Jateng

Uang Bulanan Rp1 Juta: Bisa Makan, Bisa Gaya, Asal Gaya versi Anak Kos, Bukan Gaya Selebgram

Theo Adi Pratama | 25 Oktober 2026, 08:03 WIB
Uang Bulanan Rp1 Juta: Bisa Makan, Bisa Gaya, Asal Gaya versi Anak Kos, Bukan Gaya Selebgram
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Uang bulanan Rp1 juta buat anak kos di Semarang bukan anggaran gaya hidup selebgram, tapi anggaran survival yang kalau dihitung dengan jujur masih bisa menyisakan seporsi nasi telur, secangkir kopi Rp7 ribu, dan satu potong baju thrifting Rp20 ribu—asal kosnya murah, kakinya terbiasa jalan, dan tangannya mau masak.

Bayangkan awal bulan. Transferan masuk Rp1 juta. Dompet digital langsung terasa penuh, notifikasi promo makanan berdatangan, dan grup angkatan sibuk mengirim tautan nongkrong. Tiga minggu kemudian, saldo tinggal Rp43 ribu, sisa beras di kaleng sudah miring, dan mi instan kembali naik tahta.

Cerita ini bukan cerita satu orang. Biaya hidup mahasiswa di Semarang berada di kisaran Rp1,5 juta sampai Rp3 juta per bulan, tergantung tipe kos dan gaya hidup . Artinya, Rp1 juta berada di bawah batas paling hemat. Bukan berarti mustahil, tapi berarti ada pos-pos yang harus dipangkas sampai ke tulang.

Baca Juga: Dosa-Dosa Kecil Anak Kos Saat Pakai Paylater: Dari Kopi Rp18 Ribu sampai Tagihan Rp700 Ribu

Hitungan jujur: Rp1 juta tidak cukup untuk hidup nyaman, tapi cukup untuk hidup terencana

Kos ekonomi di Semarang tersedia mulai Rp500 ribu sampai Rp800 ribu per bulan, dengan kamar mandi bersama dan fasilitas seadanya . Kalau mengambil kos Rp500 ribu, sisa uang Rp500 ribu harus menanggung makan, listrik, data, kebersihan, dan gaya.

Makan adalah pos paling bisa ditekan. Nasi rames komplit di warung sekitar kampus sekitar Rp8.000–Rp12.000. Masak nasi, telur, dan sayur di kos bisa jauh lebih murah, sekitar Rp5.000–Rp8.000 per sekali makan .

Dengan tiga kali makan versi masak sendiri, biaya makan bisa ditekan ke Rp15.000–Rp20.000 per hari. Kalikan 30 hari, hasilnya Rp450.000–Rp600.000. Kalau kos Rp500 ribu dan makan Rp450 ribu, totalnya sudah Rp950 ribu. Sisa Rp50 ribu untuk listrik, data, dan sabun.

Angkanya mepet. Tapi masih ada celah: listrik tanpa AC sekitar Rp43.000–Rp58.000 per bulan, dan mahasiswa bisa naik Trans Semarang gratis dengan kartu mahasiswa . Dua pos ini bisa ditekan hampir nol kalau kos sudah termasuk listrik dan kamu rajin naik BRT.

Baca Juga: Tiga Hari Sebelum Transferan Masuk: Hitung Ulang, Masak Sendiri, dan Jangan Malu Minta Bantuan

Trik makan: belanja bahan, bukan belanja makanan

Anak kos yang bertahan dengan Rp1 juta biasanya bukan yang paling pandai mencari warung murah, tapi yang paling rajin belanja.

Pasar Johar dan Pasar Bulu adalah dua tempat yang paling sering disebut untuk belanja bahan segar dengan harga jauh lebih murah dari minimarket . Belanja beras, telur, tempe, sayur, dan bumbu dasar sekali seminggu bisa menekan biaya makan secara signifikan. Masak sendiri memang butuh tenaga, tapi penghematannya bisa Rp200.000–Rp400.000 per bulan .

Menu yang masuk akal untuk Rp1 juta bukan menu estetik. Nasi telur kecap, tumis tempe, sayur bening, dan sesekali mi instan. Sarapan bisa diganti pisang atau roti tawar murah. Makan di warung jadi hadiah, bukan kebiasaan.

Baca Juga: Tanggal Tua di Tembalang: Dari Hitung Ulang Sampai Masak Bareng, Ini Strategi Anak Kos

Trik gaya: Rp50 ribu yang terasa seperti Rp500 ribu

Ini bagian yang paling sering salah dipahami. Gaya bukan berarti nongkrong di kafe mahal setiap minggu. Gaya versi Rp1 juta adalah memilih tempat yang tepat.

Kopi susu di Luru Coffee Pekojan dibanderol Rp10.000 per gelas. Kofi Djohar di Pasar Johar menjual kopi Rp7.000–Rp19.000. Anak Panah Kopi di Tembalang punya Indomie Kornet Telur Rp15.000 yang jadi langganan mahasiswa yang begadang .

Untuk pakaian, thrifting di Pasar Johar menyediakan kemeja vintage, celana jeans, dan outer mulai Rp20.000 . Pasar Pagi Stadion Diponegoro juga dikenal sebagai tempat berburu pakaian branded harga ekonomis .

Olahraga tidak perlu bayar. Car Free Day di Alun-Alun Bung Karno Ungaran rutin digelar setiap Minggu, dengan senam massal, jalan sehat, dan bersepeda santai . Jogging di sekitar kampus juga gratis, asal tidak berhenti di kafe setelahnya.

Anggarkan pos gaya maksimal Rp50.000–Rp100.000 per bulan. Satu kopi seminggu, satu item thrifting setiap dua bulan, dan sisanya untuk kuota. Tidak mewah, tapi cukup untuk menjaga kewarasan.

Baca Juga: Tanggal Tua di Tembalang: Uang Rp10 Ribu Bisa Makan Sego Cumi dan Omelet Bakar, Kok Bisa?

Trik menabung: 5 persen dari Rp1 juta tetap berarti

Dosen manajemen keuangan di Universitas Muhammadiyah Malang menyarankan formula 50/30/20: 50 persen kebutuhan pokok, 30 persen keinginan, dan 20 persen tabungan atau investasi . Untuk Rp1 juta, formula itu terlalu longgar. Pos kebutuhan pokok saja sudah menelan 90 persen.

Versi yang lebih realistis untuk Rp1 juta adalah 85/10/5. Rp850.000 untuk kos, makan, listrik, dan data. Rp100.000 untuk gaya dan kebutuhan sosial. Rp50.000 untuk dana darurat.

Kompasiana menulis hal yang sama: sekitar 60 persen untuk kebutuhan wajib, 20 persen untuk keinginan, dan sisanya ditabung . Kalau Rp1 juta, tabungan Rp50.000 per bulan sudah cukup untuk membangun kebiasaan. Jangan menunggu sisa, karena sisa biasanya tidak pernah ada.

Trik terakhir: jangan gengsi cari pemasukan tambahan

Dengan Rp1 juta, memangkas pengeluaran ada batasnya. Setelah kos, makan, dan transportasi ditekan, tidak banyak lagi yang bisa dipotong. Di titik itu, menambah pemasukan lebih masuk akal daripada mengurangi makan.

RRI menyarankan kerja sampingan ringan, jualan online, atau menjadi reseller untuk menambah uang di saat genting . Mahasiswa Undip yang punya keterampilan desain, menulis, atau mengajar bisa mengambil proyek kecil. Honor Rp150.000–Rp300.000 bisa menutup pos gaya selama sebulan tanpa harus mengorbankan gizi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.