Jateng

Fenomena Downgrade Dari Flagship Rp22 Juta ke Midrange Rp4 Juta: Turun Kelas atau Naik Kelas?

Theo Adi Pratama | 21 Oktober 2026, 09:26 WIB
Fenomena Downgrade Dari Flagship Rp22 Juta ke Midrange Rp4 Juta: Turun Kelas atau Naik Kelas?
Foto Ilustrasi - Fenomena Downgrade smartphone dari Flagship ke Midrange

JATENG.AKURAT.CO, Fenomena downgrade dari HP flagship ke midrange makin ramai di tengah RAMageddon dan tekanan ekonomi, dan bagi sebagian orang, turun kelas justru terasa seperti naik kelas.

Gilang (31) punya kebiasaan yang bertahan hampir sepuluh tahun. Setiap tahun, ia ganti HP flagship. Bukan karena HP lamanya rusak. Bukan karena baterainya bocor. Tapi karena ada model baru, dan ia merasa harus punya.

“Dulu tuh kayak ada alarm. Begitu flagship baru keluar, tangan gatel. Padahal HP lama masih mulus,” kata pria yang bekerja di perusahaan swasta di Jakarta itu, suatu sore.

Flagship terakhirnya sebuah ponsel lipat seharga Rp22 juta. Ia beli dengan skema cicilan dua belas bulan. Waktu itu, baginya flagship bukan sekadar alat komunikasi. Flagship adalah cara mengatakan bahwa ia sudah sampai di titik tertentu dalam hidup.

Tahun 2026 mengubah cara pandangnya.

Bukan karena ia tiba-tiba jadi bijak. Tapi karena angka di layar kasir sudah tidak masuk akal.

Baca Juga: Kopi Saset di Pantry Vs Kopi Ojol: Ada Filosofi Mahal di Balik Rp2.000 dan Rp25.000

RAMageddon: ketika AI “memakan” jatah RAM manusia

Dunia sedang dilanda apa yang disebut RAMageddon. Istilah ini muncul karena kebutuhan memori untuk infrastruktur kecerdasan buatan meledak.

Data center AI memborong chip memori dalam jumlah masif. Pasokan untuk perangkat konsumen pun menipis.

Selular (12/10/2026) melaporkan harga RAM LPDDR5X 12GB melonjak sekitar 175 persen dibanding tahun sebelumnya.

Satu keping kini sekitar US$145 atau setara Rp2,5 juta. Pada kuartal III 2026, harganya diperkirakan naik lagi menjadi US$180–206, sekitar Rp3,2 juta per keping.

PhoneArena (9/10/2026) mencatat harga RAM naik 70 sampai 100 persen sejak awal 2026.

Modul LPDDR5X 12GB yang awalnya US$25–70 melesat ke US$146 pada kuartal II, dan diproyeksikan menyentuh US$180–206 pada kuartal III.

Bagi produsen, ini mimpi buruk. Samsung sampai berencana memangkas produksi HP hingga 30 persen pada kuartal IV 2026.

Xiaomi, OPPO, dan vivo juga disebut mengurangi porsi produksi di segmen murah karena marginnya sudah tidak sehat.

Bagi konsumen, efeknya sederhana: HP jadi mahal.

CNET (12/10/2026) menulis harga rata-rata HP global naik 20 persen sepanjang 2026. Pengiriman HP global anjlok 20 persen pada kuartal III, level terendah sejak 2012.

Vietnam.vn (21/10/2026) menambahkan bahwa biaya chip memori kini menyumbang hampir 60 persen dari total biaya komponen pada HP di bawah US$400.

Gilang merasakan getirnya. Flagship yang dulu ia incar kini dibanderol jauh lebih tinggi.

Galaxy S26, misalnya, naik US$100 dari generasi sebelumnya. iPhone 18 Pro dan Pro Max juga naik US$100.

“Waktu lihat harga, aku ketawa sendiri. Ini HP atau DP mobil?” katanya.

Baca Juga: Semarang Berawan, Solo Terik 38°C Lalu Hujan Sore: Cuaca Hari Ini 21 Oktober 2026 Bikin Bingung Mau Bawa Payung atau Kipas

Dari flagship ke midrange: bukan karena tidak mampu, tapi karena sudah cukup

Gilang bukan orang yang tidak mampu. Ia masih bisa mencicil flagship baru. Tapi ia mulai bertanya: untuk apa?

Pertanyaan itu muncul setelah ia membaca laporan BBC Indonesia (20/10/2026) tentang fenomena downgrade hidup kelas menengah.

Laporan itu menyebut pertumbuhan upah pada 2026 hanya sekitar 1,7 persen, sementara inflasi pangan bergejolak di atas 5 persen. Masyarakat yang turun kelas tembus 10 juta dalam tujuh tahun terakhir.

“Aku sadar, aku bukan sedang krisis. Tapi aku sedang diajari bahwa ‘cukup’ itu bukan kata kotor,” kata Gilang.

Ia mulai melirik midrange. Bukan yang paling murah. Bukan yang paling kencang. Tapi yang cukup. Layar bagus. Baterai tahan sehari. Kamera lumayan. RAM 8GB. Harga Rp4 juta.

Pilihannya jatuh pada Samsung Galaxy A57 5G. Bukan karena ia penggemar berat Samsung.

Tapi karena spesifikasinya masuk akal untuk pekerjaannya: email, dokumen, sesekali foto, dan video call.

“Awalnya ada rasa inferior. Kayak teman-teman masih pakai lipat, aku pakai HP biasa,” akunya.

Rasa itu bertahan sekitar dua minggu.

“Setelah itu biasa aja. Ternyata nggak ada yang peduli HP aku apa. Yang peduli cuma aku sendiri.”

Baca Juga: Camilan di Meja Rekan Kerja Selalu Lebih Menggoda? Ternyata Bukan Gara-Gara Kamu Rakus

Midrange bukan lagi “HP murahan”

Ada alasan lain mengapa Gilang betah. Midrange 2026 bukan midrange 2019.

RRI (8/5/2026) mencatat persaingan di segmen midrange semakin sengit.

Produsen berlomba menghadirkan spesifikasi tinggi di harga terjangkau.

Fitur yang dulu hanya ada di flagship, seperti layar AMOLED, pengisian cepat, dan kamera dengan OIS, kini lazim di kelas menengah.

Tutup Menu (30/6/2026) menyebut tren 2026 menunjukkan fitur premium mulai hadir di kelas menengah.

Pasar bergerak menuju perangkat dengan layar berkualitas tinggi dan baterai besar.

Gilang tidak perlu 200 megapiksel. Ia tidak perlu zoom 100x. Ia tidak perlu chipset yang bisa menjalankan game berat. Ia hanya perlu HP yang tidak membuatnya cemas.

“Flagship itu kayak pacar yang terlalu sempurna. Bikin insecure. Midrange itu kayak teman lama. Nggak bikin kagum, tapi bikin tenang,” katanya, lalu tertawa.

Flagship bekas: jalan tengah yang makin ramai

Ada juga yang memilih jalan lain: flagship bekas.

RRI (20/8/2026) melaporkan pasar HP bekas semakin diminati pada 2026. Flagship lama seperti Galaxy Z Fold4, Z Flip4, Galaxy S21, dan Galaxy S23 banyak dicari karena harganya turun jauh dari harga barunya.

Counterpoint menyebut konsumen kini menahan diri dan memakai perangkat lebih lama. Banyak yang melirik HP bekas atau memilih perangkat kelas atas yang nilainya lebih stabil.

Gilang sempat tergoda. Tapi ia memilih midrange baru. Bukan karena flagship bekas buruk.

Tapi karena ia ingin memutus siklus. Flagship bekas tetap flagship. Tetap ada godaan untuk upgrade. Tetap ada rasa bahwa ia sedang menunda, bukan berhenti.

“Aku mau benar-benar berhenti, bukan cuma pindah kandang,” katanya.

Turun kelas atau naik kelas?

Di kantornya, Gilang bukan satu-satunya. Dua rekan satu tim juga sudah pindah ke midrange. Satu orang pindah ke iPhone bekas. Satu lagi masih bertahan dengan flagship lama yang baterainya sudah minta diganti.

“Kami bercanda, ini generasi ‘HP cukup’. Nggak ada yang mau ikut perlombaan lagi,” kata Gilang.

Fenomena ini bukan sekadar soal uang. Ini soal identitas. Flagship pernah menjadi penanda bahwa seseorang sudah “sampai”.

Sekarang, penanda itu bergeser. Banyak orang mulai merasa bahwa sampai bukan soal HP yang dipegang, tapi soal kepala yang tenang.

Gilang tidak merasa turun kelas. Ia merasa baru saja keluar dari kelas yang tidak pernah ia butuhkan.

“Dulu aku beli flagship biar dilihat orang. Sekarang aku beli midrange biar dilihat dompet,” katanya.

Kalimat itu keluar tanpa nada getir. Hanya lega.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.