Jalan Diperbaiki, Warga Malah Menderita: Seragam Anak Kotor, Motor Rusak di Jalur Semarang–Kendal

JATENG.AKURAT.CO, Perbaikan jalan penghubung Semarang–Kendal yang melintasi Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, hingga Desa Darupono, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, menyisakan persoalan bagi masyarakat.
Di tengah harapan menikmati jalan yang lebih baik, warga justru harus berjibaku dengan debu tebal, medan terjal, hingga kendaraan bermotor yang mengalami kerusakan.
Penutupan akses utama selama pengerjaan memaksa masyarakat menggunakan jalur alternatif yang membelah kawasan hutan jati. Namun, jalur yang seharusnya menjadi solusi sementara itu justru menjadi sumber keluhan karena kondisinya berdebu, sulit dilalui, dan mengganggu aktivitas harian warga.
Ironisnya, dampak tersebut harus ditanggung masyarakat yang setiap hari bergantung pada akses jalan itu untuk bekerja, mengantar anak ke sekolah, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Warga RW 7 Perumahan Puri Delta Asri 9, Desa Darupono, menjadi salah satu kelompok yang merasakan langsung dampak penutupan jalan tersebut.
Ketua RW 7 Desa Darupono, Nurholis, menilai pelaksanaan proyek perbaikan jalan semestinya tidak hanya berorientasi pada hasil akhir pembangunan. Kebutuhan masyarakat selama proses pengerjaan juga perlu diperhatikan agar warga tidak terus-menerus menanggung dampak dari pekerjaan infrastruktur tersebut.
Menurutnya, sebagian besar warga di lingkungannya bekerja di Kota Semarang. Setiap pagi mereka berangkat dengan pakaian bersih dan penampilan rapi, tetapi harus melewati jalan alternatif yang dipenuhi debu sebelum tiba di tempat kerja.
“Warga kami mayoritas bekerja di Kota Semarang. Setiap pagi mereka berangkat dalam kondisi sudah mandi dan berpakaian bersih, tetapi ketika harus melewati jalan alternatif di tengah hutan jati, pakaian menjadi kotor dan berbau tanah karena debu yang sangat tebal,” ujar Nurholis, Kamis (22/10/2026).
Kondisi tersebut membuat perjalanan rutin yang seharusnya berlangsung normal berubah menjadi pengalaman yang merepotkan. Debu yang beterbangan tidak hanya mengotori pakaian, tetapi juga mengurangi kenyamanan pengguna jalan dan berpotensi mengganggu aktivitas mereka setelah tiba di tempat kerja.
Persoalan semakin berat karena jalur alternatif itu memiliki medan terjal. Pengguna sepeda motor harus lebih berhati-hati ketika melintas, terlebih jika harus menggunakan jalur tersebut berulang kali setiap hari.
Nurholis mengungkapkan, sejumlah kendaraan milik warga mengalami kerusakan setelah melewati jalur darurat tersebut. Kendaraan juga cepat kotor sehingga pemiliknya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mencuci dan melakukan perawatan.
“Banyak sepeda motor yang kotor, bahkan mengalami kerusakan karena kondisi jalannya sulit dilalui. Warga harus menghadapi situasi ini setiap hari, sehingga aktivitas mereka menjadi terganggu,” katanya.
Bagi Nurholis, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan jalan alternatif tidak cukup hanya dengan menyediakan akses untuk melintas. Jalur sementara juga harus mempertimbangkan keselamatan, kelayakan, dan kebutuhan masyarakat yang menggunakannya setiap hari.
Ia berharap pihak yang bertanggung jawab atas pekerjaan perbaikan jalan memberikan perhatian lebih terhadap kondisi jalur alternatif selama akses utama belum dapat digunakan. Dengan demikian, masyarakat tidak harus terus menanggung kerugian dan ketidaknyamanan selama proyek berlangsung.
Seragam Putih Anak Sekolah Berubah Kotor di Perjalanan
Keluhan serupa disampaikan Musyafa, salah satu warga Perumahan Puri Delta Asri 9. Dampak penutupan jalan tidak hanya dirasakan oleh para pekerja, tetapi juga keluarga yang setiap pagi harus mengantarkan anak ke sekolah.
Musyafa mengaku kesulitan ketika mengantar anaknya ke SD/MI Takhasus Darul Ulum di Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Jalur alternatif di tengah hutan jati yang dipenuhi debu membuat perjalanan menuju sekolah menjadi kurang nyaman.
Seragam putih yang dikenakan anaknya kerap terkena debu sebelum tiba di sekolah. Kondisi tersebut membuat pakaian yang seharusnya masih bersih saat memulai kegiatan belajar justru sudah terlihat kotor sejak perjalanan.
“Setiap pagi saya harus mengantarkan anak ke sekolah dan melewati jalan alternatif di tengah hutan jati. Debunya sangat mengganggu. Seragam putih anak saya yang seharusnya bersih saat sampai di sekolah justru menjadi kotor, sehingga anak juga merasa minder ketika bertemu teman-temannya,” ungkap Musyafa.
Bagi Musyafa, persoalan tersebut bukan sekadar masalah pakaian kotor. Ia menyayangkan anaknya harus menghadapi ketidaknyamanan bahkan sebelum kegiatan belajar dimulai. Kondisi itu juga memengaruhi rasa percaya diri anak ketika berinteraksi dengan teman-temannya di lingkungan sekolah.
Situasi tersebut menjadi ironi tersendiri. Ketika anak-anak seharusnya berangkat ke sekolah dengan nyaman dan penuh semangat, mereka justru harus melewati jalur berdebu yang membuat seragam putih kehilangan kebersihannya sebelum sampai di ruang kelas.
Dampak serupa juga dirasakan Musyafa ketika berangkat bekerja di Kota Semarang. Sebagai pekerja kantoran yang dituntut menjaga penampilan, ia mengaku kesulitan mempertahankan kerapian setelah melewati jalan alternatif setiap hari.
Kendaraan yang digunakan untuk menunjang aktivitasnya turut terkena dampak. Selain menjadi kotor, sejumlah bagian kendaraan mengalami kerusakan akibat kondisi jalan yang sulit dilalui.
Akibatnya, warga harus menghadapi beban tambahan berupa biaya perawatan kendaraan, waktu perjalanan yang kurang nyaman, serta terganggunya rutinitas pekerjaan dan pendidikan keluarga.
Akses Vital Warga Perbatasan, Bukan Sekadar Jalan Biasa
Jalan penghubung Semarang–Kendal memiliki peran penting bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan kedua daerah. Akses tersebut menjadi jalur mobilitas warga untuk bekerja, mengantar anak ke sekolah, menjalankan kegiatan ekonomi, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, penutupan jalan utama tanpa dukungan jalur alternatif yang layak dapat menimbulkan persoalan berantai. Dampaknya tidak berhenti pada perjalanan yang terganggu, tetapi juga merembet pada pengeluaran rumah tangga, kenyamanan keluarga, hingga aktivitas pendidikan anak.
Warga memahami bahwa perbaikan infrastruktur diperlukan untuk meningkatkan kualitas jalan. Namun, kebutuhan akan pembangunan tersebut semestinya berjalan seiring dengan upaya meminimalkan dampak terhadap masyarakat selama pengerjaan berlangsung.
Jalur alternatif yang berdebu dan terjal menjadi persoalan yang perlu segera mendapat perhatian. Warga berharap ada langkah konkret untuk memperbaiki kondisi akses sementara, sehingga perjalanan menuju tempat kerja maupun sekolah tidak terus diwarnai debu dan risiko kerusakan kendaraan.
Mereka juga berharap proyek perbaikan jalan penghubung Semarang–Kendal dapat diselesaikan sesuai rencana agar akses utama kembali berfungsi normal. Kepastian penyelesaian pekerjaan menjadi penting bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada jalan tersebut.
Bagi warga, pembangunan infrastruktur seharusnya menghadirkan kemudahan, bukan justru menambah beban kehidupan sehari-hari. Jalan yang lebih baik memang menjadi harapan, tetapi selama proses pengerjaan berlangsung, keselamatan dan kenyamanan masyarakat tetap menjadi kebutuhan yang tidak boleh diabaikan.
Jangan sampai harapan memiliki jalan yang layak justru harus dibayar dengan seragam anak yang kotor, pakaian pekerja yang dipenuhi debu, serta kendaraan yang rusak. Sebab, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari selesainya proyek, tetapi juga dari sejauh mana kebutuhan masyarakat tetap terlindungi selama prosesnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Jalan Diperbaiki, Warga Malah Menderita: Seragam Anak Kotor, Motor Rusak di Jalur Semarang–Kendal
- 2Prediksi Skor Madura United vs Persib: Ketajaman Dimitar Mitkov Jadi Ancaman, Ini yang Diwaspadai Igor Tolic
- 3Rute Macet Semarang-Solo, 22 Oktober 2026: Mana yang Harus Dihindari, Mana yang Harus Diambil
- 4Prediksi Madura United vs Persib: Balsa Sekulic Starter, Mitkov Kembali Jadi Ancaman
- 5Pentingnya Ketajaman Intuisi untuk Menghadapi Dinamika Kehidupan
- 6Kebakaran Gunung Lawu Capai 140 Hektare, Bagana dan Relawan terus Berjibaku
- 7Polda Jateng Bongkar Jaringan Togel di Demak, Grobogan, dan Semarang, Saldo Rekening Rp2,46 Miliar Diblokir
- 8Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Pupuk Indonesia Ungkap Transformasi Tata Kelola Pupuk yang Berpihak Pada Petani
- 9iPhone 18 Pro dan Pro Max Resmi Tersedia, Telkomsel Tawarkan Bundling Halo dan SIMPATI hingga Diskon Rp1 Juta
- 10Lepas 845 Atlet ke Porprov Jateng 2026, Semarang Bidik 190 Emas demi Pertahankan Takhta Juara Umum





