Jateng

BMKG Peringatkan Kekeringan Level Awas: 10 Tips Hemat Air yang Bisa Kamu Mulai Malam Ini

Theo Adi Pratama | 18 Oktober 2026, 09:06 WIB
BMKG Peringatkan Kekeringan Level Awas: 10 Tips Hemat Air yang Bisa Kamu Mulai Malam Ini
Tips hemat air

JATENG.AKURAT.CO, Jujur saja. Kita baru sadar air itu berharga ketika kran di rumah mulai batuk-batuk. Sebelumnya, kita mandi sambil nyanyi, sikat gigi sambil scroll HP, dan mencuci piring sambil keran mengalir deras tanpa dosa.

Tapi begitu air PDAM mati bergiliran, atau tandon di atap mulai kosong padahal baru jam sepuluh pagi, barulah kita panik dan bertanya: ke mana perginya air?

Jawabannya tidak jauh-jauh. Sebagian besar air bersih di rumah tangga menguap begitu saja lewat kebiasaan kecil yang kita anggap sepele.

Dan tahun 2026 ini, BMKG sudah mengingatkan bahwa sekitar 76 persen wilayah Indonesia masih mengalami musim kemarau, dengan beberapa daerah masuk kategori "Awas" kekeringan meteorologis.

Kenapa Rumah Tangga Jadi Kunci?

Krisis air bukan cuma soal sungai kering atau sumur bor yang menyusut. Di Banjarbaru dan Martapura, kebocoran pipa intake Mandikapau bikin sekitar 80 ribu sambungan rumah terganggu.

Di Sampang, kapasitas produksi air yang biasanya 30 liter per detik merosot tajam jadi cuma 5 liter per detik, dan waktu pengaliran ke pelanggan dipangkas jadi sekitar 50–60 persen dari normal.

Artinya, pasokan dari pusat sedang tidak baik-baik saja. Kalau rumah tangga juga boros, maka cadangan air yang tersisa akan habis lebih cepat. Kabid Teknik Perumda Air Minum Trunojoyo Sampang, Holilur Rohman, bahkan terang-terangan meminta pelanggan memprioritaskan air bersih hanya untuk kebutuhan pokok dan mendesak harian.

1. Perbaiki Keran Bocor: Tetesan Kecil, Dosa Besar

Ini klise, tapi paling sering diabaikan. Tetesan air dari keran yang bocor mungkin terlihat sepele, tapi dalam sehari bisa membuang puluhan liter air bersih. Coba hitung: satu tetes per detik setara dengan sekitar 3 liter air per jam, atau 72 liter per hari.

Kalau dibiarkan sebulan, kamu sudah membuang lebih dari 2.000 liter air. Itu cukup buat kebutuhan minum satu keluarga selama berminggu-minggu.

Segera periksa keran, pipa, toren, sampai bak toilet. Jangan tunggu sampai air benar-benar langka baru sibuk cari tukang.

2. Mandi Pakai Shower, Bukan Gayung: Selisihnya Bikin Kaget

Ini mungkin mengejutkan bagi sebagian orang yang tumbuh besar dengan gayung dan bak mandi. Tapi data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI menunjukkan bahwa mandi menggunakan shower jauh lebih hemat dibandingkan gayung.

Satu kali mandi dengan gayung rata-rata menghabiskan lebih dari 100 liter air, sementara shower selama 5 menit hanya menghabiskan sekitar 30 hingga 60 liter.

Penggunaan shower bisa menghemat air hingga 50 persen. Dan kalau kamu bisa membatasi waktu mandi menjadi empat menit, konsumsi air bisa turun jadi sekitar 50 liter, dibandingkan mandi reguler yang bisa menghabiskan 80 liter.

3. Jangan Biarkan Keran Menyala Saat Menyikat Gigi

Kebiasaan ini kelihatan sepele, tapi dampaknya besar. Membiarkan air mengalir saat menyikat gigi, mencuci tangan, atau menggosok badan dengan sabun bisa membuang puluhan liter air setiap hari. Menurut data, kebiasaan sederhana mematikan keran bisa menghemat 6–12 liter air per menit.

Coba mulai malam ini: basahi sikat, matikan keran, sikat gigi sampai bersih, baru nyalakan lagi untuk berkumur. Selisih waktunya cuma beberapa detik, tapi dampaknya besar.

4. Tampung Air Bekas: Dari Cucian Beras sampai Air AC

Air bekas cucian beras, buah, atau sayuran jangan langsung dibuang ke saluran pembuangan. Air ini masih bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman hias atau mengepel lantai.

Yang lebih kreatif, manfaatkan air buangan AC. Air yang menetes dari saluran pembuangan AC bisa ditampung di galon atau wadah khusus, lalu dipakai untuk mengepel, mencuci kendaraan, atau mengisi setrika uap. Daripada dibuang sia-sia, mendingan ditampung.

5. Mesin Cuci: Kumpulkan Sampai Penuh, Jangan Sedikit-Sedikit

Mencuci pakaian sedikit-sedikit setiap hari itu pemborosan ganda: air dan listrik. Kumpulkan pakaian sampai kapasitas mesin cuci benar-benar penuh sebelum mencuci.

Dengan mengurangi frekuensi mencuci, konsumsi air dan listrik jadi jauh lebih efisien.

6. Siram Tanaman Pagi atau Malam, Bukan Siang Bolong

Menyiram tanaman di siang hari saat matahari sedang terik-teriknya adalah cara tercepat membuat air menguap sebelum diserap akar. Lakukan penyiraman pada pagi atau malam hari agar air terserap maksimal.

Kalau perlu, kurangi frekuensi menyiram halaman saat kemarau, dan prioritaskan menyapu atau menggunakan penyedot debu alih-alih mengepel basah setiap hari.

7. Cuci Piring Pakai Baskom, Bukan Keran Mengalir

Membiarkan keran terus mengalir saat mencuci piring itu nikmat, tapi boros. Sebagai gantinya, gunakan dua baskom: satu untuk merendam dan menyabuni piring, satu lagi untuk membilas.

Dengan metode ini, keran tidak perlu menyala selama proses mencuci. Perendaman juga membantu melonggarkan sisa makanan, jadi piring lebih mudah dibersihkan.

8. Tampung Air Hujan dan Buat Biopori

Kalau musim hujan datang, jangan biarkan air hujan langsung mengalir ke saluran drainase. Tampung air hujan untuk kebutuhan non-konsumsi seperti menyiram tanaman atau membersihkan halaman.

Di tingkat kampung, lubang biopori dan sumur resapan bisa membantu air meresap ke tanah dan menjaga cadangan air tanah saat kemarau.

9. Edukasi Keluarga: Hemat Air Itu Kerja Tim

Ini yang paling sering dilupakan. Menghemat air bukan proyek satu orang. Ajak semua anggota keluarga ikut berpartisipasi, dari anak-anak sampai orang tua.

Tempel pengingat di dekat keran, biasakan mematikan air setelah dipakai, dan jadikan hemat air sebagai kebiasaan bersama, bukan cuma aturan yang ditulis di kertas.

10. Siapkan Cadangan Air Secukupnya, Tapi Jangan Berlebihan

Menyimpan cadangan air itu penting, apalagi kalau PDAM sering mati bergiliran. Tapi simpanlah dalam jumlah yang wajar dan gunakan wadah tertutup agar kualitas air tetap terjaga.

Jangan sampai kamu menimbun air berlebihan sementara tetangga di sebelah kesulitan mendapat setetes air.

Air Itu Bukan Warisan, Tapi Pinjaman dari Anak Cucu

Pada akhirnya, semua tips di atas bukan cuma soal menekan tagihan air atau bikin tandon lebih awet. Ini soal kepedulian sosial.

Seperti yang dikutip dari RRI, menghemat air bukan hanya soal menekan tagihan bulanan, melainkan bentuk kepedulian sosial untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat tetap mendapatkan akses air bersih di tengah ancaman kekeringan.

Jadi sebelum kran di rumahmu benar-benar berhenti mengalir, mulai oprek kebiasaanmu malam ini. Matikan keran saat menyikat gigi. Tampung air bekas cucian beras.

Dan jangan tunggu sampai kamu harus antre di sumur desa baru sadar bahwa air itu bukan barang gratis yang bisa dibuang sia-sia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.