Jateng

Perjalanan dan Perkembangan Masjid Layur Semarang: Memelihara Peninggalan Sejarah dan Kearifan Lokal

Theo Adi Pratama | 7 Januari 2024, 16:00 WIB
Perjalanan dan Perkembangan Masjid Layur Semarang: Memelihara Peninggalan Sejarah dan Kearifan Lokal

AKURAT.CO Sejarah, Masjid Layur, sebuah peninggalan sejarah abad ke-18, masih megah berdiri dan menjadi saksi perkembangan Islam di Kota Semarang.

Terletak di Kampung Layur, Kelurahan Dadapsari, Kota Semarang, masjid ini bukan hanya sebuah tempat ibadah, tetapi juga simbol keberagaman budaya yang kental dengan jejak sejarah masa lalu.

Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan Pabrik Rokok Praoe Lajar: Keindahan Gedung Pabrik Bersejarah di Kota Lama Semarang

Sejarah yang Dihormati

Masjid Layur menjadi bagian integral dari Kampung Layur yang merupakan bagian dari Kampung Melayu.

Dibangun pada tahun 1802, masjid ini menyaksikan kedatangan penduduk asli Timur Tengah yang membawa serta budaya dan perdagangan.

Lokasinya di jalur perdagangan pada masa itu menjadikan masjid ini sebagai tempat signifikan bagi perkembangan komunitas Muslim di Semarang.

Keunikan Arsitektur

Dengan lahan seluas 270 meter persegi dan luas bangunan 108 meter persegi, Masjid Layur memukau dengan arsitektur yang memadukan gaya Jawa, Melayu, dan Arab.

Warna hijau yang kental melambangkan kedamaian dan keberagaman budaya.

Menara putih berdenah lingkaran menjadi daya tarik tersendiri, dulunya berfungsi sebagai mercusuar untuk mengawasi aktivitas kapal dagang di kali Semarang.

Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan Pasar Johar Semarang: Cagar Budaya yang Kembali Bersinar Setelah Revitalisasi

Bangunan Bersejarah

Dikelilingi oleh tembok khas Timur Tengah, bangunan utama masjid memancarkan keanggunan arsitektur Jawa beratap susun tiga.

Keaslian bangunan terjaga, terlihat dari empat tiang penyangga yang tetap original sejak pembangunan pertama.

Meskipun mengalami beberapa perbaikan dan penggantian atap karena fenomena penurunan tanah, keberadaan Masjid Layur tetap kokoh dan memikat mata.

Tradisi Unik dan Kepercayaan Lokal

Masjid Layur memiliki keunikan dalam tradisi berbuka puasa.

Berbeda dari tempat lain, masyarakat setempat menikmati kopi Arab dengan campuran rempah-rempah seperti jahe, kapulaga, serai, cengkeh, pandan, kayu manis, dan daun jeruk.

Tradisi ini memberikan nuansa berbeda yang disukai oleh jama’ah setempat.

Baca Juga: Eksplorasi Sejarah Het Groote Huis (Gedung Papak): Bangunan Bersejarah di Kota Lama Semarang

Menjaga Kearifan Lokal

Masjid Layur tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol keragaman budaya dan keberagaman tradisi.

Kepercayaan bahwa perempuan tidak sholat di dalam masjid, meskipun telah disediakan tempat khusus, mencerminkan keberlanjutan kearifan lokal.

Sebagai peninggalan sejarah, masjid ini mengajarkan kita untuk tetap melestarikan dan menghormati warisan nenek moyang.

Peninggalan Berharga

Sebagai anak bangsa, menjaga dan merawat peninggalan sejarah seperti Masjid Layur adalah tanggung jawab kita.

Hal ini tidak hanya untuk memastikan kelangsungan nilai-nilai sejarah, tetapi juga agar generasi penerus dapat menghargai keberagaman dan keunikan bangunan di sekitarnya.

Marilah kita bersama-sama merawat warisan berharga ini agar tetap bersinar dalam sejarah dan budaya Kota Semarang.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.