Jateng

Orang yang Suka Coret-Coret Papan Tulis Saat Rapat Ternyata Punya Watak Ini

Theo Adi Pratama | 21 Oktober 2026, 11:00 WIB
Orang yang Suka Coret-Coret Papan Tulis Saat Rapat Ternyata Punya Watak Ini
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Orang yang refleks berdiri dan mencoret-coret papan tulis saat rapat bukan sekadar tukang gambar, tapi sosok yang otaknya menolak diam dan butuh melihat ide sebelum bisa mempercayainya.

Rapat baru berjalan sepuluh menit. Agenda masih dibahas setengah hati. Lalu Adit (33) berdiri. Ia mengambil spidol. Tanpa diminta.

Ia menggambar kotak. Menarik garis. Menulis beberapa kata. Menghapus satu bagian. Menggambar ulang. Dalam hitungan detik, dinding putih di depannya berubah jadi peta yang menjelaskan apa yang separuh ruangan belum paham.

“Kalau aku nggak gambar, kepalaku penuh. Rasanya kayak ada yang nyangkut,” kata Adit, product manager di sebuah perusahaan teknologi di Bandung.

Rekan-rekannya sudah terbiasa. Sebagian sempat kesal. Sebagian lagi akhirnya mengandalkan. Tapi satu hal yang tidak bisa dipungkiri: Adit bukan orang yang bisa duduk diam saat ide sedang berdesakan.

Baca Juga: Melihat kepribadian Seseorang: Kenapa Orang yang Menyeduh Kopi Perlahan Sering Lebih Tenang dari yang Pesan Kopi Ojol?

Papan tulis bukan alat, tapi cara berpikir

Stefan Schaefer, konsultan visual yang membangun kanvas sepanjang 20 meter untuk sesi executive, menyebut fenomena ini sebagai “sesuatu yang terbuka” ketika orang berhadapan dengan papan tulis dan spidol, bukan slide dan proyektor.

“Otak mengingat masa ketika berpikir itu menyenangkan. Ketika ide tidak perlu persetujuan. Ketika kolaborasi berarti membangun bersama, bukan melindungi posisi,” tulisnya di LinkedIn, Januari 2026.

Papan tulis mengembalikan sesuatu yang hilang saat orang tumbuh dewasa. Rasa ingin tahu yang dulu bebas, diganti kehati-hatian.

Kreativitas diganti konformitas. Di depan papan tulis, sebagian orang kembali menjadi anak-anak dengan krayon: berani, eksploratif, tidak takut salah.

Adit merasakan itu. “Kalau aku ngomong doang, kadang ideku kedengeran berantakan. Tapi pas digambar, tiba-tiba kelihatan logikanya di mana,” katanya.

Baca Juga: Fenomena RAMageddon Bikin HP Murah Makin Mahal, Kenapa iPhone Tetap Diburu?

Tiga watak yang sering menempel

Psikolog klinis dr. Ashleigh Powell dari Harley Street Medical District, London, mengaitkan orang yang suka menulis dan menuangkan ide secara manual dengan tiga sifat: conscientiousness, reflectiveness, dan creativity.

“Orang yang reflektif mungkin menyukai tulisan tangan karena memperlambat pikiran mereka cukup untuk memahami apa yang sedang terjadi,” kata Powell, dikutip Psychologies US, Oktober 2026.

Papan tulis memaksa seseorang untuk bergerak lebih lambat. Tangan tidak bisa secepat otak. Jadi ide harus dipilih, disusun, dan dijelaskan. Proses itu sendiri adalah bentuk berpikir.

Psychologies.com menambahkan bahwa orang yang mencatat dengan tangan cenderung lebih reflektif dan terorganisir. Mereka menyusun hari-harinya dan suka mengambil waktu.

Menulis di papan tulis, dengan spidol yang bisa dihapus, memberi ruang untuk salah dan memperbaiki. Tidak ada “undo” yang instan, tapi ada kain penghapus.

Baca Juga: Fenomena Downgrade Dari Flagship Rp22 Juta ke Midrange Rp4 Juta: Turun Kelas atau Naik Kelas?

Suka menyederhanakan, tapi bukan karena malas

Orang yang sering menggambar diagram dan skema di papan tulis juga sering punya kemampuan visual-spatial yang kuat.

Mereka suka menjelaskan ide dalam bentuk gambar, mudah membaca peta, sensitif pada warna, dan cenderung menyederhanakan hal rumit menjadi citra yang bisa dicerna.

Ini bukan berarti mereka tidak bisa berpikir kompleks. Justru sebaliknya.

Mereka sudah berpikir cukup kompleks sampai bisa meringkasnya menjadi satu bagan.

Beautynesia (April 2026) menyebut orang yang jago menggambar punya cara berpikir yang tidak selalu linear.

Mereka hidup di dunia imajinasi, punya observasi tajam, ekspresif, dan tidak terlalu suka batasan.

Adit mengaku sering kesulitan kalau harus menjelaskan sesuatu hanya dengan kata-kata. “Aku butuh lihat. Kalau cuma denger, kadang aku nggak yakin itu sudah benar atau belum,” ujarnya.

Baca Juga: Kopi Saset di Pantry Vs Kopi Ojol: Ada Filosofi Mahal di Balik Rp2.000 dan Rp25.000

Bukan cuma ekstrover, bukan cuma introver

Ada anggapan bahwa orang yang berani berdiri dan mencorat-coret di depan umum pasti ekstrover. Tidak selalu.

Papan tulis adalah medium yang bisa dipakai siapa saja. Sebuah diskusi di LinkedIn (Agustus 2026) menyebut bahwa sesi papan tulis dan spidol tetap menjadi format kreatif default, bahkan bagi mereka yang introver.

Ada introver yang lebih nyaman menuangkan ide lewat gambar daripada bicara panjang lebar.

Ada ekstrover yang butuh papan tulis untuk menyalurkan energi dan membuat orang lain ikut terlibat.

Yang membedakan bukan sekadar kepribadian sosial. Yang membedakan adalah cara otak memproses informasi.

Penelitian yang dipublikasikan di CHI Conference 2026 menemukan bahwa papan tulis kolaboratif yang dimediasi AI dapat mengurangi konflik komunikasi hingga 47 persen dan meningkatkan solusi yang bisa diimplementasikan hingga 34 persen.

Papan tulis, dalam berbagai bentuknya, membantu orang menyamakan persepsi. Ia menjadi jembatan antara apa yang ada di kepala dan apa yang bisa dilihat orang lain.

Spidol sebagai pengganti ketidakpastian

Ada satu hal yang jarang dibahas tentang orang yang suka memakai papan tulis: mereka sering tidak nyaman dengan hal yang belum terlihat.

Ide yang hanya diucapkan bisa terasa mengambang. Ia bisa ditafsirkan berbeda. Ia bisa dilupakan. Tapi begitu digambar, ia punya bentuk. Punya batas. Punya lokasi. Punya warna.

Orang yang refleks mengambil spidol mungkin sedang mencoba mengendalikan sesuatu yang abstrak. Ia sedang membuat peta di tengah wilayah yang belum dikenal. Ia tidak selalu tahu jawabannya. Tapi ia tahu bahwa ia harus mulai menggambar untuk menemukannya.

Adit tidak pernah mengklaim dirinya paling pintar di ruangan. “Aku cuma nggak bisa diem kalau ada yang belum jelas. Kadang aku gambar dulu, baru ngerti sendiri,” katanya.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi di baliknya ada keberanian: berani terlihat belum paham, berani mencoba, berani menghapus, dan berani mulai lagi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.