak berani tidur siang itu yang belum dewasa,” katanya, setengah bercanda.

Orang yang bisa tidur 15 menit di tengah hari kerja bukan orang yang punya banyak waktu luang. Ia orang yang berani mengambil waktu.

Ia tahu bahwa 15 menit yang “hilang” akan dibayar dengan tiga jam sore yang lebih fokus, lebih tenang, dan lebih waras.

Dan di kantor yang penuh deadline, itu bukan kemewahan. Itu bertahan hidup.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.