Jateng

Jam 12 Lewat, Sepatu Ditendang ke Kolong Meja, Sandal Jepit Naik ke Kaki: Ternyata Ada Watak yang Terselip di Situ

Theo Adi Pratama | 21 Oktober 2026, 12:34 WIB
Jam 12 Lewat, Sepatu Ditendang ke Kolong Meja, Sandal Jepit Naik ke Kaki: Ternyata Ada Watak yang Terselip di Situ
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Orang yang melepas sepatu dan mengganti dengan sandal slip-on saat jam istirahat bukan cuma sedang mencari kenyamanan kaki, melainkan sedang menandatangani gencatan senjata dengan tuntutan kantor yang tak pernah selesai.

Di lantai tiga sebuah kantor konsultan di Jakarta Selatan, ada ritual yang selalu berulang tepat setelah jam dua belas siang. Sepatu kulit hitam yang sejak pagi menjepit kaki ditendang pelan ke kolong meja. Dari dalam laci, sepasang sandal jepit karet berwarna biru dongker dikeluarkan.

Pemiliknya, Bayu (34), tidak buru-buru ke pantry. Ia duduk sebentar. Menarik napas. Menggerakkan jari-jari kaki yang seharian terkurung.

“Ini momen paling jujur dalam sehari. Dari jam delapan sampai jam dua belas, aku bukan diriku. Aku adalah jabatan aku. Pas sepatu dilepas, baru balik lagi jadi manusia,” katanya, suatu siang di kantornya.

Bayu bukan satu-satunya. Di kantor itu, setidaknya ada lima orang yang melakukan hal serupa. Ada yang memakai sandal hotel. Ada yang memakai slides branded. Ada juga yang nekat memakai sandal jepit Swallow klasik yang dibeli di warung seberang.

Fenomena ini bukan cuma soal kaki yang pegal. Ini soal sesuatu yang lebih dalam.

Baca Juga: Alarm Jam 13.15, Matikan Lampu, Tutup Mata 15 Menit: Kebiasaan Power Nap yang Ternyata Bicara Soal Watak

Kaki yang terkurung, kepala yang tegang

Sepatu kerja punya fungsi simbolik yang jarang disadari. Ia adalah bagian dari kostum. Ia memberi tahu orang lain bahwa kita serius, profesional, dan siap bertarung. Tapi ia juga memberi tahu tubuh kita bahwa kita sedang tidak boleh santai.

Sebuah studi dari Universitas Indonesia yang meneliti penyimpulan kepribadian melalui sepatu menemukan bahwa pengamat mampu menyimpulkan trait conscientiousness dan neuroticism hanya dari melihat sepatu yang dipakai seseorang di kantor.

Artinya, sepatu memang bicara. Ia adalah pernyataan tentang siapa kita di ruang kerja.

Masalahnya, pernyataan itu berat. Sepatu kulit yang kaku, hak yang tinggi, atau heels yang menekan ujung kaki bukan cuma soal estetika. Ia adalah beban fisik yang perlahan mengikis energi mental.

Survei yang dilakukan Clarks terhadap lebih dari 1.000 pekerja perempuan menemukan bahwa 43 persen responden mengaku sepatu kerja mereka tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu tidak berhenti di kaki. Ia merambat ke kepala.

Bayu merasakannya. “Kalau sepatu udah mulai nyepit, aku jadi gampang emosi. Bales chat orang jadi ketus. Padahal masalahnya cuma kaki pegal,” akunya.

Baca Juga: Jam 10 Pagi, Rapat Belum Selesai, Tapi Kepalanya Sudah Mikirin Nasi Padang atau Salad: Ada Watak Apa di Baliknya?

Sandal slip-on: bukan sembarang sandal

Ada hierarki dalam dunia alas kaki santai. Sandal jepit karet paling murah. Sandal hotel paling tipis. Slides branded paling sering dipakai anak muda. Sandal anyam atau custom paling jarang ditemui.

Bayu memilih sandal jepit karet biru dongker. Bukan karena tidak punya uang. Bukan karena tidak peduli penampilan. Justru sebaliknya. Ia memilih sandal itu karena ia ingin benar-benar lepas dari kostum kerja.

“Kalau aku pakai slides keren, rasanya masih setengah-setengah. Masih ada citranya. Sandal jepit ini bilang: kamu sedang tidak perlu siapa-siapa,” katanya.

Pilihan alas kaki memang sering dikaitkan dengan tipe kepribadian.

Sebuah artikel di Jateng.akurat.co yang membahas tipe sandal jepit mengaitkan sandal jepit karet klasik seperti Swallow dengan sifat praktis, loyal, dan sedikit keras kepala.

Sandal slides dikaitkan dengan orang yang update tapi tidak mau terlalu repot.

Tapi di konteks kantor, maknanya bergeser. Sandal bukan lagi soal gaya. Sandal adalah alat transisi. Ia adalah jembatan antara “aku sedang bekerja” dan “aku sedang tidak bekerja”.

Baca Juga: Orang yang Suka Coret-Coret Papan Tulis Saat Rapat Ternyata Punya Watak Ini

Tren global: kantor yang membebaskan kaki

Fenomena melepas sepatu di kantor bukan cuma terjadi di Jakarta. Di Silicon Valley, sejumlah startup mulai menerapkan kebijakan no-shoes.

Karyawan diminta melepas sepatu di pintu masuk dan mengenakan kaus kaki atau sandal selama bekerja.

Sebuah laporan di Fast Company menyebut tren ini sebagai cara untuk meningkatkan fokus dan menciptakan lingkungan yang nyaman saat semakin banyak pekerja kembali ke kantor.

The New York Times melaporkan hal serupa, menyebut kebijakan ini sebagai “pajama economy in action” — kebiasaan bekerja dari rumah yang terbawa kembali ke kantor.

Natalie James, pendiri perusahaan perawatan kulit helloSKIN, mengatakan bahwa setelah menerapkan kebijakan tanpa sepatu, ia mencatat “peningkatan rasa tenang, yang disertai dengan konsentrasi yang lebih baik”.

Di Jepang, survei terhadap 540 pekerja berusia 30–50 tahun menemukan bahwa 72,6 persen merasa konsentrasi mereka menurun saat bekerja.

Mereka yang mengganti sepatu dengan yang lebih nyaman melaporkan peningkatan fokus dan pengurangan kelelahan.

Bayu tidak tahu data itu. Tapi ia merasakan hal yang sama. “Pas sandal udah dipakai, rasanya kayak otakku bisa napas. Padahal cuma ganti alas kaki,” katanya.

Bukan soal malas, tapi soal batas

Ada stigma bahwa orang yang melepas sepatu di kantor adalah orang yang tidak profesional. Stigma ini tidak sepenuhnya salah. Ada batas antara santai dan tidak sopan.

Melepas sepatu di ruang rapat dengan klien bukan ide yang baik. Memakai sandal jepit saat presentasi ke direksi juga bukan pilihan yang bijak.

Tapi di meja sendiri, saat jam istirahat, saat tidak ada yang perlu dipresentasikan, melepas sepatu adalah tindakan yang masuk akal.

Ia adalah cara untuk memberi tahu tubuh: kamu boleh berhenti sebentar. Kamu tidak harus selalu waspada.

Bayu tidak pernah melepas sepatu di depan klien. Ia tidak pernah memakai sandal ke ruang rapat. Ia tahu batas. Tapi ia juga tahu bahwa tanpa batas itu, ia akan cepat habis.

“Kalau aku harus pakai sepatu sepuluh jam nonstop, aku bukan cuma capek kaki. Aku capek jadi diri aku sendiri,” ujarnya.

Sandal sebagai simbol gencatan senjata

Di tengah budaya kerja yang menuntut selalu tersedia, selalu cepat, dan selalu profesional, melepas sepatu adalah tindakan kecil yang radikal. Ia adalah pernyataan bahwa tubuh punya batas. Ia adalah pengakuan bahwa manusia bukan mesin.

Bayu tidak sedang melawan kantornya. Ia tidak sedang membangkang.

Ia hanya sedang mengambil kembali sesuatu yang sering hilang di sela-sela deadline dan ekspektasi: rasa bahwa dirinya masih manusia.

Sandal jepit biru dongker di kakinya mungkin terlihat receh. Tapi di baliknya ada keputusan sadar: untuk berhenti sejenak, untuk bernapas, untuk kembali.

“Sepuluh menit pakai sandal, terus balik kerja. Tapi sepuluh menit itu yang bikin aku bisa bertahan sampai sore,” kata Bayu.

Kalimat itu sederhana. Tapi mungkin itu yang membuat banyak orang bertahan di kantor yang tidak selalu ramah: bukan gaji, bukan jabatan, tapi sandal jepit di kolong meja.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.