Jateng

Token Listrik Rp20 Ribu Cukup Berapa Hari? Ternyata Beda Daya, Beda Nasib Anak Kos

Theo Adi Pratama | 25 Oktober 2026, 08:16 WIB
Token Listrik Rp20 Ribu Cukup Berapa Hari? Ternyata Beda Daya, Beda Nasib Anak Kos
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Token listrik Rp20 ribu bukan tiket listrik sebulan, melainkan tiket harian yang durasinya sangat bergantung pada daya terpasang dan kebiasaan pemakaian: di 900 VA subsidi bisa bertahan hampir dua minggu, di 900 VA non-subsidi sekitar sembilan hari, sementara di 1300 VA dengan rice cooker yang dibiarkan menghangat seharian, token itu bisa habis dalam hitungan hari.

Bayangkan malam tanggal 27 di sebuah kos Tembalang. Meteran listrik berbunyi. Angka di layar sudah merah. Kamu merogoh uang terakhir di dompet, berharap Rp20 ribu bisa menutup sisa bulan. Lalu muncul pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab dengan tenang: cukup berapa hari?

Jawabannya bukan soal berapa kWh yang kamu dapat, tapi soal bagaimana kWh itu dipakai.

Baca Juga: Kenapa Anak Kos Lebih Suka Es Teh Jumbo Rp3.000 daripada Bikin Sendiri? Ini Hitungan yang Tidak Pernah Dibahas

Berapa kWh yang sebenarnya kamu beli?

Token Rp20.000 tidak seluruhnya berubah menjadi listrik. Ada biaya admin dan Pajak Penerangan Jalan (PPJ) yang dipotong lebih dulu. PPJ berbeda-beda tiap daerah, umumnya 3–10 persen. Di Jakarta, untuk daya sampai 2.200 VA, PPJ sekitar 2,4 persen. Di Semarang, ilustrasi yang dipakai adalah 9 persen, sementara banyak daerah lain memakai 3 persen.

Karena itu, jumlah kWh yang masuk ke meteran berbeda-beda meski nominal tokennya sama.

Untuk 900 VA subsidi (tarif Rp605 per kWh), token Rp20.000 bisa menghasilkan sekitar 26,86 kWh. Untuk 900 VA non-subsidi (R-1/TR, tarif Rp1.352 per kWh), dengan PPJ 2,4 persen, hasilnya sekitar 14,44 kWh. Untuk 1300 VA (tarif Rp1.444,70 per kWh), token Rp20.000 biasanya menghasilkan sekitar 13,2 kWh setelah dipotong PPJ.

Baca Juga: Uang Bulanan Rp1 Juta: Bisa Makan, Bisa Gaya, Asal Gaya versi Anak Kos, Bukan Gaya Selebgram

900 VA subsidi: hampir dua minggu kalau tidak boros

Ini golongan yang paling beruntung. Dengan 26,86 kWh, kamu punya ruang lebih lega dibanding golongan non-subsidi.

Dosen Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Yogyakarta, Toto Sukisno, menghitung kebutuhan listrik anak kos yang hanya memakai ponsel, laptop, lampu, dan kipas angin sekitar 1,48 kWh per hari. Dengan angka itu, token Rp20.000 di 900 VA subsidi bisa bertahan sekitar 18 hari. Itu bukan sekadar cukup sampai kiriman datang; itu cukup untuk sedikit bersantai.

Tapi angka 1,48 kWh itu hanya berlaku kalau kos benar-benar minimalis. Begitu rice cooker masuk daftar, hitungannya berubah.

Baca Juga: Dosa-Dosa Kecil Anak Kos Saat Pakai Paylater: Dari Kopi Rp18 Ribu sampai Tagihan Rp700 Ribu

900 VA non-subsidi: sekitar sembilan hari, dan itu sudah bagus

Untuk 900 VA non-subsidi, 14,44 kWh dengan kebutuhan 1,48 kWh per hari menghasilkan sekitar 9–10 hari. Ini angka yang paling sering dikutip untuk anak kos di Jakarta, dan sering disebut sebagai “satu pekan lebih”.

Sembilan hari terdengar mepet, tapi masih bisa diatur. Yang membuat token cepat habis bukan jumlah kWh-nya, melainkan peralatan yang menyala tanpa disadari.

Baca Juga: Tiga Hari Sebelum Transferan Masuk: Hitung Ulang, Masak Sendiri, dan Jangan Malu Minta Bantuan

1300 VA: token Rp20.000 bisa habis dalam hitungan hari

Di 1300 VA, kWh yang didapat lebih sedikit karena tarifnya lebih tinggi, sekitar 13,2 kWh. Dengan kebutuhan harian yang sama, 1,48 kWh, token Rp20.000 hanya bertahan sekitar 8–9 hari.

Tapi angka itu bisa anjlok drastis kalau rice cooker dipakai dengan cara yang boros. Rice cooker saat memasak menarik daya 300–400 watt selama sekitar satu jam. Saat mode menghangatkan, dayanya turun ke 30–70 watt, tapi kalau dibiarkan menyala 8 jam sehari, konsumsinya tetap menumpuk. Dosen Teknik Elektro Universitas Sebelas Maret, Subuh Pramono, menyebut rumah tangga kecil dengan rice cooker dan peralatan dasar lain bisa membutuhkan 2–2,5 kWh per hari.

Dengan 2,5 kWh per hari, 13,2 kWh hanya cukup untuk sekitar 5 hari. Jika setrika 300–400 watt dipakai 30 menit setiap hari, konsumsinya bertambah sekitar 0,15–0,2 kWh per hari. Jika kulkas kecil 50–100 watt menyala sepanjang hari, tambahannya bisa 1,2–2,4 kWh per hari, meskipun kompresor tidak menyala terus-menerus.

Artinya, di 1300 VA, token Rp20.000 bisa bertahan lima sampai sembilan hari, tergantung seberapa disiplin kamu mematikan rice cooker setelah nasi matang dan seberapa sering kamu membuka kulkas tanpa tujuan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.