Jateng

Perbandingan Poin MotoGP 2026 vs 2025: Bezzecchi Melesat 57 Poin, Alex Marquez Anjlok 59 Poin

Theo Adi Pratama | 5 April 2026, 09:43 WIB
Perbandingan Poin MotoGP 2026 vs 2025: Bezzecchi Melesat 57 Poin, Alex Marquez Anjlok 59 Poin

JATENG.AKURAT.CO, Musim MotoGP 2026 baru berjalan tiga seri, namun peta persaingan sudah menunjukkan pergeseran kekuatan yang sangat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan data dari Crash.net, GPOne.com, serta BBC Sport, Marco Bezzecchi keluar sebagai pembalap dengan peningkatan perolehan poin terbesar, mengoleksi 81 poin atau naik 57 poin dari 24 poin yang ia kumpulkan pada tiga seri pertama musim 2025.

Kebangkitan pembalap Aprilia ini kontras dengan kejatuhan drastis Alex Marquez yang hanya mengemas 28 poin, anjlok 59 poin dari 87 poin yang membuatnya memuncaki klasemen pada tahap yang sama musim lalu.

Perubahan performa ini tidak hanya terjadi pada level pembalap, tetapi juga tercermin dalam klasemen konstruktor.

Aprilia yang musim lalu hanya mengoleksi 33 poin, kini melesat ke posisi puncak dengan 101 poin, sementara Ducati yang sempurna dengan 111 poin di awal musim 2025, saat ini harus puas di posisi kedua dengan 69 poin.

Artikel ini menyajikan perbandingan lengkap poin para pembalap serta analisis faktor-faktor di balik perubahan dramatis tersebut.

Bezzecchi dan Aprilia: Duet Maut di Awal Musim

Marco Bezzecchi memanfaatkan tiga seri pembuka musim 2026 dengan sempurna.

Ia berhasil merebut kemenangan Grand Prix secara beruntun di Thailand, Brasil, dan Amerika Serikat, sekaligus melanjutkan rekor lima kemenangan Grand Prix beruntun sejak akhir musim 2025.

Kemenangan di GP Thailand ia raih dengan performa dominan usai start dari pole position, diikuti oleh Pedro Acosta dan Raul Fernandez di posisi kedua dan ketiga.

Di GP Brasil, Bezzecchi kembali menunjukkan ketangguhannya meski balapan harus dipersingkat dari 31 menjadi 23 lap akibat suhu ekstrem yang menyebabkan degradasi ban parah.

Ia finis di depan rekan setimnya, Jorge Martin, yang finis kedua, dan Fabio Di Giannantonio di posisi ketiga.

Puncaknya, di GP Amerika Serikat di Circuit of the Americas (COTA), Bezzecchi kembali merebut kemenangan Grand Prix, memungkinkannya merebut kembali pimpinan klasemen dari Martin dengan raihan 81 poin, unggul 4 poin.

Namun, performa impresif ini bukannya tanpa cela. Bezzecchi tercatat dua kali gagal finis di balapan Sprint, yakni di Buriram saat memimpin awal lomba dan di COTA saat mengejar Francesco Bagnaia untuk kemenangan. Seandainya tidak terjatuh, ia berpotensi kehilangan 24 poin tambahan.

Sementara itu, rekan setimnya, Jorge Martin, yang melewatkan tiga seri pertama musim 2025 karena cedera, tampil konsisten dengan mengoleksi 77 poin.

Martin menjadi pembalap dengan perolehan poin terbanyak dalam dua Grand Prix terakhir, mengemas 59 poin, unggul tipis dari Bezzecchi yang mengumpulkan 56 poin dalam periode yang sama.

Kejayaan Aprilia tidak hanya ditopang duo pabrikan. Pembalap Trackhouse Racing, Raul Fernandez, mencatat peningkatan luar biasa dengan 40 poin atau naik 35 poin, sementara rookie Ai Ogura mengoleksi 37 poin, naik 12 poin dari capaiannya musim lalu.

Alex Marquez dan Ducati: Neraka Performa yang Bertolak Belakang

Jika Aprilia dan Bezzecchi bersinar terang, maka Alex Marquez dan sebagian besar pembalap Ducati justru mengalami masa-masa sulit.

Alex Marquez, yang pada tiga seri pertama musim 2025 memimpin klasemen dengan 87 poin, kini hanya mengoleksi 28 poin.

Dengan selisih turun 59 poin, ia menempati posisi sebagai pembalap dengan penurunan performa paling tajam di grid.

Penurunan ini mencerminkan kesulitan Gresini Racing dan pembalap Ducati lainnya dalam beradaptasi dengan motor GP26.

Rekan setimnya di Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia, juga mengalami nasib serupa.

Ia kehilangan 50 poin, hanya mampu mengemas 25 poin dari 75 poin pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, juara bertahan Marc Marquez menempati posisi kelima dengan 45 poin, juga turun 41 poin dari 86 poin yang ia kumpulkan di awal musim 2025.

GPOne.com menyebutkan bahwa pada titik yang sama musim lalu, ada lima pembalap Ducati yang memimpin klasemen, tetapi saat ini yang tertinggi adalah Fabio Di Giannantonio di posisi keempat, itupun hanya dengan perolehan 50 poin atau naik tipis 6 poin.

Satu-satunya titik terang dari kubu Ducati hanyalah Di Giannantonio dan rookie Fermin Aldeguer yang berhasil mencatatkan peningkatan.

Franco Morbidelli juga merasakan pahitnya penurunan, kehilangan 41 poin setelah hanya mampu mengemas 14 poin, padahal musim lalu ia mengoleksi 55 poin.

Acosta Sang Pengejut dan Stagnasinya Para Pembalap Lain

Pedro Acosta menjadi satu-satunya pembalap non-Aprilia yang sukses merebut dua podium di tiga seri awal.

Ia menempati posisi ketiga klasemen dengan 60 poin, naik 44 poin dari 16 poin yang ia kumpulkan di periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan ini menunjukkan perkembangan pesat Acosta bersama KTM yang juga ikut moncer di awal musim.

Sementara itu, Enea Bastianini baru menemukan performa terbaiknya di Austin, namun ia tetap mencatatkan peningkatan 6 poin menjadi 22 poin. Rekan setimnya, Brad Binder, justru harus rela kehilangan 2 poin menjadi 17 poin.

Di sisi lain, kubu pabrikan Jepang masih kesulitan. Johann Zarco mencatatkan penurunan 12 poin dengan hanya 13 poin, sementara Joan Mir turun 7 poin dengan koleksi 3 poin.

Luca Marini menjadi satu-satunya pembalap Honda yang mencatatkan peningkatan, naik tipis 3 poin menjadi 23 poin.

Adapun pembalap andalan Yamaha, Fabio Quartararo, merosot tajam dari 16 poin menjadi hanya 6 poin, sementara Jack Miller yang musim lalu mengoleksi 19 poin, kini masih belum memecahkan telornya.

Konstruktor: Aprilia Berjaya, Ducati Terpuruk

Perubahan signifikan dalam performa para pembalap tercermin jelas dalam klasemen konstruktor. Musim lalu, setelah tiga seri, Ducati sempurna dengan raihan poin maksimal 111 poin, sementara Aprilia tertahan di posisi keempat dengan hanya 33 poin.

Pada 2026, peta kekuatan berbalik 180 derajat. Aprilia memuncaki klasemen konstruktor dengan 101 poin, hampir tiga kali lipat dari periode yang sama tahun lalu, sekaligus membalikkan keadaan dari yang sebelumnya tertinggal jauh menjadi memimpin. Di sisi lain, Ducati harus rela kehilangan 42 poin, hanya mampu mengoleksi 69 poin.

KTM menjadi satu-satunya pabripan lain yang mencatatkan peningkatan positif, naik 31 poin menjadi 65 poin. Sementara itu, Honda dan Yamaha sama-sama mencatatkan penurunan.

Honda kehilangan 8 poin menjadi 28 poin, sedangkan Yamaha menjadi yang paling parah dengan kehilangan 19 poin dan hanya mengoleksi 9 poin.

Analisis Faktor di Balik Perubahan Dramatis

Beberapa faktor berkontribusi terhadap perubahan besar ini, antara lain:

Kematangan Aprilia RS-GP: Aprilia yang selama bertahun-tahun membangun pondasi dengan serius, mulai menuai hasil.

Keputusan membangun mesin V4 90 derajat pada 2020 menjadi titik balik, dan kini motor tersebut tidak hanya cepat, tetapi juga dapat dikendarai dengan baik oleh banyak pembalap, mulai dari Bezzecchi, Martin, hingga para pembalap Trackhouse.

Massimo Rivola, bos Aprilia, menyebut bahwa ide-ide inovatif lahir dari budaya yang tidak menghukum orang yang berbicara.

"Ide datang dari orang-orang yang tidak malu mengangkat tangan untuk mengatakan sesuatu jika mereka punya ide, jika mereka tahu bos mereka tidak akan memarahi mereka," ujarnya.

Kesulitan Adaptasi Ducati GP26: Di sisi lain, motor anyar Ducati, GP26, nampaknya membutuhkan waktu lebih lama untuk dipahami oleh para pembalapnya.

Hal ini terlihat dari inkonsistensi dan rendahnya perolehan poin sebagian besar pembalap Ducati, termasuk juara bertahan Marc Marquez yang kerap mengalami insiden dan masalah teknis.

Konsistensi Acosta: Acosta menunjukkan pematangan diri. Musim lalu ia kerap terjatuh, tetapi pada 2026 ia berhasil mengambil poin maksimal dari setiap kesempatan, tercermin dari peningkatan 44 poinnya. Ia menjadi satu-satunya pembalap non-Aprilia yang mampu merebut dua podium.

FAQ: Pertanyaan Seputar Perbandingan Poin MotoGP 2026 vs 2025

Q: Mengapa Jorge Martin tidak masuk dalam perbandingan kenaikan poin?
A: Jorge Martin melewatkan tiga seri pertama musim 2025 karena cedera, sehingga tidak memiliki poin pada periode yang sama. Meskipun ia mengoleksi 77 poin pada 2026, perbandingan year-on-year untuknya tidak relevan. Namun, ia menjadi pembalap dengan poin terbanyak dalam dua Grand Prix terakhir.

Q: Apa penyebab utama penurunan drastis poin para pembalap Ducati?
A: Kombinasi antara motor Ducati GP26 yang sulit dipahami, kurangnya konsistensi, serta masalah teknis dan insiden balapan menjadi faktor utama. Tiga pembalap Ducati, yaitu Alex Marquez, Francesco Bagnaia, dan Marc Marquez, total kehilangan 150 poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Q: Siapa saja pembalap yang mencatatkan peningkatan poin signifikan selain Bezzecchi?
A: Pedro Acosta (naik 44 poin menjadi 60 poin), Raul Fernandez (naik 35 poin menjadi 40 poin), dan Ai Ogura (naik 12 poin menjadi 37 poin) adalah beberapa nama yang mencatatkan peningkatan tajam.

Q: Bagaimana perbandingan klasemen konstruktor secara lengkap?
A: Aprilia memuncaki klasemen konstruktor dengan 101 poin, diikuti Ducati (69 poin), KTM (65 poin), Honda (28 poin), dan Yamaha (9 poin). Aprilia hampir melipatgandakan poinnya, sementara Ducati kehilangan 42 poin.

Penutup

Tiga seri pertama musim MotoGP 2026 telah menyajikan drama yang tak terduga.

Aprilia dan Marco Bezzecchi menjelma menjadi kekuatan baru yang dominan dengan raihan poin berlipat ganda, sementara kubu Ducati yang selama ini perkasa justru limbung dan kehilangan banyak poin.

KTM melalui Pedro Acosta menjadi satu-satunya kuda hitam yang mampu menembus dominasi Aprilia, sementara pabrikan Jepang masih berkutat dengan masalah fundamental.

Perubahan ini membuktikan bahwa MotoGP adalah ajang yang dinamis, di mana keseimbangan kekuatan bisa berubah dalam waktu singkat.

Dengan masih tersisa 19 seri lagi, persaingan masih sangat panjang.

Namun, start luar biasa ini jelas memberi modal berharga bagi Bezzecchi dan Aprilia, sekaligus menjadi alarm keras bagi Ducati untuk segera membenahi diri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.