Rute Macet Semarang-Solo, 22 Oktober 2026: Mana yang Harus Dihindari, Mana yang Harus Diambil

JATENG.AKURAT.CO, Rute macet Semarang dan Solo pada Kamis, 22 Oktober 2026 bukan soal kecelakaan besar atau demo yang bikin jalan tutup total, melainkan drama proyek yang belum kelar: Piere Tendean masih ditutup di Semarang, sementara Solo punya Yos Sudarso yang sudah lama jadi biang kerok dan Jurug C yang tetap padat merayap tanpa ampun.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca 22 Oktober: 2026 Semarang Berawan, Solo Cerah, Tapi Dua-duanya Bikin Berkeringat
Semarang pagi ini tidak memberi kejutan. Jalan Kapten Piere Tendean, tepatnya di lingkar Taman Signature atau Parikesit yang mengarah ke Balai Kota dan Tugu Muda, masih ditutup hingga 28 Oktober 2026.
Proyeknya bukan demo atau acara politik. Ini murni drainase. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang sudah menegaskan penutupan berlangsung sejak 14 Oktober dan tidak akan dibuka sebelum proyeknya selesai.
Artinya, kalau kamu biasa melintas dari Jalan Pemuda lalu belok ke arah Balai Kota lewat lingkar taman itu, kamu sudah punya alasan bagus untuk berangkat lebih awal atau mencari jalur lain.
Fajar, karyawan swasta di kawasan Simpang Lima, sudah merasakan getirnya. “Lupa kalau Pierre Tendean masih ditutup. Jadi harus muter lewat Pandanaran. Itu artinya nambah sepuluh menit kalau lagi apes,” katanya.
Sepuluh menit mungkin terdengar sepele. Tapi kalikan dengan lima hari kerja, dan kamu akan paham kenapa orang Semarang mulai hafal jalur tikus di luar kepala.
Jalan Madukoro juga belum move on. Perbaikan rel kereta api oleh KAI Daop 4 Semarang masih berlangsung, dengan sistem buka-tutup satu sisi yang membuat akses menuju Bandara Ahmad Yani tersendat sejak pagi.
Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, sudah mengimbau pengguna jalan memanfaatkan Jalan Arteri Utara sebagai jalur alternatif.
“Perbaikan ini sangat diperlukan untuk memastikan operasional kereta api yang andal, aman, dan nyaman,” ujarnya, dikutip dari sumber yang sama.
Titik langganan lain tidak perlu proyek baru untuk macet. Jalan Kedungmundu Raya, Kaligawe Raya, Majapahit yang masih dalam masa betonisasi, Siliwangi, hingga Simpang Kalibanteng tetap padat merayap setiap hari.
Di Kedungmundu, titik macet utamanya ada di pertigaan arah krematorium dan simpang depan Masjid Baitul Muttaqin.
Dishub sudah memasang traffic cone, tapi masih ada oknum yang membobol pembatas demi jalan pintas.
Widi Astari, warga yang sering melintas, mengaku macet di perputaran arah krematorium memang parah. “Apalagi jalannya agak nanjak,” katanya, dikutip dari RRI.
Simpang Kalibanteng punya masalah tersendiri. Plt Kepala Dishub Kota Semarang, Danang Kurniawan, mengakui lampu lalu lintas dari arah Jakarta terlalu lama, sekitar 150 detik, sehingga antrean kendaraan bisa mencapai Simpang Hanoman.
Bagi pengendara dari barat yang ingin ke pusat kota, jalur Pamularsih dan Kaligarang bisa jadi opsi untuk menghindari kepadatan di sekitar Jalan dr. Kariadi dan Jalan Pemuda.
Solo: proyek lama, drama baru
Solo tidak kalah sibuk. Jalan Yos Sudarso sisi barat, dari Simpang Nonongan sampai Simpang Coyudan, masih ditutup untuk revitalisasi hingga Desember 2026.
Kepala Dishub Solo, Taufiq Muhammad, menjelaskan arus dari arah selatan menuju utara ditutup sementara, sementara arus dari Simpang Nonongan menuju Coyudan masih bisa dilalui. Proyek ini menelan anggaran lebih dari Rp 11 miliar dari APBD 2026, dengan target selesai akhir tahun.
Wulan, warga Solo yang rutin pulang dari Jebres ke Laweyan, sudah pasrah. “Dua minggu ini aku sudah pasrah. Yang penting sampai rumah sebelum magrib,” ujarnya.
Rute biasanya lewat Jalan Juanda, tapi jalan itu sedang menyempit. Ia akhirnya memutar lewat Jalan Dr Radjiman, menghindari Juanda yang sumpek.
Jembatan Jurug C masih jadi titik paling menyakitkan. Pada jam sibuk sore pukul 16.00–17.00 WIB, waktu tempuh melintasi jembatan ini meningkat dua kali lipat.
Jalan Kebangkitan Nasional, dari Simpang Tugu Lilin hingga Simpang Tiga Beringin Penumping, juga masih dalam masa penyesuaian arus akibat proyek drainase yang berlangsung hingga 6 November 2026.
Pengendara dari arah barat menuju Jalan Slamet Riyadi disarankan lewat Jalan Dr Radjiman atau Simpang Gendengan.
Dari arah timur, bisa memutar lewat Jalan Bhayangkara-Sriwedari atau Jalan Dr Radjiman Laweyan.
Jalan Slamet Riyadi dan Gatot Subroto punya masalah yang lebih struktural: parkir di badan jalan. Menjamurnya kafe di sepanjang dua ruas ini membuat kendaraan yang berhenti memakan sebagian jalur, memicu kepadatan yang tidak selalu terlihat di data resmi.
Dishub Kota Solo sendiri sudah memetakan sejumlah persimpangan rawan macet, termasuk Gilingan, Ngapeman, Gendengan, Nonongan, Ngemplak, Tugu Wisnu, Kleco, Proliman Balapan, dan Fajar Indah. Daftar itu bukan ramalan. Ia adalah peringatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Daftar Gunung Terbakar Dalam 24 Jam Terakhir Hingga Senin 19 Oktober 2026: Dari Bromo sampai Latimojong
- 2Update Rute Macet Kota Semarang dan Solo 19 Oktober 2026: Piere Tendean Masih Ditutup! Ini Titik Macet dan Jalur Selamat Hari Ini
- 3Kebakaran Gunung Lawu Capai 140 Hektare, Bagana dan Relawan terus Berjibaku
- 4Lepas 845 Atlet ke Porprov Jateng 2026, Semarang Bidik 190 Emas demi Pertahankan Takhta Juara Umum
- 5Prediksi Madura United vs Persib: Balsa Sekulic Starter, Mitkov Kembali Jadi Ancaman
- 6Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Pupuk Indonesia Ungkap Transformasi Tata Kelola Pupuk yang Berpihak Pada Petani
- 77 Tipe Sandal Jepit ke Warung dan Kepribadiannya—Nomor 7 Bikin Ngakak
- 8Selasa Pagi Meeting Lagi? Ternyata Ini Alasan Kenapa Rasanya Lebih Lama dari Seharusnya
- 9Mahjong Rooftop Clash di Semarang, Louis Kienne Hotel Hadirkan Ruang Hangout dan Kolaborasi Komunitas
- 10Polda Jateng Sisir Tempat Hiburan Malam di Semarang, Operasi Narkoba Tak Temukan Pelanggaran





