Jateng

Camilan di Meja Rekan Kerja Selalu Lebih Menggoda? Ternyata Bukan Gara-Gara Kamu Rakus

Theo Adi Pratama | 21 Oktober 2026, 09:02 WIB
Camilan di Meja Rekan Kerja Selalu Lebih Menggoda? Ternyata Bukan Gara-Gara Kamu Rakus
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Camilan di meja rekan kerja selalu terasa lebih menggoda bukan karena kamu rakus, tapi karena otakmu sedang dipermainkan oleh food envy, social facilitation, dan efek makanan terlarang.

Rani sudah menyiapkan bekal sehat. Almond panggang. Protein bar rendah gula. Air mineral dingin. Rencananya jelas: ngemil terkontrol, dompet aman, badan tetap waras.

Rencana itu buyar dalam hitungan detik.

Dita, rekan satu tim, membuka plastik keripik. Suaranya kriuk. Wanginya menyebar. Rani menoleh. Tangannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. “Boleh minta satu, Dit?”

Rani tahu ini bukan soal lapar. Dia baru saja makan siang. Tapi begitu melihat Dita mengunyah, ada sesuatu di kepalanya yang bilang: keripik itu lebih enak daripada almond di laci.

“Aku udah bawa bekal sehat, tapi begitu dengar suara plastik dibuka, rasanya kayak ada yang manggil,” kata perempuan 27 tahun itu, setengah menyerah.

Ini bukan kelemahan iman. Ini kimia otak.

Food envy: kenapa punya orang lain selalu terlihat lebih enak

RRI menulis pada 2 Oktober 2026 bahwa fenomena ini bernama food envy. “Ketika kita merasa makanan milik orang lain terlihat lebih menarik atau lebih enak dibandingkan makanan yang kita pilih sendiri.”

Food envy sering muncul saat kita makan bersama. Melihat makanan orang lain secara langsung, ditambah aroma yang menggugah selera, bisa membuat perhatian kita berpindah.

Apalagi kalau tampilannya lebih menarik: topping banyak, saus melimpah, tekstur renyah.

Masalahnya bukan makanan kita kurang enak. Kita cuma sedang tertarik pada sesuatu yang berbeda. Tapi otak tidak peduli penjelasan itu. Otak cuma bilang: coba punya dia.

Social facilitation: ngemil bareng bikin porsi naik

RRI juga menulis pada 5 Agustus 2026 bahwa makan bersama meningkatkan jumlah makanan yang dikonsumsi. Namanya social facilitation of eating.

“Kecenderungan seseorang mengonsumsi makanan lebih banyak ketika bersama orang lain,” tulis RRI, mengutip Jurnal Social Influences of Eating.

Salah satu penyebabnya durasi makan yang lebih lama. Ngobrol, bercanda, ketawa. Waktu di meja makan molor. Semakin lama, semakin besar peluang mengambil tambahan tanpa sadar.

Ada juga modeling. Kita menyesuaikan jumlah makanan dengan orang di sekitar. Kalau Dita ambil keripik ketiga, Rani merasa wajar ambil kedua. Kalau satu tim pesan kopi susu, yang awalnya cuma mau air putih ikut pesan.

LSE Business Review menegaskan hal serupa pada 5 Agustus 2026. Dalam review 181 artikel akademik, peneliti menemukan bahwa makan di kantor punya efek biologis, psikologis, dan sosial.

“Kita cenderung makan seperti rekan kita,” tulis mereka. Studi dengan tiga juta titik data menunjukkan korelasi antara pembelian makan siang karyawan dan apa yang dibeli rekan kerja.

Makan seperti orang lain membantu kita diterima dan menghindari penilaian sosial.

Jadi kadang kita tidak sedang lapar. Kita sedang mencoba tidak terlihat beda.

Efek jarak: camilan yang kelihatan lebih berbahaya daripada yang disembunyikan

IDEA Health & Fitness menulis pada 28 September 2026 tentang “office feeder”, rekan kerja yang rutin menaruh banana bread di pantry atau meninggalkan kue di dekat mesin kopi.

Melihat, mencium, atau bahkan memikirkan makanan saja sudah cukup memicu rasa lapar.

Penelitian klasik yang mereka kutip menunjukkan sekretaris yang diberi cokelat di stoples bening meraih camilan 71 persen lebih sering daripada yang diberi stoples buram.

Selama stoples bening terlihat, mereka makan 77 kalori ekstra per hari. Memindahkan stoples sejauh enam kaki menurunkan asupan dari sembilan cokelat per hari menjadi empat.

UDN juga melaporkan pada 26 Agustus 2026 bahwa penelitian di kantor Google New York menemukan jarak camilan ke mesin minuman memengaruhi perilaku mengambil.

Saat jauh, pria mengambil 12 persen dan wanita 13 persen. Saat didekatkan, pria naik ke 23 persen dan wanita ke 17 persen.

Camilan di meja rekan kerja adalah stoples bening versi kantor modern. Ia terlihat. Ia bisa diraih. Ia mengundang.

Makanan curian rasanya lebih enak, kata sains

Ada satu lagi yang bikin camilan orang lain terasa istimewa: rasa bersalah.

Vesti.ru melaporkan pada 21 Juli 2026 sebuah eksperimen yang melibatkan 120 relawan.

Mereka diberi kentang goreng yang sama persis, tapi dalam empat kondisi berbeda: punya sendiri, hadiah, mengambil dari teman yang senang berbagi, dan mengambil dari teman yang jelas tidak senang berbagi.

Hasilnya: kentang punya sendiri dinilai paling tidak enak. Yang hadiah sedikit lebih tinggi. Yang paling enak adalah kentang yang diambil dari tetangga yang ogah berbagi.

Peneliti menyebut beberapa mekanisme. Pertama, rasa “penawaran terbatas”: kita tidak mengambil seluruh camilan, cuma mencoba, dan segala yang langka terasa lebih berharga.

Kedua, rasa bersalah justru memperkuat kenikmatan. Ketiga, efek buah terlarang. Anak yang dilarang makan permen menikmatinya dua kali lipat.

Jadi satu keripik dari bungkus Dita memang bisa terasa lebih nikmat daripada sebungkus keripik yang Rani beli sendiri. Bukan karena keripiknya beda. Karena cara mendapatkannya beda.

Rani dan perang setiap sore

Rani sudah tiga tahun bekerja di kantor yang sama. Kebiasaan membawa bekal sehat dimulai sebagai upaya menghemat uang dan menjaga berat badan.

Awalnya cuma coba-coba. Lama-lama jadi rutinitas. Ia bahkan sempat bangga karena bisa melewati sore tanpa jajan.

Tapi ritual sore selalu menang.

“Jam tiga itu jam paling berbahaya. Semua orang udah capek, deadline masih jauh, terus ada yang buka snack. Aku kayak kehilangan kontrol,” katanya.

Ia pernah mencoba pindah kursi jauh dari meja Dita. Tetap saja gagal. “Pas dia buka keripik, aku denger. Mungkin otakku udah dilatih buat mendeteksi suara itu.”

Rani bukan satu-satunya. FavorFlav melaporkan pada 14 Agustus 2026 bahwa karyawan di kantor rata-rata mengonsumsi 1.300 kalori ekstra per minggu.

Tujuh puluh persen di antaranya berasal dari makanan dan minuman yang dibagikan gratis.

Kantor memang bukan tempat yang ramah bagi niat sehat.

Jadi, siapa yang harus disalahkan?

Bukan Rani. Bukan Dita. Bukan keripik itu.

Otak kita memang dirancang untuk memperhatikan makanan orang lain.

Food envy membuat kita penasaran pada yang berbeda. Social facilitation membuat kita makan lebih banyak saat bersama.

Efek jarak membuat camilan yang terlihat lebih sulit diabaikan. Efek makanan terlarang membuat satu gigitan terasa lebih nikmat daripada sepuluh gigitan milik sendiri.

Yang bisa dilakukan cuma sadar. Sadar bahwa keinginan itu datang dari luar, bukan dari perut. Sadar bahwa suara plastik dibuka bukan panggilan alam.

Dan sadar bahwa camilan di meja rekan kerja tidak pernah benar-benar lebih enak. Ia cuma lebih dekat, lebih terlihat, dan lebih terlarang.

Rani belum bisa mengalahkan otaknya. Tapi setidaknya sekarang ia tahu kenapa.

“Aku tetap ambil satu. Tapi sekarang aku tahu itu bukan karena laparku. Itu karena otakku,” katanya, lalu tertawa.

Setidaknya dia jujur.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.