Jateng

Tiga Hari Sebelum Transferan Masuk: Hitung Ulang, Masak Sendiri, dan Jangan Malu Minta Bantuan

Theo Adi Pratama | 25 Oktober 2026, 07:43 WIB
Tiga Hari Sebelum Transferan Masuk: Hitung Ulang, Masak Sendiri, dan Jangan Malu Minta Bantuan
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Tiga hari sebelum kiriman bulanan datang adalah fase paling sunyi dalam hidup anak kos: uang tinggal Rp20 ribuan, sisa beras di kaleng sudah miring ke satu sisi, dan grup keluarga masih belum menampilkan notifikasi transfer—tapi justru di titik itu, kreativitas anak kos Undip diuji, dan yang selamat biasanya bukan yang paling punya uang, melainkan yang paling tahu cara menghitung dan memasak.

Rizky, mahasiswa semester akhir Undip, pernah mengalami tiga hari paling mendebarkan bulan lalu. Saldo dompet digitalnya Rp17.000. Uang tunai di dompet Rp5.000. Total Rp22.000 untuk tiga hari, dengan satu tagihan kos yang belum dibayar dan kuota yang tinggal seperempat.

“Hari pertama saya masih bisa beli nasi ayam Rp8.000. Hari kedua, saya sadar kalau lanjut begitu, hari ketiga saya cuma bisa minum air putih,” katanya.

Ia tidak kelaparan. Tapi ia juga tidak makan enak. Yang ia lakukan cuma satu: berhenti menganggap uang Rp22.000 sebagai “uang jajan”, dan mulai menganggapnya sebagai “anggaran tiga hari” yang harus dibagi.

Baca Juga: Tanggal Tua di Tembalang: Dari Hitung Ulang Sampai Masak Bareng, Ini Strategi Anak Kos

Hitung ulang, jangan menebak

Langkah pertama anak kos yang selamat adalah berhenti menebak-nebak. Buka semua dompet digital, cek uang tunai, lihat saldo rekening, dan catat tagihan yang harus dibayar dalam tiga hari ke depan.

Rizky membagi Rp22.000 menjadi tiga pos: Rp12.000 untuk makan, Rp5.000 untuk transportasi, dan Rp5.000 untuk cadangan darurat. “Kalau saya nggak bagi, uangnya habis di hari pertama buat hal yang nggak penting,” ujarnya.

RRI edisi 27 Agustus 2026 menulis hal yang sama: mengatur sisa uang adalah langkah awal. Jangan langsung dipakai semua, tapi dibagi dulu untuk kebutuhan penting seperti makan, transportasi, dan keperluan mendesak.

Belanja bahan, bukan belanja makanan

Dengan Rp12.000 untuk tiga hari, Rizky tidak bisa makan di warung tiga kali sehari. Tapi ia bisa belanja.

Satu kilogram beras medium di Gerakan Pangan Murah Cilacap pada 21 Oktober 2026 dijual Rp13.000, sementara beras SPHP Rp11.500 per kilogram. Telur ayam Rp22.000 per kilogram, dan tempe mulai Rp2.500. Harga cabai memang sedang tinggi, sempat menyentuh Rp90.000 per kilogram pada awal Oktober 2026. Tapi anak kos tidak perlu membeli cabai satu kilogram. Cukup beli seperempat, atau pakai sambal kemasan yang lebih murah.

Izza, mahasiswa asal Banjarnegara, punya hitungan yang lebih konkret. Sekali belanja telur, tempe, dan sayuran sekitar Rp30.000 bisa diolah untuk kebutuhan empat hari. Rata-rata pengeluaran makannya hanya sekitar Rp10.000 per hari.

“Strateginya kalau uang bulanan mulai menipis ya tinggal kurang-kurangin jajan di luar. Bikin menu yang simpel saja seperti tumis sayur, telur goreng, atau telur rebus,” ujarnya.

Baca Juga: Tanggal Tua di Tembalang: Uang Rp10 Ribu Bisa Makan Sego Cumi dan Omelet Bakar, Kok Bisa?

Menu tiga hari yang tidak menyiksa lidah

Hari pertama: nasi telur kecap. Telur dua butir, kecap, dan nasi dari rice cooker. Biaya sekitar Rp4.000.

Hari kedua: tumis tempe dan sayur bening. Tempe Rp3.000, kangkung seikat Rp2.000 sampai Rp3.000, dan bumbu dasar yang sudah ada di kos. Biaya sekitar Rp6.000.

Hari ketiga: nasi goreng kampung. Sisa nasi dari hari sebelumnya, telur satu butir, dan sedikit kecap. Biaya sekitar Rp3.000.

Total tiga hari: sekitar Rp13.000. Masih ada sisa untuk beli air mineral atau kuota darurat.

Salma Handayani, mahasiswi asal Jawa Barat, menyarankan hal yang lebih sederhana lagi. “Sesederhana sambelan sepaket Rp5.000 dapat. Sayur asem sepaket Rp5.000 dapat. Terus kangkung per ikat Rp2.000, Rp3.000, tahu, tempe udah,” katanya, seperti dikutip RRI.

Jangan gengsi sama promo

Tanggal 23 sampai 25 Oktober 2026, Alfamart menggelar promo Jumat-Sabtu-Minggu. Indomie Ayam Bawang isi lima bungkus dijual Rp14.600. Sedaap Mi Goreng isi tiga bungkus Rp11.900. Minyak goreng dua liter mulai Rp40.200.

Anak kos yang cerdas tidak akan membeli semuanya. Tapi kalau sisa uang memungkinkan, membeli mi instan dalam jumlah kecil untuk cadangan bukan keputusan buruk. Yang buruk adalah membeli mi instan karena malas memasak, padahal masih ada beras dan telur di kos.

RRI edisi 29 April 2026 juga menyarankan hal serupa: manfaatkan promo dan diskon, tapi tetap fokus pada kebutuhan, bukan keinginan.

Tiga hari bukan waktunya jadi pahlawan sendiri

Ada saatnya anak kos perlu mengakui bahwa Rp22.000 tidak cukup untuk tiga hari yang nyaman. Di titik itu, jaringan lebih berharga daripada ego.

Rizky pernah mendapat bantuan kecil dari teman satu angkatan: sebungkus nasi dan lauk, tanpa diminta. “Dia cuma bilang, ‘aku masak kebanyakan’. Padahal dia tahu aku sedang bokek,” ujarnya.

Grup angkatan, grup kos, dan grup organisasi bisa menjadi tempat mencari informasi kerja sampingan kecil, bantuan mahasiswa, atau sekadar tawaran makan bersama. Anak kos yang diam biasanya bertahan lebih lama dalam kesusahan, bukan karena kuat, tapi karena tidak tahu ke mana harus bertanya.

Telepon rumah sebelum dompet benar-benar kering

Ini langkah yang paling sering ditunda. Banyak anak kos merasa tidak enak menagih kiriman. Padahal, orang tua biasanya lebih tersinggung kalau tahu anaknya kelaparan diam-diam daripada diminta uang lebih awal.

Rizky belajar satu hal: komunikasi yang tenang lebih didengar daripada pesan panik tengah malam. “Saya bilang: ‘Bu, uangnya belum masuk, tapi saya masih bisa bertahan tiga hari. Kalau bisa dikirim sebelum Kamis, saya lebih tenang,’” katanya.

Kalimat itu tidak menuduh. Ia hanya memberi informasi. Dan dalam banyak kasus, orang tua akan bergerak lebih cepat daripada yang dibayangkan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.