Tanggal Tua di Tembalang: Dari Hitung Ulang Sampai Masak Bareng, Ini Strategi Anak Kos

JATENG.AKURAT.CO, Kiriman orang tua yang terlambat bukan akhir dari hidup anak kos Undip, asal tahu urutan penyelamatan: hitung ulang uang yang tersisa, turunkan standar makan tanpa turun gizi, aktifkan jaringan teman satu angkatan, dan jangan malu menelepon rumah sebelum dompet benar-benar kering.
Tanggal 25. Saldo dompet digital menunjukkan angka yang bikin mata enggan berkedip. Di grup keluarga, belum ada notifikasi transfer masuk. Di grup angkatan, teman-teman sibuk mengirim tautan promo makanan yang harganya bikin geleng-geleng. Perut, seperti punya alarm sendiri, mulai berbunyi tepat pukul dua belas siang.
Rizky, mahasiswa semester akhir Undip, pernah mengalami fase paling genting. Kiriman dari orang tua tertunda hampir sepekan karena urusan bank. “Awalnya saya pikir bisa bertahan dengan mi instan. Hari ketiga, saya sadar mi instan bukan strategi, tapi bunuh diri perlahan,” katanya.
Cerita Rizky bukan cerita langka. Kawasan Tembalang punya populasi mahasiswa yang besar, dan siklus kiriman orang tua tidak selalu mulus. Ada yang telat karena bank, ada yang telat karena panen, ada juga yang telat karena orang tua sedang mengatur ulang prioritas keluarga. Di titik itu, anak kos dituntut jadi manajer keuangan dadakan.
Baca Juga: Tanggal Tua di Tembalang: Uang Rp10 Ribu Bisa Makan Sego Cumi dan Omelet Bakar, Kok Bisa?
Jurus pertama: hitung ulang, jangan menebak
Langkah paling awal bukan mencari pinjaman, melainkan menghitung. Buka semua dompet digital, cek uang tunai, lihat saldo rekening, dan catat semua tagihan yang harus dibayar dalam sepekan ke depan. Kos, listrik, kuota, dan transportasi masuk daftar. Makan masuk daftar. Utang ke teman juga masuk daftar.
Rizky mengaku pernah gagal di langkah ini. “Saya cuma lihat saldo, langsung panik. Setelah dihitung, ternyata masih cukup untuk makan 10 hari kalau masak sendiri,” ujarnya.
Hitung ulang membuat masalah terlihat lebih kecil dari yang dibayangkan. Angka yang jelas lebih menenangkan daripada rasa cemas yang mengambang.
Jurus kedua: turunkan standar, bukan gizi
Makan murah di Tembalang bukan berarti makan sembarangan. Warung penyetan Rp8.000 sampai Rp10.000 masih banyak. Pecel Rp6.000 masih ada. Burjo 24 jam masih setia menunggu. Yang berubah bukan kualitas gizi, tapi cara memilih.
Nabila, mahasiswa Undip yang lain, punya aturan sederhana. “Kalau uang tinggal Rp50.000, saya belanja telur, tempe, sayur, dan beras. Itu bisa bertahan empat hari. Lebih murah daripada makan di luar tiga kali sehari,” katanya.
Masak bareng teman satu kos juga bisa menekan biaya. Satu orang beli beras, satu orang beli telur, satu orang beli sayur. Hasilnya, satu piring nasi telur bisa dinikmati bersama tanpa harus menguras kantong masing-masing.
Jurus ketiga: aktifkan jaringan, bukan mengisolasi diri
Anak kos yang selamat biasanya bukan yang paling kaya, tapi yang paling tahu ke mana harus bertanya. Grup angkatan, grup kos, grup organisasi, dan grup komunitas bisa menjadi jejaring informasi. Ada yang menawarkan kerja sampingan, ada yang menjual makanan murah, ada yang membagi rezeki lebih.
Rizky pernah mendapat proyek desain kecil dari senior di organisasi. “Honornya Rp150.000. Cukup untuk seminggu makan. Itu datang karena saya cerita, bukan karena saya diam saja,” ujarnya.
Malu bercerita justru memperpanjang masalah. Di kampus, informasi tentang beasiswa, kerja paruh waktu, atau bantuan mahasiswa biasanya beredar dari mulut ke mulut. Anak kos yang aktif bertanya lebih cepat menemukan jalan keluar.
Jurus keempat: komunikasi ke rumah, jangan menunggu krisis
Ini yang paling sering ditunda. Banyak anak kos merasa tidak enak menagih kiriman. Padahal, orang tua biasanya lebih tersinggung kalau tahu anaknya kelaparan diam-diam daripada diminta uang lebih awal.
Rizky belajar satu hal. “Saya bilang ke ibu: ‘Bu, uangnya belum masuk, tapi saya masih bisa bertahan seminggu. Kalau bisa dikirim sebelum Kamis, saya lebih tenang.’ Ibu malah minta maaf karena lupa transfer,” katanya.
Komunikasi yang jelas membantu orang tua memahami situasi. Kalimat yang tenang lebih didengar daripada pesan panik tengah malam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Jalan Diperbaiki, Warga Malah Menderita: Seragam Anak Kotor, Motor Rusak di Jalur Semarang–Kendal
- 2Prediksi Skor Madura United vs Persib: Ketajaman Dimitar Mitkov Jadi Ancaman, Ini yang Diwaspadai Igor Tolic
- 3Rute Macet Semarang-Solo, 22 Oktober 2026: Mana yang Harus Dihindari, Mana yang Harus Diambil
- 4Pentingnya Ketajaman Intuisi untuk Menghadapi Dinamika Kehidupan
- 5Hapkido Semarang Dominasi Porprov Jateng 2026, Raih Lima Emas dan Sabet Gelar Juara Umum
- 6Apel Hari Santri 2026 di Kendal, Gus Rozin Ajak Santri Perkuat Persatuan dan Kuasai Era Digital
- 7Gempa BENGKULU Hari Ini Magnitudo 5,2 Guncang Lebong Bengkulu, BMKG Catat Kedalaman 120 Km
- 8Ponpes Al-Insaniyyah Salatiga Raih Penghargaan Pelopor Moderasi Beragama
- 9Hari Santri, Baznas Jateng Salurkan Rp697,89 Juta untuk 97 Jamban dan Empat Rumah Tidak Layak Huni
- 10Cek NIK Sekarang: Kamu Masuk Desil Berapa? Kalau 6 ke Atas, Jangan Berharap Bansos




