Jateng

Dari Kaum Subuhan sampai Pembalap Dadakan: Lima Tipe Pengendara Motor di Jam 6 Pagi

Theo Adi Pratama | 22 Oktober 2026, 06:27 WIB
Dari Kaum Subuhan sampai Pembalap Dadakan: Lima Tipe Pengendara Motor di Jam 6 Pagi

JATENG.AKURAT.CO, Di jam 06.30 sampai 08.00, jalanan Indonesia berubah jadi panggung kecil yang mempertemukan lima spesies pengendara motor: dari yang berangkat subuh demi salat berjamaah sampai yang menyalip di bahu jalan seolah sedang kualifikasi MotoGP.

Pagi di Jakarta selalu punya cara sendiri untuk membangunkan orang. Bukan lewat alarm, tapi lewat suara klakson bertingkat dan lampu merah yang terasa lebih lama dari biasanya.

Pada 12 Oktober 2026, lebih dari 1.000 petugas Dinas Perhubungan Jakarta turun ke jalan lewat program Gebrak Pagi.

Mereka disebar di 90 titik kemacetan, mulai pukul 06.30 sampai 08.00 WIB. Tujuannya mulia: mengurai simpul lalu lintas di jam paling padat.

Hasilnya? Tak lama setelah petugas bubar, sejumlah ruas kembali semrawut.

Ada proyek galian, ada penyempitan lajur, dan yang paling sulit diatur: pengendara motor yang berbalik arah atau melawan arus demi mencari jalur pintas.

Di titik itulah watak manusia paling jujur muncul. Motor bukan cuma kendaraan. Ia adalah cermin cara seseorang menghadapi waktu, tekanan, dan rasa ingin menang sendiri.

Tipe pertama: kaum subuhan yang berangkat sebelum matahari

Ada kelompok yang tidak terburu-burru. Mereka justru berangkat saat jalanan masih gelap dan udara masih dingin.

Komunitas Bikers Subuhan di Bandarlampung adalah contohnya. Berawal dari 23 orang pada 23 Februari 2017, mereka berkendara bersama pada Sabtu dini hari untuk salat Subuh berjamaah.

Founder-nya, Sani Rinzani, mengaku komunitas ini lahir bukan dari niat dakwah yang megah.

“Awalnya tidak ada niatan dakwah. Karena sudah pada tua-tua, sudah kepala empat, tetapi banyak yang belum salat. Kami kemudian saling menelepon dan mencari cara supaya tidak bosan menjalankan ibadah,” ujar Sani, seperti dikutip RRI.

Setelah salat, mereka mengikuti kajian sekitar 70 menit, lalu sarapan dan ngopi bersama tanpa iuran. Motor bagi mereka bukan alat balap. Ia adalah kendaraan menuju ketenangan.

Tipe kedua: pekerja hitungan menit

Ini spesies yang paling banyak jumlahnya. Kurir, ojek daring, karyawan shift pagi, dan siapa pun yang penghasilannya bergantung pada kecepatan.

Mereka tidak selalu ngebut karena ingin. Mereka ngebut karena aplikasi mengejar, absensi menunggu, dan setoran harus lunas. Motor adalah alat produksi.

Setiap detik yang hilang di lampu merah terasa seperti potongan pendapatan.

Masalahnya, tekanan waktu tidak selalu berbanding lurus dengan keselamatan.

Studi Frontiers 2026 yang melibatkan pengendara motor di Jabodetabek menemukan bahwa distraksi meningkatkan kesalahan dan insiden, sementara persepsi risiko memengaruhi perilaku mengebut.

Pengendara muda tercatat lebih tinggi dalam hal kecepatan dan distraksi.

Tipe ketiga: pembalap dadakan

Ini yang paling mudah dikenali. Di jalan tol dalam kota, di arteri, atau bahkan di gang sempit, mereka selalu punya alasan untuk menyalip.

Penelitian Universitas Gadjah Mada yang terbit April 2026 menemukan fakta yang bikin geleng-geleng: 67,94 persen pengendara motor melampaui batas kecepatan 60 km/jam pada periode pagi. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding sore hari yang hanya 33,27 persen.

Studi yang sama mencatat sekitar 85 persen perpindahan lajur terjadi dalam radius 20 meter dari titik konflik. Artinya, keputusan menyalip diambil dalam jarak yang sangat pendek, dengan risiko tabrakan yang jauh lebih besar.

Ada penjelasan psikologis di baliknya. Riset terhadap 385 pengendara motor di Jakarta berusia 18–25 tahun menunjukkan bahwa frustrasi akibat macet meningkatkan stres berkendara.

Stres itulah yang kemudian mendorong perilaku agresif di jalan. Jadi, pembalap dadakan pagi ini mungkin bukan sedang balapan. Ia sedang meluapkan kemacetan yang sudah ia telan sejak bangun tidur.

Tipe keempat: zombie setengah tidur

Ini tipe yang paling sering luput dari perhatian karena tampilannya kalem. Tapi matanya kosong, dan reaksinya lambat.

Pada 13 Oktober 2026, seorang pengendara di bawah umur mengalami kecelakaan tunggal di Malinau, Kalimantan Utara, sekitar pukul 07.00 WITA.

Kasat Lantas Polres Malinau, IPTU Larwanda Agung Maulana, menduga korban kehilangan konsentrasi karena mengantuk setelah mengantar orang tuanya pagi-pagi.

“Karena bangun terburu-buru untuk mengantar kedua orang tua, akhirnya saat perjalanan pulang pengendara mengantuk, tidak fokus, dan kehilangan kendali kendaraan,” ujarnya.

Instruktur safety riding PT Astra Honda Motor, Hendrik Ferianto, punya obat sederhana untuk tipe ini. Bukan helm mahal, bukan jaket berlapis pelindung.

“Cukup berangkat lebih pagi. Karena ketika berangkat pagi, saya mau tanya, apakah perlu ngebut? Tidak. Perlu naik trotoar? Tidak. Perlu menerobos lampu merah? Tidak,” kata Hendrik, seperti dikutip Kompas.com.

Tipe kelima: tikus jalur pintas

Mereka hafal setiap celah yang tidak terlihat di peta. Trotoar, bahu jalan, putaran arah ilegal, sampai gang sempit yang ujungnya tembok.

Di Jakarta, Dishub bahkan harus menempatkan petugas khusus untuk mencegah pengendara motor berputar arah sembarangan di Jalan Abdul Muis.

Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishub Jakarta, Emanuel Kristanto, menyebut perilaku ini sebagai salah satu pemicu kemacetan di pertigaan yang sudah sesak oleh proyek galian.

“Mencegah pengemudi sepeda motor yang seharusnya putar di ujung, dekat Museum Taman Prasasti, tetapi sering kali justru putar di sini, di Jalan Abdul Muis,” ujar Emanuel.

Tipe ini bukan selalu jahat. Ia cuma tidak sabar. Tapi ketidaksabaran kolektif, kalau dilakukan seribu orang setiap pagi, hasilnya adalah kemacetan yang lebih panjang untuk semua orang.

Pagi adalah cermin

Data Korlantas Polri menunjukkan kecelakaan sepeda motor di Indonesia naik dari 97.270 kasus pada Semester I-2025 menjadi 120.975 kasus pada Semester I-2026. Roda dua menyumbang sekitar 75 persen dari total kecelakaan lalu lintas.

Di Pontianak, Satlantas Polresta mencatat 114 kecelakaan sepanjang Januari hingga 8 April 2026. Waktu kejadian paling sering? Pagi hari, antara pukul 06.00 dan 09.00 WIB, dengan 25 kejadian.

Pagi memang bukan sekadar soal jam. Ia adalah tekanan yang diubah menjadi perilaku. Ada yang memilih berangkat lebih awal dan menikmati perjalanan.

Ada yang memilih menyalip, melawan arus, dan berharap tidak ada yang melihat.

Motor yang sama. Jalan yang sama. Tapi wataknya berbeda-beda.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.