Jateng

Fenomena RAMageddon Bikin HP Murah Makin Mahal, Kenapa iPhone Tetap Diburu?

Theo Adi Pratama | 21 Oktober 2026, 10:05 WIB
Fenomena RAMageddon Bikin HP Murah Makin Mahal, Kenapa iPhone Tetap Diburu?
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Di tengah RAMageddon dan ekonomi yang bikin dompet menjerit, antrean iPhone 18 Pro di Jakarta tetap mengular, sementara separuh dunia memilih bertahan dengan HP lama dan menunggu keajaiban harga turun.

Leo sudah bangun sejak pukul lima pagi. Bukan untuk salat subuh lalu tidur lagi. Bukan untuk jogging. Ia berangkat dari Tangerang menuju Hello Store Grand Indonesia, Jakarta, untuk mengantre iPhone 18 Pro.

“Rela tidak tidur semalam karena sudah menunggu sejak tahun lalu untuk membeli iPhone 18,” kata Leo, dikutip dari Katadata.co.id.

Antrean itu bukan pemandangan biasa. Puluhan orang berdiri sejak pagi. Sebagian sudah memesan sebelumnya. Sebagian lagi datang langsung, berharap stok masih tersisa. Di lokasi pengambilan pre-order di Royal Glasshouse, Park Hyatt, sempat terjadi ketegangan akibat perebutan urutan antrean. Penyebabnya sepele: hadiah MacBook Neo untuk sepuluh orang pertama.

Di kota yang sama, di waktu yang hampir bersamaan, Andi (22) sedang tidak memikirkan iPhone. Mahasiswa itu masih memakai Tecno Pova 4 Pro 8GB/256GB yang ia beli pada 2022 seharga Rp2,9 juta.

“Nggak tertarik ganti HP baru, karena spesifikasinya mirip dengan ponsel saya sekarang, tetapi harganya dua kali lipat,” katanya, juga kepada Katadata.

Dua orang. Dua keputusan. Satu pasar yang sedang retak di tengah.

Baca Juga: ASN Temanggung Dibilang Netral, Tapi Tekanan dari Tetangga Sendiri Kadang Lebih Keras dari Pluit Kampanye

Pasar HP global jatuh, pangsa Apple malah naik

Angka makro tidak bohong. Counterpoint Research mencatat pengiriman smartphone global anjlok 20 persen pada kuartal III 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu. Ini level terendah untuk kuartal ketiga dalam 14 tahun terakhir.

Apple juga terkena imbasnya. Pengiriman iPhone turun. Tapi pangsa pasarnya naik dari 18 persen menjadi 22 persen.

Rekor tertinggi Apple untuk kuartal ketiga. Samsung masih di puncak dengan 23 persen.

“Peningkatan pangsa pasar itu tidak berarti volume pengiriman Apple ikut meningkat, karena perusahaan juga mengalami penurunan jumlah pengiriman,” tulis RRI.co.id dalam laporan 14 Oktober 2026.

Logikanya sederhana: pasar mengecil lebih cepat daripada penjualan Apple mengecil.

Saat orang-orang menunda ganti HP, mereka yang tetap membeli cenderung memilih perangkat premium. Dan di segmen itu, Apple masih jadi nama yang sulit digeser.

Baca Juga: Fenomena Downgrade Dari Flagship Rp22 Juta ke Midrange Rp4 Juta: Turun Kelas atau Naik Kelas?

RAMageddon: memori jadi barang mewah

Semua ini berakar pada satu hal yang tidak terlihat di layar: chip memori.

IDC mencatat biaya memori melonjak sekitar 350 persen sejak tahun lalu. Counterpoint Research melaporkan harga memori naik empat kali lipat sejak kuartal keempat 2025.

Komponen memori kini menyumbang hampir 60 persen dari total biaya bahan baku pada ponsel berharga US$400.

Penyebabnya bukan permintaan konsumen. Penyebabnya data center AI.

Produsen chip memprioritaskan kapasitas untuk server kecerdasan buatan yang marginnya jauh lebih gemuk. Pasokan untuk smartphone menipis. Harga pun meledak.

Apple tidak kebal. iPhone 18 Pro dan Pro Max dilepas mulai US$1.199 dan US$1.299, naik US$100 dari generasi sebelumnya.

Kenaikan itu sudah diperkirakan analis, meski beberapa sempat memprediksi lonjakan hingga US$300.

Apple juga mulai berhati-hati. Nikkei Asia melaporkan pada 9 Oktober 2026 bahwa Apple memangkas pesanan komponen untuk iPhone 18 Pro dan Pro Max sebesar 15 sampai 20 persen untuk Oktober.

“Harga chip memori yang melonjak dan kenaikan harga telah meredam permintaan konsumen,” tulis laporan itu, seperti dikutip BolNews.

Permintaan meredam. Tapi tidak hilang.

Baca Juga: Kopi Saset di Pantry Vs Kopi Ojol: Ada Filosofi Mahal di Balik Rp2.000 dan Rp25.000

Indonesia: pasar menyusut, segmen premium tumbuh

Di Indonesia, kontrasnya lebih tajam.

Pasar smartphone nasional turun 9 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Penyebabnya kenaikan harga dan penundaan upgrade akibat krisis pasokan memori.

Tapi segmen premium di atas US$600 justru tumbuh 30 persen pada periode yang sama. Segmen ini menyumbang 8,3 persen dari total pengiriman.

iPhone 17 base model yang dulu sekitar Rp17 juta kini mendekati Rp20 juta. Tapi minat terhadap iPhone tetap ada. Bahkan naik.

Majalah ICT melaporkan minat masyarakat terhadap iPhone 17 melonjak 35 persen dibanding iPhone 16.

Survei APJII menyebut sekitar 40 persen responden urban di Jakarta, Bandung, dan Surabaya berencana upgrade ke iPhone 17 dalam enam bulan.

Pra-order di Shopee dan Tokopedia menembus 50 ribu unit dalam dua minggu, naik 25 persen dari debut iPhone 16.

Antrean iPhone 18 Pro di Jakarta awal Oktober 2026 bukan anomali. Ia adalah kelanjutan dari pola yang sama: sebagian konsumen menunda, sebagian lagi tetap membeli.

Nailul Huda: ini bukan gambaran daya beli umum

Peneliti Celios, Nailul Huda, tidak mau fenomena antrean itu dibaca sebagai tanda ekonomi membaik.

“Fenomena tersebut tidak dapat dijadikan gambaran bahwa seluruh masyarakat masih memiliki daya beli yang kuat,” kata Nailul, dikutip Bloomberg Technoz, 18 Oktober 2026.

Menurutnya, kemampuan membeli barang mahal masih dimiliki kelompok kelas atas dan menengah atas yang pendapatannya relatif stabil.

“Konsumsi barang premium masih bertahan di kalangan masyarakat berpendapatan tinggi, sementara sebagian kelompok lain menghadapi tekanan ekonomi.”

Kalimat itu menjelaskan banyak hal. Antrean iPhone bukan cermin ekonomi nasional. Ia cermin ketimpangan.

Di satu sisi ada Leo yang rela tidak tidur semalam. Di sisi lain ada Andi yang menghitung ulang setiap rupiah dan memutuskan bahwa HP lamanya masih cukup.

Baca Juga: Semarang Berawan, Solo Terik 38°C Lalu Hujan Sore: Cuaca Hari Ini 21 Oktober 2026 Bikin Bingung Mau Bawa Payung atau Kipas

iPhone sebagai “pelarian kecil” di tengah tekanan

Ada satu hal yang jarang dibahas dalam diskusi tentang harga HP: mengapa orang tetap membeli barang mahal saat ekonomi sulit.

Jawabannya bukan selalu karena mereka kaya. Kadang karena mereka butuh rasa kendali.

Di tengah harga pangan yang naik, upah yang stagnan, dan masa depan yang terasa kabur, membeli iPhone bisa menjadi cara kecil untuk mengatakan: setidaknya ada satu hal dalam hidup ini yang masih bisa saya pilih.

Bagi sebagian orang, itu terdengar boros. Bagi yang lain, itu bertahan hidup.

Tentu saja tidak semua pembeli iPhone sedang melarikan diri dari tekanan.

Banyak yang memang mampu, yang memang menganggarkan, yang memang menganggap iPhone sebagai alat kerja atau investasi jangka panjang karena update iOS bertahan bertahun-tahun.

Tapi di antara mereka, ada juga yang membeli dengan cicilan, dengan tabungan yang terkuras, dengan alasan yang tidak selalu masuk akal.

Dan di pasar yang sedang mengecil ini, produsen tidak perlu semua orang membeli.

Cukup sebagian kecil yang tetap membeli, dengan harga yang lebih tinggi, untuk menjaga angka tetap terlihat baik.

Dua dunia yang tidak akan bertemu

Leo akhirnya mendapat iPhone 18 Pro-nya. Ia pulang ke Tangerang dengan kotak putih di tangan.

Mungkin ia akan tidur siang setelah semalam tidak tidur. Mungkin ia akan membuka kotaknya pelan-pelan, menyalakan layar, dan merasa bahwa penantian setahun itu terbayar.

Andi masih dengan Tecno Pova 4 Pro-nya. Layarnya mungkin sudah lecet.

Baterainya mungkin sudah tidak sekuat dulu. Tapi ia masih bisa menelepon, mengirim pesan, membuka media sosial, dan mengerjakan tugas. “Spesifikasinya mirip, harganya dua kali lipat,” katanya.

Dua orang itu tidak sedang bersaing. Mereka bahkan mungkin tidak akan pernah bertemu.

Tapi mereka berdua adalah wajah pasar HP 2026: satu terus membeli, satu terus menunda. Satu merayakan, satu bertahan.

Dan di antara mereka, ada jutaan orang lain yang sedang menimbang-nimbang: ganti HP tahun ini, atau tunggu sampai harga memori kembali waras?

Sayangnya, jawabannya belum terlihat. Counterpoint memperkirakan pasokan NAND baru akan melonggar pada semester kedua 2027.

Sampai saat itu, HP murah akan tetap mahal, dan iPhone akan tetap punya pembelinya sendiri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.