Jateng

Kebakaran Gunung Lawu Capai 140 Hektare, Bagana dan Relawan terus Berjibaku

Muhammad Husni Mushonifi | 20 Oktober 2026, 13:06 WIB
Kebakaran Gunung Lawu Capai 140 Hektare, Bagana dan Relawan terus Berjibaku

JATENG.AKURAT.CO, Perjuangan mengendalikan kebakaran hutan di Gunung Lawu tidak hanya berlangsung di titik-titik api. Di tengah medan pegunungan yang terjal dan luas kebakaran yang diperkirakan mencapai 140 hektare, koordinasi antarpersonel, pemantauan kondisi gunung, serta kesiapan relawan menjadi bagian penting dalam upaya mencegah api semakin meluas.

Relawan Barisan Ansor Serbaguna Tanggap Bencana (BAGANA), Eko Hari, mengatakan relawan terus disiagakan untuk mendukung penanganan kebakaran di kawasan RPH Blumbang, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Berdasarkan laporan perkembangan Selasa (20/10/2026) pukul 06.15 WIB, dua titik api utama masih aktif setelah kebakaran yang mulai terdeteksi pada Kamis (15/10/2026) tersebut sempat membesar akibat angin kencang.

“Penanganan kebakaran Gunung Lawu membutuhkan kesiapan semua unsur. Tidak hanya personel yang melakukan pemadaman, tetapi juga relawan yang membantu pemantauan dan koordinasi. Informasi mengenai kondisi terbaru di lapangan harus terus diperbarui agar perkembangan kebakaran bisa dipantau dan penanganannya berjalan terarah,” ujar Eko Hari, Selasa (20/10/2026).

Menurut Eko, luas kawasan yang terbakar menjadi perhatian serius karena penanganan harus dilakukan di tengah berbagai keterbatasan. Medan yang terjal dan akses sumber air yang sulit dijangkau membuat pemadaman membutuhkan strategi serta kerja sama lintas unsur.

Kebakaran Meluas hingga 140 Hektare

Data penanganan karhutla mencatat luas kawasan terdampak diperkirakan mencapai 140 hektare hingga Senin (19/10/2026) sore. Angka tersebut merupakan perkiraan total luas terbakar, bukan luasan masing-masing titik api.

Lokasi kebakaran berada di kawasan RPH Blumbang, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu. Pergerakan api dilaporkan mengarah ke jalur pendakian Tambak hingga mendekati Pos 4 di Kecamatan Ngargoyoso.

Dua titik api utama masih menjadi perhatian tim gabungan. Angin kencang yang terjadi pada malam sebelumnya sempat memperbesar kobaran, sehingga pemantauan kondisi cuaca dan perkembangan api tetap diperlukan selama proses penanganan.

Pemerintah telah menetapkan status tanggap darurat sejak Sabtu (17/10/2026) untuk jangka waktu 14 hari. Status tersebut menjadi dasar penguatan koordinasi dalam pengerahan personel dan penanganan kebakaran.

Sementara itu, penyebab kebakaran masih diselidiki Polres Karanganyar bersama Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah.

Tiga Posko BAGANA dan Relawan Terus Disiagakan

Di tengah upaya pemadaman, relawan disiagakan di tiga titik, yakni Posko Induk, Posko Aju Cemoro Kandang, dan Posko Aju Tambak.

Ketiga posko tersebut menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan relawan untuk memantau perkembangan kondisi Gunung Lawu dan mendukung kelancaran koordinasi operasi penanganan karhutla.

Dalam agenda kegiatan Selasa (20/10/2026), personel di masing-masing posko diminta mulai mengirimkan foto dan video terbaru kondisi visual Gunung Lawu sejak pukul 05.30 WIB. Dokumentasi tersebut disampaikan melalui grup koordinasi relawan sebagai bahan tambahan pengarahan kegiatan pemadaman melalui udara atau water bombing di Lanud Adi Soemarmo.

Relawan dijadwalkan hadir di posko masing-masing pukul 07.00 WIB untuk mengikuti apel kegiatan pada pukul 08.00 WIB. Selanjutnya, evaluasi kegiatan direncanakan berlangsung pukul 16.00 WIB di Posko Induk.

Eko menjelaskan, pembaruan informasi secara berkala diperlukan agar koordinasi tetap berjalan dan perkembangan kondisi gunung dapat diketahui oleh unsur yang berkepentingan.

“Teman-teman relawan di tiga posko diminta tetap siaga dan melakukan pemantauan. Foto serta video kondisi terbaru menjadi bagian penting dari pembaruan informasi. Dengan komunikasi yang terjaga, setiap perkembangan dapat segera disampaikan kepada tim yang melakukan koordinasi penanganan,” katanya.

Selain menjaga kesiapsiagaan, relawan diminta membawa obat-obatan pribadi serta peralatan pendukung, seperti parang, sabit, dan garu apabila tersedia. Penggunaan peralatan untuk penanganan di lapangan harus menyesuaikan arahan koordinator dan mempertimbangkan keselamatan personel.

304 Personel Gabungan dan Dua Helikopter Dikerahkan

Upaya pemadaman kebakaran Gunung Lawu melibatkan sekitar 304 personel gabungan dari unsur TNI, Polri, BPBD, Perhutani, Basarnas, dan relawan.

Pemadaman dari darat dilakukan melalui pembuatan sekat bakar serta penggunaan alat pemukul api atau gepyok. Langkah tersebut ditujukan untuk membantu mengendalikan penjalaran api. Namun, medan terjal dan terbatasnya akses sumber air menjadi tantangan yang harus dihadapi petugas.

Dukungan pemadaman melalui udara juga telah dikerahkan. Operasi water bombing mulai berlangsung pada Senin (19/10/2026) sekitar pukul 14.30–15.00 WIB dengan menggunakan dua helikopter, yakni Super Puma dan helikopter jenis Mi. Air untuk operasi tersebut diambil dari Waduk Gondang.

Sebelum operasi dimulai, kabut tebal sempat menghambat pelaksanaan pemadaman udara. Setelah operasi berlangsung, pemantauan kondisi kawasan tetap diperlukan untuk mendukung koordinasi penanganan lebih lanjut.

Eko berharap kerja sama petugas dan relawan terus terjaga hingga kebakaran dapat dikendalikan.

“Dengan luas kebakaran yang sudah mencapai sekitar 140 hektare, seluruh unsur perlu mempertahankan kesiapsiagaan. Pemadaman dari darat, dukungan udara, dan pemantauan relawan harus saling mendukung. Harapan kami, api segera terkendali dan tidak meluas ke kawasan hutan lainnya,” tegasnya.

Jalur Pendakian Ditutup, Keselamatan Jadi Prioritas

Seluruh jalur pendakian Gunung Lawu masih ditutup sementara hingga kondisi dinyatakan aman. Belum ada kepastian mengenai jadwal pembukaan kembali jalur pendakian.

Hingga laporan terakhir, belum terdapat laporan korban jiwa. Permukiman warga juga dilaporkan masih relatif aman karena berada jauh dari lokasi kebakaran.

Meski demikian, masyarakat dan wisatawan diimbau tidak mendekati kawasan terdampak. Penutupan jalur pendakian harus dipatuhi untuk menghindari risiko akibat api, asap, maupun perubahan kondisi di lapangan.

Eko mengingatkan agar seluruh personel tetap mengikuti arahan koordinator selama menjalankan tugas dan tidak mengabaikan faktor keselamatan.

“Kami berharap seluruh petugas dan relawan dapat menjalankan tugas dengan aman. Masyarakat juga kami minta tidak mendekati lokasi kebakaran dan selalu mengikuti informasi resmi. Fokus kita bersama adalah membantu penanganan kebakaran, melindungi masyarakat, dan menjaga agar api tidak semakin meluas,” ujarnya.

Masyarakat dapat mengikuti perkembangan penanganan karhutla melalui BPBD Kabupaten Karanganyar, Perhutani, dan BMKG. Untuk koordinasi terkait posko darurat, BPBD Kabupaten Karanganyar dapat dihubungi melalui nomor (0271) 495 113.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.