Jateng

Update Rute Macet Kota Semarang dan Solo 19 Oktober 2026: Piere Tendean Masih Ditutup! Ini Titik Macet dan Jalur Selamat Hari Ini

Theo Adi Pratama | 19 Oktober 2026, 07:09 WIB
Update Rute Macet Kota Semarang dan Solo 19 Oktober 2026: Piere Tendean Masih Ditutup! Ini Titik Macet dan Jalur Selamat Hari Ini
Foto Ilustrasi - Update Kemacetan Semarang dan Solo

JATENG.AKURAT.CO, Buat kamu yang tinggal di Semarang dan rutin melintas di jam sibuk pagi, hari ini bukan waktunya berharap jalanan lengang.

Sejumlah titik masih jadi langganan padat merayap, terutama antara pukul 06.00 hingga 08.00 WIB.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Hari Ini 19 Oktober 2026: Semarang 36 Derajat, Solo 37, Awal Pekan Ini Panasnya Bikin Ngipas Terus

1. Jalan Kapten Piere Tendean – Masih Ditutup hingga 28 Oktober

Ini yang paling bikin pusing. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang masih menutup sementara Jalan Kapten Piere Tendean, tepatnya di lingkar Taman Signature atau Taman Parikesit yang mengarah ke Balai Kota dan Tugu Muda.

Penutupan berlangsung sejak 14 Oktober hingga 28 Oktober 2026, murni untuk proyek drainase.

Artinya, kalau kamu biasa melintas dari Jalan Pemuda dan belok ke arah Balai Kota lewat lingkar Taman Signature, dua minggu ke depan kamu harus cari akal.

Kepala DPU Kota Semarang, Suwarto, bilang proyek ini sebelumnya sempat dihentikan sementara karena berpotensi mengganggu lalu lintas, tapi kini dilanjutkan kembali.

2. Jalan Madukoro – Perbaikan Rel, Sistem Buka-Tutup

Perbaikan rel kereta api di perlintasan sebidang yang dilakukan KAI Daop 4 Semarang masih berlangsung.

Sistem buka-tutup satu sisi di titik ini bikin akses menuju Bandara Ahmad Yani tersendat sejak pagi.

Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, sudah mengimbau pengguna jalan untuk memanfaatkan Jalan Arteri Utara sebagai jalur alternatif.

“Perbaikan ini sangat diperlukan untuk memastikan operasional kereta api yang andal, aman, dan nyaman serta mengurangi potensi gangguan perjalanan,” ujarnya.

3. Titik Langganan yang Tak Pernah Absen

Selain tiga titik di atas, Jalan Kedungmundu Raya, Kaligawe Raya, Majapahit (yang masih dalam masa betonisasi), Siliwangi, hingga Simpang Kalibanteng tetap jadi langganan padat merayap setiap hari.

Di Kedungmundu, misalnya, titik macet utamanya ada di pertigaan arah krematorium dan simpang di depan Masjid Baitul Muttaqin.

Dinas Perhubungan sudah memasang pembatas jalan berupa traffic cone, tapi tetap saja ada oknum yang membobol pembatas itu demi mengambil jalan pintas.

“Saya sebagai pengguna jalan Kedungmundu, memang di perputaran arah krematorium sering macet apalagi jalannya agak nanjak ya,” kata Widi Astari, warga yang sering melintasi jalur tersebut, kepada RRI.

Sementara itu, Simpang Kalibanteng masih jadi momok tersendiri. Plt. Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Danang Kurniawan, mengakui bahwa terlalu lamanya traffic light di Kalibanteng memang mengakibatkan kemacetan panjang.

Durasi traffic light dari arah Jakarta saat ini sekitar 150 detik—yang membuat antrian kendaraan bisa mencapai simpang Hanoman.

Solo: Nonongan dan Yos Sudarso Masih Jadi Biang Drama

Di Solo, pagi hari bukan cuma soal macet, tapi juga soal proyek yang belum kelar. Jalan Slamet Riyadi, terutama di koridor Nonongan, jadi langganan padat merayap di jam berangkat kerja dan sekolah, sekitar pukul 07.00–09.00 WIB.

Masalah utamanya: proyek revitalisasi Jalan Yos Sudarso sisi barat masih berlangsung hingga Desember 2026. Sejak Agustus lalu, arus dari selatan ke utara ditutup sementara, dan pengendara dialihkan lewat simpang Gemblegan, Jl Veteran, Jl Kapten Mulyadi, atau via Simpang Coyudan, Jl Radjiman, dan Jl Gatot Subroto.

Kepala Dishub Solo, Taufiq Muhammad, menjelaskan bahwa arus dari arah selatan (Coyudan/Sukoharjo) menuju utara (Nonongan/Jalan Slamet Riyadi) ditutup sementara, sementara arus dari Simpang Nonongan menuju Coyudan masih tetap dapat dilalui.

Proyek ini menelan anggaran lebih dari Rp 11 miliar dari APBD 2026, dengan target selesai akhir tahun. Selain memindahkan jaringan utilitas ke bawah tanah, trotoar juga dilebarkan dari sekitar satu meter menjadi 2,5 meter agar lebih nyaman bagi pejalan kaki.

Selain Yos Sudarso, ada juga proyek drainase di Jalan Kebangkitan Nasional—dari Simpang Tugu Lilin hingga Simpang Tiga Beringin Penumping—yang pengaturan lalu lintasnya berlangsung hingga 6 November 2026.

Pengendara dari arah barat menuju Jalan Slamet Riyadi bisa menggunakan rute alternatif melalui Jalan Dr Radjiman atau Simpang Gendengan, sementara kendaraan dari arah timur dapat memutar melalui Jalan Bhayangkara-Sriwedari maupun Jalan Dr Radjiman Laweyan.

Yang Perlu Kamu Tahu: Tol Semarang Mulai Normal Kembali Malam Ini

Ada satu kabar baik yang mungkin bisa sedikit melegakan. Perbaikan di Ruas Tol Semarang—khususnya Seksi B KM 432+684 hingga KM 428+494 Jalur B—dijadwalkan beroperasi normal kembali pada Senin (19/10/2026) pukul 20.00 WIB.

Jadi, buat kamu yang sering menggunakan tol pada malam hari, arusnya diprediksi mulai lancar kembali setelah jam tersebut.

Tips Biar Nggak “Nyangkut” di Jalan

BMKG dan Dishub sudah mengimbau masyarakat untuk mengatur ulang waktu perjalanan. Ini poin-poin pentingnya:

1. Berangkat lebih awal 15–30 menit. Ini sederhana tapi efektif—terutama kalau kamu melintas di titik-titik rawan seperti Piere Tendean atau Kalibanteng.

2. Manfaatkan aplikasi navigasi real-time. Google Maps memang andalan, tapi untuk jalur tol Semarang-Solo, aplikasi Travoy dari Jasa Marga menawarkan CCTV live di 400+ kamera yang memantau koridor tol secara real-time.

3. Untuk pengendara dari arah barat yang mau ke pusat kota Semarang: disarankan lewat Pamularsih dan Kaligarang untuk menghindari kepadatan di sekitar Jalan dr. Kariadi dan Jalan Pemuda.

4. Untuk warga Genuk, Sayung, atau Demak: hindari Jalan Kaligawe Raya saat jam sibuk. Kapolsek Genuk, Kompol Rismanto, mengimbau agar menggunakan jalur alternatif melalui kawasan Pedurungan, Jalan Wolter Monginsidi, serta wilayah Genuk.

5. Sabar. Karena macet di Semarang dan Solo pagi ini bukan soal “kalau”, tapi “seberapa parah”.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.