Jateng

Ijazah Asli Pak Jokowi Dikeluarkan di Ruang Sidang, Pengunjung Tepuk Tangan, Roy Suryo Malah Tertawa

Theo Adi Pratama | 5 November 2026, 15:27 WIB
Ijazah Asli Pak Jokowi Dikeluarkan di Ruang Sidang, Pengunjung Tepuk Tangan, Roy Suryo Malah Tertawa
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), menunjukkan ijazah S1 miliknya dalam sidang perkara dugaan pencemaran nama baik dengan terdakwa Roy Suryo dan Dokter Tifa di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (5/11/2026). - Akurat.co/Endra Prakoso

JATENG.AKURAT.CO, Ijazah asli Pak Jokowi akhirnya dikeluarkan langsung di ruang sidang PN Jakarta Timur pada Kamis, 5 November 2026, dan suasana yang tadinya panas mendadak adem ayem—setidaknya di mata pengunjung yang bertepuk tangan, meski kubu sebelah masih sempat tertawa dan meneriakkan “palsu”.

Bayangkan sebuah ruang sidang yang sudah penuh sesak sejak pagi. Pengacara siap dengan berkas, publik siap dengan komentar, dan wartawan siap dengan kamera.

Semua menunggu satu momen: apakah dokumen yang selama ini diperdebatkan benar-benar akan muncul secara fisik? Lalu Jokowi berdiri, berjalan menuju meja hakim, dan dengan tangan kanannya mengeluarkan setumpuk ijazah—SD, SMP, SMA, hingga S1 Kehutanan UGM .

Ia bukan cuma menunjukkan ke hakim. Ia meminta izin untuk memperlihatkan kepada seluruh pengunjung.

“Kalau diperkenankan, saya mau menunjukkan kepada pengunjung juga Yang Mulia. Karena saya sudah berjanji untuk menunjukkan ijazah dari SD, SMP, SMA, dan ijazah S1 saya,” kata Jokowi.

Hakim mengabulkan. Jokowi berbalik badan, mengangkat dokumen itu ke arah kerumunan, dan ruangan pun riuh . Sebagian pengunjung bertepuk tangan .

“Saya Merasa Dihina dan Direndahkan”

Di balik suasana yang sempat riuh itu, ada luka yang tidak terlihat di kamera. Jokowi mengatakan bahwa tuduhan ijazah palsu telah membawa dampak terhadap nama baik dan reputasinya.

“Saya merasa dihina serta direndahkan akibat tudingan bahwa dirinya menggunakan ijazah palsu untuk mengikuti kontestasi politik,” ujarnya .

Ia juga menyebut bahwa kehadirannya bukan sekadar untuk memberikan keterangan. Ada harapan agar polemik ini tidak terulang.

“Supaya kita tidak mengulangi lagi tragedi ini. Tragedi besar bagi Indonesia yang pernah memiliki pemimpin dengan ijazah yang diragukan atau dengan kata lain palsu,” kata Jokowi .

Kalimat itu bukan retorika kosong. Ia adalah ringkasan dari bertahun-tahun spekulasi yang tidak pernah benar-benar berhenti, bahkan setelah Jokowi tidak lagi menjabat.

Kubu Sebelah: Tertawa, Meneriakkan “Palsu”, dan Siapkan 500 Pertanyaan

Ruang sidang mungkin sempat adem bagi sebagian orang. Tapi tidak untuk semua. Roy Suryo, terdakwa dalam kasus ini, tertawa saat Jokowi menunjukkan ijazahnya.

Ia mengaku melihat perbedaan antara dokumen yang diperlihatkan di persidangan dan ijazah bertanggal 15 Desember yang pernah ia pegang. Kuasa hukumnya bahkan meneriakkan kata “palsu” saat momen itu terjadi .

Kubu Roy Suryo juga menyiapkan lebih dari 500 pertanyaan untuk Jokowi. Artinya, meskipun ijazah asli sudah dikeluarkan, perdebatan hukum belum selesai. Persidangan masih berlanjut .

Di sinilah ironinya. Ijazah asli mungkin sudah ada di ruang sidang, tapi narasi “palsu” akan tetap hidup di grup WhatsApp dan kolom komentar, karena tidak semua orang membaca berita sampai halaman kedua.

Tabel: Kronologi Singkat Sidang Ijazah Jokowi

Waktu

Peristiwa

Kamis, 5 November 2026, sekitar 09.13 WIB

Jokowi memasuki ruang sidang PN Jakarta Timur untuk bersaksi dalam perkara dugaan pencemaran nama baik dengan terdakwa Roy Suryo

Sekitar 10.39 WIB

Jokowi berdiri, berjalan ke meja hakim, dan menunjukkan ijazah SD, SMP, SMA, dan S1 UGM

Setelah izin hakim

Jokowi berbalik badan dan memperlihatkan ijazah ke pengunjung sidang dan awak media

Reaksi

Sebagian pengunjung bertepuk tangan; kubu Roy Suryo tertawa dan meneriakkan “palsu”

Status

Persidangan masih berlanjut; kubu Roy Suryo menyiapkan 500+ pertanyaan

Kenapa Ijazah Bisa Bikin Ruangan “Adem Ayem”?

Karena ijazah adalah simbol. Ia bukan cuma selembar kertas. Ia adalah bukti bahwa seseorang pernah menyelesaikan pendidikan formal.

Dalam masyarakat kita, ijazah masih dianggap sebagai penanda kredibilitas.

Ketika ijazah asli dikeluarkan, yang dipertaruhkan bukan cuma status pendidikan, tapi juga kepercayaan publik terhadap seseorang yang pernah memimpin negara.

Tapi “adem ayem” di ruang sidang bukan berarti selesai. Ia hanya berarti satu bab selesai.

Setelah ijazah dikeluarkan, pertanyaannya berubah: bukan lagi “asli atau tidak”, tapi “lalu apa?” Apakah ada pihak yang akan meminta maaf? Apakah ada yang akan berhenti menyebarkan tuduhan? Ataukah setelah ruangan adem, linimasa kembali panas dengan topik baru?

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.