Jateng

Tanggal Tua di Tembalang: Dari Hitung Ulang Sampai Masak Bareng, Ini Strategi Anak Kos

Theo Adi Pratama | 25 Oktober 2026, 07:31 WIB
Tanggal Tua di Tembalang: Dari Hitung Ulang Sampai Masak Bareng, Ini Strategi Anak Kos
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Kiriman orang tua yang terlambat bukan akhir dari hidup anak kos Undip, asal tahu urutan penyelamatan: hitung ulang uang yang tersisa, turunkan standar makan tanpa turun gizi, aktifkan jaringan teman satu angkatan, dan jangan malu menelepon rumah sebelum dompet benar-benar kering.

Tanggal 25. Saldo dompet digital menunjukkan angka yang bikin mata enggan berkedip. Di grup keluarga, belum ada notifikasi transfer masuk. Di grup angkatan, teman-teman sibuk mengirim tautan promo makanan yang harganya bikin geleng-geleng. Perut, seperti punya alarm sendiri, mulai berbunyi tepat pukul dua belas siang.

Rizky, mahasiswa semester akhir Undip, pernah mengalami fase paling genting. Kiriman dari orang tua tertunda hampir sepekan karena urusan bank. “Awalnya saya pikir bisa bertahan dengan mi instan. Hari ketiga, saya sadar mi instan bukan strategi, tapi bunuh diri perlahan,” katanya.

Cerita Rizky bukan cerita langka. Kawasan Tembalang punya populasi mahasiswa yang besar, dan siklus kiriman orang tua tidak selalu mulus. Ada yang telat karena bank, ada yang telat karena panen, ada juga yang telat karena orang tua sedang mengatur ulang prioritas keluarga. Di titik itu, anak kos dituntut jadi manajer keuangan dadakan.

Baca Juga: Tanggal Tua di Tembalang: Uang Rp10 Ribu Bisa Makan Sego Cumi dan Omelet Bakar, Kok Bisa?

Jurus pertama: hitung ulang, jangan menebak

Langkah paling awal bukan mencari pinjaman, melainkan menghitung. Buka semua dompet digital, cek uang tunai, lihat saldo rekening, dan catat semua tagihan yang harus dibayar dalam sepekan ke depan. Kos, listrik, kuota, dan transportasi masuk daftar. Makan masuk daftar. Utang ke teman juga masuk daftar.

Rizky mengaku pernah gagal di langkah ini. “Saya cuma lihat saldo, langsung panik. Setelah dihitung, ternyata masih cukup untuk makan 10 hari kalau masak sendiri,” ujarnya.

Hitung ulang membuat masalah terlihat lebih kecil dari yang dibayangkan. Angka yang jelas lebih menenangkan daripada rasa cemas yang mengambang.

Jurus kedua: turunkan standar, bukan gizi

Makan murah di Tembalang bukan berarti makan sembarangan. Warung penyetan Rp8.000 sampai Rp10.000 masih banyak. Pecel Rp6.000 masih ada. Burjo 24 jam masih setia menunggu. Yang berubah bukan kualitas gizi, tapi cara memilih.

Nabila, mahasiswa Undip yang lain, punya aturan sederhana. “Kalau uang tinggal Rp50.000, saya belanja telur, tempe, sayur, dan beras. Itu bisa bertahan empat hari. Lebih murah daripada makan di luar tiga kali sehari,” katanya.

Masak bareng teman satu kos juga bisa menekan biaya. Satu orang beli beras, satu orang beli telur, satu orang beli sayur. Hasilnya, satu piring nasi telur bisa dinikmati bersama tanpa harus menguras kantong masing-masing.

Jurus ketiga: aktifkan jaringan, bukan mengisolasi diri

Anak kos yang selamat biasanya bukan yang paling kaya, tapi yang paling tahu ke mana harus bertanya. Grup angkatan, grup kos, grup organisasi, dan grup komunitas bisa menjadi jejaring informasi. Ada yang menawarkan kerja sampingan, ada yang menjual makanan murah, ada yang membagi rezeki lebih.

Rizky pernah mendapat proyek desain kecil dari senior di organisasi. “Honornya Rp150.000. Cukup untuk seminggu makan. Itu datang karena saya cerita, bukan karena saya diam saja,” ujarnya.

Malu bercerita justru memperpanjang masalah. Di kampus, informasi tentang beasiswa, kerja paruh waktu, atau bantuan mahasiswa biasanya beredar dari mulut ke mulut. Anak kos yang aktif bertanya lebih cepat menemukan jalan keluar.

Jurus keempat: komunikasi ke rumah, jangan menunggu krisis

Ini yang paling sering ditunda. Banyak anak kos merasa tidak enak menagih kiriman. Padahal, orang tua biasanya lebih tersinggung kalau tahu anaknya kelaparan diam-diam daripada diminta uang lebih awal.

Rizky belajar satu hal. “Saya bilang ke ibu: ‘Bu, uangnya belum masuk, tapi saya masih bisa bertahan seminggu. Kalau bisa dikirim sebelum Kamis, saya lebih tenang.’ Ibu malah minta maaf karena lupa transfer,” katanya.

Komunikasi yang jelas membantu orang tua memahami situasi. Kalimat yang tenang lebih didengar daripada pesan panik tengah malam.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.