Jateng

Lima Jurus Beli Galon Isi Ulang Tanpa Takut Diare, Nomor 3 Paling Sering Dilupakan

Theo Adi Pratama | 25 Oktober 2026, 08:21 WIB
Lima Jurus Beli Galon Isi Ulang Tanpa Takut Diare, Nomor 3 Paling Sering Dilupakan
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Galon isi ulang Rp4.000 per galon di Semarang memang menggiurkan di tengah kemarau yang membuat sumur kering, tapi di balik harga murahnya ada risiko mikrobiologis dan BPA yang bisa berujung sakit perut—dan cara menghindarinya bukan dengan berhenti beli galon, melainkan dengan tahu depot mana yang layak dipercaya dan galon seperti apa yang masih aman dipakai.

Kemarau 2026 membuat warga Semarang mengambil keputusan yang tidak biasa. Sumur di Jabungan dan Meteseh kering, dan air galon isi ulang menjadi penyelamat. Harganya Rp4.000 per galon, dan bagi banyak keluarga, itu satu-satunya cara mandi, memasak, dan minum tanpa harus menempuh lima kilometer ke sungai.

Tapi harga murah selalu punya cerita di baliknya. Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya, Islam Syarifurrahman, tidak menakut-nakuti. Ia hanya mengingatkan satu hal: “Risiko kesehatan tidak melekat pada konsep air isi ulang itu sendiri, tetapi sangat dipengaruhi oleh kualitas pengelolaan depot dan penanganan air setelah pengisian”.

Kalimat itu penting. Artinya, galon isi ulang tidak otomatis berbahaya. Tapi juga tidak otomatis aman.

Baca Juga: Token Listrik Rp20 Ribu Cukup Berapa Hari? Ternyata Beda Daya, Beda Nasib Anak Kos

Yang tidak terlihat di balik harga Rp4.000

Air yang awalnya memenuhi syarat bisa turun kualitasnya selama proses pengolahan, pengisian, dan penyimpanan. Risiko utamanya adalah kontaminasi mikrobiologis—bakteri Escherichia coli dan kelompok Coliform yang bisa mengindikasikan masalah pada sumber air, sanitasi peralatan, higiene operator, atau kondisi setelah pengisian.

Studi di Ligung, Majalengka, menemukan hampir separuh depot yang diteliti tidak memenuhi standar kualitas aman mikrobiologis. Angka itu bukan untuk membuat panik. Tapi cukup untuk membuat kita bertanya: depot di depan kos kita, masuk kategori yang mana?

Ada juga risiko jangka panjang dari wadahnya. Galon berbahan polikarbonat yang sudah dipakai lebih dari satu tahun berpotensi melepaskan Bisfenol A (BPA), zat kimia yang dikaitkan dengan gangguan sistem endokrin. Investigasi Komunitas Konsumen Indonesia pada 2025 menemukan 80 persen galon tampak buram atau kusam, 55 persen kotor atau berdebu, dan 33 persen segelnya rusak.

RRI edisi April 2026 menambahkan satu lapisan risiko: penggunaan berulang bisa memicu pembentukan biofilm bakteri pada permukaan galon, terutama jika galon tergores atau terpapar panas.

Baca Juga: Kenapa Anak Kos Lebih Suka Es Teh Jumbo Rp3.000 daripada Bikin Sendiri? Ini Hitungan yang Tidak Pernah Dibahas

Cara memilih depot: jangan hanya lihat harga

Kementerian Perdagangan sudah menetapkan enam kewajiban bagi pengusaha depot air minum isi ulang. Depo wajib punya Nomor Induk Berusaha (NIB), Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), menggunakan galon berbahan food grade, memeriksa dan mencuci galon pelanggan sesuai prosedur, punya surat jaminan pasokan air baku berizin, dan melakukan uji kualitas air secara berkala di laboratorium terakreditasi.

Di lapangan, tidak semua depot menampilkan dokumen itu di dinding. Tapi ketidaktransparanan bukan alasan untuk tetap membeli. Kalau depot tidak mau ditanya soal izin, jadwal ganti filter, atau hasil uji lab, lebih aman mencari tempat lain.

Hal yang bisa dilihat langsung: lantai depot tidak boleh licin atau becek, keran pengisian tidak bocor, dan operator memakai sarung tangan bersih. Depot yang dekat selokan atau tempat pembuangan sampah sebaiknya dihindari, karena lingkungan lembap mempercepat pertumbuhan mikroorganisme.

Baca Juga: Uang Bulanan Rp1 Juta: Bisa Makan, Bisa Gaya, Asal Gaya versi Anak Kos, Bukan Gaya Selebgram

Lima jurus beli galon murah tanpa sakit perut

Pertama, bawa galon sendiri yang masih layak. Jangan memakai galon yang sudah buram, tergores dalam, retak, atau penyok. Kalau galon sudah berumur lebih dari satu tahun dan sering terpapar panas, ganti. Harga galon baru memang terasa mahal di awal, tapi rumah sakit jauh lebih mahal.

Kedua, pilih depot yang mencuci galon dengan mesin dan sabun food grade. Pencucian manual dengan sikat dan sabun cuci piring biasa tidak cukup untuk membunuh biofilm. Depot yang baik biasanya punya mesin pencuci khusus dan menjalankan prosedur bilas bertekanan.

Ketiga, tanya kapan terakhir filter diganti. Filter yang sudah jenuh tidak lagi menyaring apa pun. Depot yang jujur biasanya mencatat jadwal penggantian filter di papan tulis atau buku kontrol. Kalau jawabannya “lupa” atau “nanti saja”, itu tanda bahaya.

Keempat, periksa air sebelum diminum. Air yang aman tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Kalau ada endapan, bau plastik, atau rasa aneh, jangan diminum. Untuk memasak dan mandi mungkin masih bisa, tapi untuk minum langsung, jangan dipaksakan.

Kelima, kalau ragu, masak dulu. Merebus air hingga mendidih membunuh bakteri dan virus. Tapi merebus tidak menghilangkan BPA atau logam berat. Jadi, kalau kekhawatirannya adalah galon tua, mengganti galon lebih penting daripada merebus air.

Baca Juga: Dosa-Dosa Kecil Anak Kos Saat Pakai Paylater: Dari Kopi Rp18 Ribu sampai Tagihan Rp700 Ribu

Harga wajar dan batas kewajaran

Di Semarang, galon isi ulang dihargai sekitar Rp4.000 per galon dalam situasi kemarau. Harga normal di beberapa depot bisa Rp5.000–Rp6.000. Kalau ada depot yang menjual Rp2.500 atau Rp3.000, pertanyaannya bukan “kenapa murah?”, melainkan “di mana yang dikorbankan?”.

Bisa jadi yang dikorbankan adalah kualitas filter, kebersihan galon, atau kepatuhan pada prosedur sanitasi. Tidak selalu demikian. Tapi dengan air minum, margin keuntungan yang terlalu tipis sering kali berarti ada langkah yang dilewati.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.