Jateng

Anak Paling Penurut di Kantor: Diandalkan Semua Orang, Tapi Nggak Pernah Dianggap “Cukup”

Theo Adi Pratama | 19 Oktober 2026, 07:51 WIB
Anak Paling Penurut di Kantor: Diandalkan Semua Orang, Tapi Nggak Pernah Dianggap “Cukup”
Foto Ilustrasi - Suka Duka Jadi Orang Paling Nurut di Kantor

JATENG.AKURAT.CO, Fenomena ini punya nama keren dalam psikologi: High Adapted Child—pola perilaku di mana seseorang merespons permintaan atau otoritas dengan kepatuhan otomatis, sering kali sebelum sempat berpikir apakah ia benar-benar setuju atau tidak.

Dalam konteks kantor, orang ini adalah kolega yang selalu mengatakan “iya” untuk tugas tambahan, teman yang selalu menyetujui rencana yang sebenarnya tidak ia inginkan, dan anggota keluarga yang selalu mengalah.

Masalahnya, dari luar, perilaku ini terlihat identik dengan dedikasi. Atasan melihatnya sebagai karyawan teladan. Rekan kerja melihatnya sebagai orang yang bisa diandalkan.

Tapi si “anak penurut” sendiri sering kali tidak bisa membedakan mana yang benar-benar setuju dan mana yang sekadar “terpaksa mengiyakan”.

Baca Juga: Kerjaan Kelar Jam 10, Tapi Pulang Jam 5: Seni Pura-Pura Sibuk yang Wajib Dikuasai

Sisi Terang: Jadi Orang yang Selalu Diandalkan

Bukan berarti jadi anak penurut itu selalu buruk. Ada sisi positif yang nyata, terutama di mata atasan dan tim.

1. Dipercaya untuk tugas-tugas krusial. Ketika ada proyek mendesak atau klien rewel, nama kamu yang pertama dicari. Kamu adalah “pemadam kebakaran” tim—selalu siap sedia.

2. Reputasi sebagai karyawan yang kooperatif. Dalam budaya kerja yang masih menghargai kepatuhan, menjadi “anak yang nggak pernah membantah” sering dianggap sebagai aset. Kamu minim konflik, mudah diatur, dan jarang bikin masalah.

3. Hubungan baik dengan atasan. Atasan yang suka kepatuhan akan merasa nyaman denganmu. Kamu jarang membantah, jarang bertanya balik, dan selalu menyelesaikan apa yang diminta.

Tapi, seperti kata pepatah, semua yang berlebihan itu tidak sehat—termasuk kebaikan.

Baca Juga: Senin Ngantuk: Kopi Saset atau Kopi Cafe, Sih? Ini Jawaban Jujurnya

Sisi Gelap: Burnout yang Datang Diam-Diam

Di balik label “anak emas” itu, ada beberapa hal yang jarang dibicarakan.

Beban Kerja yang Tak Pernah Ditolak

Karena kamu selalu bilang “iya”, permintaan terus mengalir. Tugas dari atasan, titipan rekan kerja yang sedang cuti, hingga pekerjaan yang sebenarnya bukan jobdesc-mu. Semuanya masuk ke piringmu, karena semua orang tahu kamu tidak akan menolak.

Padahal, penelitian menunjukkan bahwa orang yang selalu overcommit memiliki risiko burnout 40 persen lebih tinggi. Dan burnout ini bukan cuma soal lelah fisik—ini adalah kelelahan emosional yang membuat kamu kehilangan motivasi, merasa sinis terhadap pekerjaan, dan pada akhirnya kinerja justru menurun.

Resentmen yang Tidak Pernah Diucapkan

Ini yang paling berbahaya. Karena kamu tidak pernah mengeluh, tidak ada yang tahu kamu keberatan. Kamu menelan semua rasa frustrasi itu sendirian, dan resentmen pun menumpuk—bukan pada satu orang, tapi pada seluruh sistem yang menganggap pengorbananmu sebagai hal biasa.

Pada suatu titik, resentmen ini bisa meledak dalam bentuk yang tidak terduga: penolakan tiba-tiba, menarik diri secara emosional, atau bahkan outburst yang terlihat tidak proporsional oleh orang yang hanya melihat sederet “iya” sebelumnya.

Kehilangan Jati Diri dan Nilai Strategis

Seorang yes-man—istilah yang populer di dunia kerja—adalah individu yang ahli menyenangkan atasan, tetapi perlahan kehilangan jati diri, daya kritis, dan nilai strategisnya di organisasi.

Ketika kamu selalu setuju, ide-idemu sendiri tidak pernah diuji. Kamu berhenti bertanya “apakah ini masuk akal?” dan mulai sekadar menjalankan perintah.

Padahal, Harvard Business Review mencatat bahwa garis antara “membantu” dan “mengiyakan sampai burnout” itu sangat tipis.

Dan ketika kamu selalu diam demi menjaga hubungan, produktivitas dan kualitas kerjamu justru yang jadi taruhannya.

Baca Juga: Kalender Jawa 19–25 Oktober 2026: Neptu Tertinggi Ada di Kamis Pahing

Kenapa Kita Melakukannya? Akar Masalahnya Bukan Malas

Kalau kamu pikir orang yang selalu mengiyakan itu karena ingin cari muka, kamu salah. Menurut para psikolog, akar dari perilaku ini biasanya adalah rasa takut:

  • Takut mengecewakan orang lain

  • Takut dinilai tidak kompeten

  • Takut kehilangan kesempatan atau persetujuan

  • Takut dianggap pembangkang—terutama di budaya kerja yang masih feodal dan menganggap kritik sebagai perlawanan

Di Indonesia, fenomena ini diperparah oleh budaya “gak enakan” dan “sungkan” yang sudah mendarah daging.

Penelitian bahkan menyebut bahwa menjadi people pleaser di kantor Indonesia bukan sekadar sifat kepribadian, melainkan strategi bertahan hidup.

Baca Juga: Update Rute Macet Kota Semarang dan Solo 19 Oktober 2026: Piere Tendean Masih Ditutup! Ini Titik Macet dan Jalur Selamat Hari Ini

Yang Bisa Kamu Lakukan: Mulai dari Satu Jeda Kecil

Kabar baiknya, menjadi “anak penurut” bukan takdir yang tidak bisa diubah. Ada beberapa langkah konkret yang bisa kamu coba—tanpa harus berubah menjadi orang yang sinis atau suka membantah.

1. Sisipkan jeda sebelum menjawab “iya”. Latih dirimu untuk mengatakan, “Boleh saya cek dulu kapasitas saya, nanti saya kabari lagi?” Jeda ini memberi waktu bagi otak rasionalmu untuk menimbang permintaan itu, bukan sekadar merespons secara refleks.

2. Ubah “tidak” menjadi “ini prioritasnya bagaimana?” Alih-alih menolak mentah-mentah, coba jawab: “Saya bisa bantu, tapi tolong bantu tentukan mana yang harus saya turunkan prioritasnya.” Ini mengubah percakapan dari biner ya/tidak menjadi diskusi tentang kapasitas.

3. Kenali tanda-tanda burnout pada dirimu sendiri. Kalau kamu mulai merasa sinis, lelah yang tidak wajar, atau kehilangan motivasi, itu adalah sinyal bahwa kamu sudah memberi terlalu banyak. Jangan abaikan.

4. Bicarakan dengan atasan tentang beban kerja—secara jujur. Kalau kamu terus-terusan menerima tugas tambahan tanpa kompensasi atau pengakuan, itu bukan “loyalitas”; itu eksploitasi. Karyawan yang berani berdebat dan berdiskusi justru lebih bernilai bagi organisasi daripada mereka yang selalu mengiyakan.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Hari Ini 19 Oktober 2026: Semarang 36 Derajat, Solo 37, Awal Pekan Ini Panasnya Bikin Ngipas Terus

Refleksi: Jadi Penurut Boleh, Tapi Jangan Sampai Kehilangan Diri

Menjadi orang yang bisa diandalkan itu baik. Menjadi orang yang selalu siap membantu itu mulia.

Tapi menjadi orang yang tidak pernah bisa mengatakan tidak—bahkan ketika tubuh dan pikirannya sudah menjerit—itu bukan kebaikan; itu pengabaian terhadap diri sendiri.

Kantor akan selalu punya permintaan. Atasan akan selalu punya tugas. Tapi kamu hanya punya satu tubuh, satu pikiran, dan satu kehidupan yang perlu kamu jaga.

Jadi, mulai Senin depan, coba satu hal sederhana: sebelum menjawab “siap”, tarik napas dulu. Tanya dirimu: “Apakah aku benar-benar bisa, atau aku hanya takut mengecewakan?”

Jawabannya mungkin akan mengubah caramu bekerja—dan cara orang lain memperlakukanmu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.