Jateng

Melihat kepribadian Seseorang: Kenapa Orang yang Menyeduh Kopi Perlahan Sering Lebih Tenang dari yang Pesan Kopi Ojol?

Theo Adi Pratama | 21 Oktober 2026, 10:55 WIB
Melihat kepribadian Seseorang: Kenapa Orang yang Menyeduh Kopi Perlahan Sering Lebih Tenang dari yang Pesan Kopi Ojol?
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Cara orang menyeduh kopi ternyata bukan cuma soal selera, tapi juga cermin kecil tentang bagaimana ia menghadapi hidup: ada yang butuh kontrol, ada yang butuh kecepatan, dan ada yang cuma butuh teman ngobrol.

Rian (29) bangun lebih pagi tiga puluh menit dari rekan-rekannya. Bukan untuk olahraga. Bukan untuk ibadah pagi. Ia bangun untuk menyeduh kopi.

Ritualnya selalu sama. Timbang biji kopi. Giling. Panaskan air sampai 93 derajat. Basahi filter kertas. Tuang air perlahan dalam tiga tahap. Total waktu: sekitar empat menit.

“Kalau skip satu langkah, rasanya beda. Nggak enak di hati,” kata Rian, yang bekerja di sebuah agensi kreatif di Semarang.

Di meja sebelah, Doni (31) menyeduh kopi saset. Air panas dari dispenser. Tuang. Aduk. Selesai dalam dua puluh detik. “Kopi ya kopi. Yang penting kafeinnya masuk,” katanya.

Dua orang. Dua cara. Satu kantor.

Baca Juga: Fenomena RAMageddon Bikin HP Murah Makin Mahal, Kenapa iPhone Tetap Diburu?

Tubruk, V60, French press: bukan cuma beda alat

Cara menyeduh kopi memang tidak pernah sekadar soal alat. Ia soal pilihan. Dan pilihan, menurut psikiater dr Priya Raghavan, lebih banyak terkait dengan “preferensi dan cara seseorang menghadapi situasi tertentu”.

Penggemar kopi tubruk dan manual brew seperti V60 sering digambarkan sebagai pribadi yang tegas dan tahu apa yang diinginkan. Mereka tidak butuh banyak tambahan. Tidak butuh gula. Tidak butuh susu. Kopi hitam, apa adanya.

“Karakter ini juga dimiliki orang yang suka memesan kopi hitam tanpa tambahan apa pun seperti americano, manual brew atau kopi tubruk,” tulis CNN Indonesia, 19 September 2026.

Rian masuk kategori ini. Ia tidak pernah menambahkan gula ke kopinya. “Kalau kopinya bagus, kenapa harus ditutupi?” katanya.

Tapi ada sisi lain dari V60 yang jarang dibahas. Menyeduh dengan V60 butuh kontrol. Suhu air harus tepat.

Rasio kopi dan air harus dihitung. Tuangan harus stabil. Metode ini “tidak forgiving” bagi yang sembarangan.

Orang yang memilih V60 setiap pagi bukan cuma suka rasanya. Ia suka prosesnya. Ia suka bisa mengendalikan sesuatu, bahkan kalau yang dikendalikan cuma secangkir kopi.

Baca Juga: Fenomena Downgrade Dari Flagship Rp22 Juta ke Midrange Rp4 Juta: Turun Kelas atau Naik Kelas?

French press: sabar, tapi tidak mau ribet

Di antara V60 dan saset, ada French press. Metodenya sederhana: masukkan kopi, tuang air, tunggu empat menit, tekan. Tidak perlu filter kertas. Tidak perlu teknik tuang.

“French press adalah pilihan bagi mereka yang ingin proses sederhana dan tekstur lebih penuh,” tulis BeanHub dalam panduan seduh 2026.

Penggemar French press sering digambarkan sebagai orang yang sabar tapi tidak mau terlalu banyak aturan. Mereka mau menunggu.

Tapi mereka tidak mau menghitung rasio sampai dua angka di belakang koma. Mereka mau kopi yang penuh, berani, dan tidak perlu dipoles.

Dalam bahasa kepribadian, ini mirip orang yang santai tapi punya pendirian. Tidak suka drama. Tapi juga tidak mau diatur.

Baca Juga: Kopi Saset di Pantry Vs Kopi Ojol: Ada Filosofi Mahal di Balik Rp2.000 dan Rp25.000

Saset: cepat, praktis, dan tidak munafik

Lalu ada saset. Kopi yang sering dianggap “kelas dua” oleh para penggemar manual brew.

Tapi jangan salah. Orang yang menyeduh saset setiap pagi bukan berarti tidak peduli pada kopi. Mereka cuma punya prioritas lain. Mereka punya deadline.

Punya anak yang harus diantar sekolah. Punya rapat jam delapan. Mereka tidak punya empat menit untuk menuang air perlahan.

Dalam banyak hal, pemilih saset justru lebih jujur pada dirinya sendiri.

Mereka tahu apa yang mereka butuhkan: kafein, cepat, tanpa ritual. Tidak ada pretensi. Tidak ada pencitraan.

“Kadang orang yang paling ribet soal kopi justru yang paling ribet soal hidup. Yang sasetan malah yang paling tenang,” kata Rian, setengah bercanda.

Tapi jangan buru-buru menyimpulkan

Semua kaitan di atas terdengar rapi. Terlalu rapi, malah. Dan di sinilah para ahli mengingatkan kita untuk berhenti sejenak.

dr Priya Raghavan menegaskan bahwa pesanan kopi “tidak bisa dijadikan sebagai tes psikologis atau cara yang akurat untuk menentukan kepribadian seseorang”.

Seseorang yang terus memesan minuman yang sama mungkin hanya menemukan kenyamanan di tengah hari yang berat. Seseorang yang bereksperimen dengan berbagai metode mungkin hanya sedang bosan.

“Melabeli mereka sebagai sosok yang berjiwa petualang hanya berdasarkan perilaku tersebut tentu merupakan penafsiran yang berlebihan,” katanya.

Psikolog klinis Ramani Durvasula pernah mensurvei 1.000 orang dan menemukan pola hubungan antara jenis kopi dan sifat kepribadian.

Tapi pola itu kecil. Ia kecenderungan, bukan hukum. Dan korelasi, seperti kata statistikawan, bukanlah kausalitas.

Cara menyeduh kopi bisa membocorkan sesuatu. Tapi ia tidak pernah bercerita seluruhnya.

Yang sebenarnya terbaca bukan kopinya, tapi ritualnya

Mungkin yang lebih jujur dibaca bukan pilihan metodenya, melainkan ritual di baliknya.

Podcast Comeback Stories edisi September 2026 membahas ritual menyeduh kopi perlahan sebagai “microcosm of healing” yang mengajarkan kesabaran, kepercayaan, dan martabat melakukan satu hal dengan baik tanpa harus dioptimasi atau dimonetisasi.

“Speed is often just anxiety in disguise,” kata naratornya. Kecepatan sering kali hanya kecemasan yang menyamar.

Orang yang memilih menyeduh perlahan mungkin sedang melatih dirinya untuk berhenti. Orang yang memilih saset mungkin sedang melatih dirinya untuk bertahan. Keduanya sama-sama berjuang, hanya dengan cara yang berbeda.

Rian tidak pernah bilang dirinya lebih baik dari Doni. Doni juga tidak pernah merasa lebih rendah. Mereka hanya dua orang yang minum kopi dengan cara yang cocok untuk hidup masing-masing.

“Kalau ditanya siapa yang lebih bahagia, ya tergantung siapa yang ditanya,” kata Rian.

Donipun setuju. “Yang penting kopinya panas. Sisanya urusan belakangan.”

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.