Jateng

Sejarah Kisah Perjalanan T.B. Simatupang: Jenderal Muda yang Berani Berdebat dan Berkritik

Theo Adi Pratama | 9 Januari 2024, 12:00 WIB
Sejarah Kisah Perjalanan T.B. Simatupang: Jenderal Muda yang Berani Berdebat dan Berkritik

AKURAT.CO Sejarah, Tahi Bonar Simatupang, atau yang akrab dipanggil Sim, mencatat sejarahnya sebagai seorang jenderal muda yang berhasil meraih posisi tinggi dalam hierarki militer Indonesia.

Dilahirkan dengan suku Batak yang terkenal suka bicara ceplas-ceplos, Simatupang tidak ragu untuk berdebat dan memberikan kritik, bahkan kepada tokoh sebesar Presiden Sukarno.

Pada usia 30 tahun, Simatupang telah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP).

Dalam rentang Perang Kemerdekaan, dia telah membuktikan dirinya sebagai perwira intelektual yang brilian.

Baca Juga: Perkembangan Gereja Gereformeerd Semarang: Pesona Arsitektur dan Jejak Sejarah di Pusat Kota

Menjadi satu-satunya perwira TNI yang terlibat dalam perundingan dengan Belanda sejak 1946 hingga pengakuan kedaulatan, Simatupang membuktikan kemampuannya dalam diplomasi.

Namun, kepribadiannya yang tegas dan kritis membuatnya tak sungkan untuk berdebat dengan siapa pun, termasuk Presiden Sukarno.

Simatupang pernah menyarankan agar Presiden tidak lagi mengenakan seragam militer setelah Perang Kemerdekaan, dengan tujuan mengurangi kesan militeristik bagi negara yang baru berdiri.

Meskipun maksudnya baik, saran ini memicu konflik dengan Bung Karno.

Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan Gedung Marabunta: Peninggalan Gedung Bersejarah dengan Sentuhan Unik di Kota Lama Semarang

"Bung Karno marah waktu itu kepada saya, dia bilang saya larang dia pakai uniform. Bukan itu yang saya maksud tapi supaya ada tradisi di sini bahwa bukan uniform yang paling tinggi," ujar Sim, menenangkan suasana.

Pertikaian antara Simatupang dan Sukarno semakin memuncak setelah insiden Kolonel Bambang Soepeno yang menggalang tanda tangan petisi untuk memberhentikan KSAD Kolonel Abdul Haris Nasution.

Simatupang mempersoalkan tindakan tersebut karena diduga dilakukan atas seizin presiden.

Akibatnya, Simatupang dicopot dari jabatannya sebagai KSAP, dan jabatan itu dihapuskan untuk seterusnya.

Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan Kantor Pos Besar Semarang: Jejak Gedung Bersejarah di Kota Lama

Sikap kritis Simatupang sudah terlihat sejak remaja.

Di sekolah SMA Kristen Salemba, dia bahkan berani berdebat dengan gurunya sendiri, Meneer Hantjes, yang sering merendahkan bangsa Indonesia.

Meskipun masih muda, Simatupang memperjuangkan keyakinannya bahwa penduduk pribumi Hindia Belanda mampu bersatu untuk mencapai kemerdekaan.

Keberanian Simatupang dalam menghadapi ketidakadilan dan ketidaksetujuan membawanya ke puncak karier militer, meski tidak tanpa kontroversi.

Baca Juga: Perjalanan dan Perkembangan Masjid Layur Semarang: Memelihara Peninggalan Sejarah dan Kearifan Lokal

Meskipun demikian, pada akhir hidupnya, Simatupang menyadari bahwa sikap kerasnya mungkin telah merugikan dirinya sendiri.

"Pada waktu itu nasihat itu saya anggap nasihat orang yang berjiwa kolonial. Tetapi mungkin saya tidak akan mengalami begitu banyak kesulitan dalam hidup saya selanjutnya andaikata saya menerima nasihat Meneer de Haan itu secara lebih sungguh-sungguh," akhir Simatupang dengan refleksi yang tulus.

T.B. Simatupang, dengan segala kontroversinya, tetap menjadi figur yang menginspirasi, mewariskan jejak kritis dan kepemimpinan yang berani kepada generasi penerusnya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.