Jateng

Jam 10 Pagi, Rapat Belum Selesai, Tapi Kepalanya Sudah Mikirin Nasi Padang atau Salad: Ada Watak Apa di Baliknya?

Theo Adi Pratama | 21 Oktober 2026, 11:16 WIB
Jam 10 Pagi, Rapat Belum Selesai, Tapi Kepalanya Sudah Mikirin Nasi Padang atau Salad: Ada Watak Apa di Baliknya?
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Orang yang sudah merencanakan menu makan siang sejak jam 10 pagi bukan tipe yang obsesif, melainkan seseorang yang paham bahwa keputusan kecil yang diambil terlalu sering bisa menguras energi untuk hal yang lebih penting.

Di kantor, Tyas (30) punya kebiasaan yang kadang bikin rekan-rekannya heran. Jam sepuluh pagi, saat rapat masih membahas proyeksi kuartal depan, tangannya sudah bergerak membuka aplikasi pesan makanan. Bukan untuk memesan. Untuk melihat. Untuk memilih. Untuk memastikan bahwa saat jam dua belas nanti, tidak ada drama “mau makan apa”.

“Kalau nunggu jam dua belas, aku udah capek. Pilihannya jadi banyak, tapi keputusannya susah. Ujung-ujungnya aku ikut siapa aja yang udah punya rencana,” kata Tyas, yang bekerja di sebuah perusahaan konsultan di Jakarta.

Kebiasaan Tyas bukan sekadar iseng. Ia sudah menghitung. Setiap hari, ia harus mengambil puluhan keputusan kecil: balas email mana dulu, mana yang bisa ditunda, siapa yang harus ditelepon, kapan harus istirahat. Saat jam makan siang tiba, energi mentalnya sudah terkuras. “Kalau masih harus mikir mau makan apa, rasanya kayak ada satu tugas lagi yang belum selesai,” ujarnya.

Psikologi punya nama untuk ini.

Baca Juga: Orang yang Suka Coret-Coret Papan Tulis Saat Rapat Ternyata Punya Watak Ini

Keputusan kecil yang diam-diam menguras tenaga

Setiap orang mengambil ribuan keputusan kecil setiap hari. Banyak di antaranya soal makanan. Psikologi kognitif menyebut bahwa merencanakan menu lebih awal membantu mengurangi beban mental, menata rutinitas, dan menekan jumlah keputusan sehari-hari.

Penelitian dalam Journal of Personality and Social Psychology berjudul “Making Choices Impairs Subsequent Self-Control” menunjukkan bahwa pengambilan keputusan yang terus-menerus melemahkan kontrol diri secara bertahap.

Dengan merencanakan makan siang sejak pagi, seseorang memindahkan keputusan itu ke waktu ketika energi mentalnya masih penuh. Ia tidak perlu memutuskan saat sudah lelah.

Tyas tidak tahu nama penelitiannya. Tapi ia merasakan efeknya. “Kalau udah ada rencana, siangnya aku bisa fokus ke kerjaan lain. Nggak ada tuh rasa cemas gara-gara belum tau mau makan apa,” katanya.

Baca Juga: Melihat kepribadian Seseorang: Kenapa Orang yang Menyeduh Kopi Perlahan Sering Lebih Tenang dari yang Pesan Kopi Ojol?

Bukan obsesif, cuma conscientious

Ada stigma bahwa orang yang merencanakan makan sampai detail adalah orang yang kaku, kontrolnya berlebihan, atau tidak bisa santai. Psikologi membantah anggapan itu.

Orang yang merencanakan menu mingguan tidak lebih obsesif. Mereka hanya mengambil lebih sedikit keputusan yang tidak perlu. Perilaku ini lebih mencerminkan sistem organisasi daripada kebutuhan untuk mengendalikan segalanya.

Dalam kerangka Big Five, sifat yang paling sering dikaitkan dengan perencanaan makan adalah conscientiousness.

Orang dengan skor tinggi pada sifat ini cenderung teratur, disiplin, dan memperhatikan detail. Mereka membuat daftar, menyusun jadwal, dan memikirkan konsekuensi sebelum bertindak.

Penelitian juga menunjukkan bahwa conscientiousness berkorelasi positif dengan pola makan sehat, konsumsi buah dan sayur, serta keteraturan jadwal makan.

Orang yang merencanakan makan siang sejak jam sepuluh pagi mungkin bukan sedang mengontrol hidupnya secara berlebihan. Ia hanya sedang menjalankan salah satu ciri kepribadiannya.

Tyas sendiri tidak merasa dirinya perfeksionis. “Aku nggak pernah maksa harus makan ini atau itu. Yang penting udah ada bayangan. Kalau ternyata temen-temen mau makan di tempat lain, ya aku ikut. Tapi setidaknya aku nggak bingung,” katanya.

Baca Juga: Fenomena RAMageddon Bikin HP Murah Makin Mahal, Kenapa iPhone Tetap Diburu?

Decision fatigue dan kata “terserah”

Di banyak kantor, jam makan siang adalah momen paling canggung. Pertanyaan “makan apa?” disambut keheningan. Jawaban yang paling sering muncul justru “terserah”.

Krjogja menyebut fenomena ini sebagai choice overload, kondisi ketika seseorang dihadapkan pada terlalu banyak pilihan.

Saat membuka aplikasi pesan makanan dan melihat puluhan restoran, otak kewalahan. Setiap hari manusia sudah dihadapkan pada banyak keputusan kecil.

Menjelang siang, energi mental untuk memutuskan sudah menurun. Inilah decision fatigue.

Tyas dulu sering terjebak dalam situasi ini. Ia menunggu sampai jam dua belas, membuka aplikasi, menggulir layar tanpa tujuan, lalu akhirnya memilih opsi pertama yang terlihat. “Bukan karena pengin, tapi karena udah nggak sanggup mikir lagi,” akunya.

Sekarang, ia tidak menunggu. Ia memutuskan lebih awal. Bukan karena ia lebih suka makan itu. Tapi karena ia lebih suka tidak menghabiskan energi untuk hal yang seharusnya sederhana.

Menu yang sama setiap hari bukan berarti membosankan

Ada juga orang yang merencanakan makan siang dengan cara yang lebih ekstrem: makan menu yang sama setiap hari kerja.

Riset yang diterbitkan di Health Psychology terhadap 112 peserta program penurunan berat badan selama 12 minggu menemukan bahwa peserta yang lebih sering mengulang pola makan yang sama kehilangan berat badan lebih banyak, rata-rata 5,9 persen, dibandingkan mereka yang makan lebih bervariasi, yaitu 4,3 persen. Konsistensi kalori juga dikaitkan dengan hasil yang lebih baik.

Bagi sebagian orang, makan menu yang sama setiap hari terdengar menyiksa. Bagi yang lain, itu justru membebaskan. Tidak ada keputusan. Tidak ada godaan. Tidak ada penyesalan.

Tyas tidak sampai sejauh itu. Ia masih suka variasi. Tapi ia paham daya tarik konsistensi. “Kalau aku lagi sibuk banget, kadang aku makan yang sama tiga hari berturut-turut. Bukan karena males, tapi karena aku butuh satu hal yang nggak perlu dipikirin,” ujarnya.

Jam sepuluh pagi adalah tentang kendali, bukan lapar

Ada satu hal yang sering terlewat ketika orang membahas kebiasaan merencanakan makan siang.

Kebiasaan ini bukan tentang lapar. Jam sepuluh pagi, perut Tyas belum keroncongan. Ia belum membutuhkan makanan.

Yang ia butuhkan adalah rasa bahwa ada satu hal dalam hari kerjanya yang sudah beres.

Di tengah rapat yang melelahkan, deadline yang berlapis, dan pesan yang tak pernah berhenti masuk, memilih menu makan siang adalah keputusan kecil yang bisa diselesaikan. Ia tidak bisa mengendalikan proyek yang molor.

Ia tidak bisa mengendalikan atasan yang berubah pikiran. Tapi ia bisa memutuskan bahwa siang ini ia akan makan nasi padang, atau salad, atau bekal yang ia bawa dari rumah.

Kendali kecil itu terasa berarti. Bukan karena makanannya istimewa. Tapi karena ia membuktikan bahwa setidaknya satu hal dalam hari itu berjalan sesuai rencana.

“Kadang aku mikir, ini cuma soal makan siang. Tapi rasanya kayak aku udah menang satu ronde sebelum pertandingan beneran dimulai,” kata Tyas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.