Jateng

Prakiraan Cuaca 22 Oktober: 2026 Semarang Berawan, Solo Cerah, Tapi Dua-duanya Bikin Berkeringat

Theo Adi Pratama | 22 Oktober 2026, 04:04 WIB
Prakiraan Cuaca 22 Oktober: 2026 Semarang Berawan, Solo Cerah, Tapi Dua-duanya Bikin Berkeringat
Foto Ilustrasi - Cuaca Semarang dan Solo Hari Ini

JATENG.AKURAT.CO, Prakiraan cuaca Semarang dan Solo pada Kamis, 22 Oktober 2026 bukan cerita hujan deras yang romantis, melainkan kombinasi gerah yang bikin keringat menetes bahkan sebelum matahari benar-benar terik, dengan Semarang berpotensi hujan sore dan Solo tetap sumuk sepanjang hari.

Kalau kamu tinggal di Semarang atau Solo, Kamis ini mungkin jadi hari di mana kamu mempertanyakan apakah deodoran masih cukup, atau perlu membawa handuk kecil ke mana-mana.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lewat prakirawan Ranika menyebut Semarang diprakirakan berawan pada 22 Oktober 2026.

Tapi jangan buru-buru senang. “Berawan” di Semarang bukan berarti adem. Ini lebih ke langit yang ogah membuka diri, sementara panas dari bawah tetap dipompa ke segala arah.

Data BMKG untuk wilayah Semarang Barat menunjukkan suhu bergerak dari 25 derajat Celsius di pagi buta, lalu melonjak ke 37 derajat Celsius di siang bolong, sebelum akhirnya turun lagi ke 27–29 derajat Celsius menjelang malam.

Anginnya ringan, hanya sekitar 6–14 kilometer per jam, dan kelembapan bertahan di angka 60–70 persen. Kombinasi ini adalah resep klasik untuk tubuh yang terasa lengket seharian.

Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang bahkan mencatat ada 13 wilayah di Jawa Tengah yang diprediksi turun hujan pada Kamis ini, dan Semarang masuk dalam daftar tersebut. Hujan diprakirakan turun sekitar sore hingga malam.

Jadi, kalau pagi kamu berangkat dengan jaket tipis karena langit kelabu, sore nanti bisa jadi kamu pulang dengan sepatu basah dan rambut setengah kering.

Solo: panas yang tidak main-main

Solo punya cerita sendiri. Kota Bengawan ini tidak masuk daftar wilayah hujan pada Kamis.

Solo justru berada di kelompok “cerah berawan” bersama Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, dan Sragen. Artinya, matahari akan tetap menjadi bintang utama sepanjang hari.

Tapi ada catatan penting yang bikin Solo terasa lebih “istimewa” dari biasanya.

Ketua Tim Manajemen dan Operasional BMKG Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Giarto, menjelaskan bahwa Oktober memang bulan terpanas dalam setahun.

Ditambah El Nino yang membuat musim kemarau lebih panjang dan curah hujan lebih rendah, suhu di Solo dan sekitarnya bertahan di level yang bikin AC terasa seperti barang wajib, bukan lagi kemewahan.

“Secara umum, wilayah Indonesia saat ini terdampak fenomena El Nino. Dampaknya, musim kemarau menjadi lebih panjang dan curah hujan lebih sedikit dibandingkan normalnya,” ujar Giarto, seperti dikutip Joglosemar News, Rabu (14/10/2026).

Giarto juga menambahkan bahwa sedikitnya tutupan awan membuat radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi lebih tinggi.

“Ditambah kondisi yang lebih kering akibat El Nino, suhu udara menjadi lebih panas,” lanjutnya.

Prediksi internasional untuk Solo pada 22 Oktober 2026 pun senada. The Weather Guide mencatat suhu maksimum Solo bisa menyentuh 98 derajat Fahrenheit atau sekitar 36,7 derajat Celsius, dengan kondisi partly cloudy dan peluang hujan hanya 17 persen.

Angin bertiup cukup kencang, sekitar 34 kilometer per jam, tapi tetap tidak cukup untuk menghapus kesan sumuk.

Angka itu mirip dengan rekor suhu maksimum Semarang tahun ini yang mencapai 37,1 derajat Celsius pada pekan sebelumnya.

Giarto menyebut suhu di Solo tidak memiliki catatan historis sepanjang Semarang, tapi dampak El Nino dan posisi semu matahari dirasakan merata di Jawa Tengah.

Kenapa gerah ini penting untuk kamu ketahui

Bukan sekadar soal kenyamanan. Suhu ekstrem di Oktober, terutama di kota-kota dengan banyak aspal dan bangunan, bisa memicu dehidrasi, kelelahan panas, dan penurunan konsentrasi.

Giarto mengimbau masyarakat mengurangi kegiatan di luar ruangan saat paparan sinar matahari sedang tinggi.

“Kurangi kegiatan di luar, karena radiasi matahari cukup tinggi. Ini bisa melemahkan kondisi fisik kita,” ujarnya.

Bagi pengguna transportasi umum, pengendara motor, atau pekerja lapangan di Semarang dan Solo, Kamis ini adalah hari untuk membawa botol air lebih besar, memakai tabir surya, dan mungkin menunda nongkrong di luar ruangan sampai matahari benar-benar condong ke barat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.