Jateng

Kisah Empat Kera dari Gua Kreo Bawa Najwa Afifah Jadi Juara Mendongeng Nasional

Muhammad Husni Mushonifi | 5 November 2026, 15:08 WIB
Kisah Empat Kera dari Gua Kreo Bawa Najwa Afifah Jadi Juara Mendongeng Nasional

JATENG.AKURAT.CO, Cerita rakyat yang berasal dari Kota Semarang menjadi inspirasi bagi Najwa Afifah untuk menorehkan prestasi di tingkat nasional. Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang tersebut berhasil menyabet Juara I Lomba Mendongeng dalam ajang Semarak PAUD 2026.

Kompetisi yang berlangsung pada 20–24 Oktober 2026 itu digelar oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (HMP PGPAUD), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Semarang.

Dalam kompetisi tersebut, Najwa mengangkat legenda Gua Kreo melalui dongeng bertajuk “Rahasia Empat Kera Hebat dari Gua Kreo”. Karya tersebut menyuguhkan cerita tradisional dengan pendekatan kreatif yang sarat pesan kebersamaan, pendidikan karakter, serta kepedulian terhadap kelestarian alam.

Prestasi membanggakan itu diraih melalui pendampingan Nur Khotimah, M.Pd., dosen pengampu mata kuliah Seni Berkisah di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang.

Capaian Najwa sekaligus memperlihatkan bahwa materi perkuliahan dapat dikembangkan menjadi karya inovatif yang tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan anak usia dini.

Legenda Lokal Jadi Media Pembelajaran Anak

Menghadapi perkembangan hiburan digital yang semakin beragam, metode mendongeng masih memiliki tempat penting dalam proses pendidikan anak. Melalui cerita yang disampaikan dengan intonasi, ekspresi, gerakan, dan komunikasi interaktif, anak-anak dapat belajar sekaligus mengembangkan daya imajinasi.

Pendekatan itulah yang ditampilkan Najwa dalam kompetisi Semarak PAUD 2026. Ia memilih legenda Gua Kreo sebagai materi utama untuk memperkenalkan kekayaan cerita rakyat daerah melalui metode pembelajaran yang dekat dengan dunia anak.

Dalam dongeng tersebut, Najwa mengisahkan perjalanan Sunan Kalijaga yang bertemu dengan empat kera dengan kepribadian berbeda. Keempat tokoh itu memiliki kelebihan masing-masing, mulai dari keberanian, kecerdasan, kekuatan, hingga kebaikan hati.

Permasalahan muncul ketika mereka menghadapi kesulitan memindahkan sebatang kayu jati yang besar dan berat. Meskipun memiliki kemampuan berbeda, upaya yang dilakukan secara sendiri-sendiri tidak berhasil menyelesaikan persoalan.

Situasi berubah ketika keempat kera mulai mengesampingkan ego, saling mendengarkan, dan menggabungkan kemampuan mereka. Melalui kerja sama, persoalan yang sebelumnya sulit akhirnya dapat diselesaikan.

Kisah tersebut membawa pesan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk mencapai tujuan bersama. Sebaliknya, setiap individu dapat saling melengkapi apabila mampu menghargai kelebihan orang lain dan mengutamakan kebersamaan.

Pemanfaatan legenda Gua Kreo juga memiliki arti penting dalam memperkenalkan kekayaan budaya Semarang kepada anak-anak. Cerita yang tumbuh di tengah masyarakat dapat menjadi sarana untuk mengenalkan identitas daerah sekaligus menanamkan nilai-nilai sosial sejak dini.

Dengan cara tersebut, dongeng tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi jembatan untuk mewariskan cerita dan kearifan lokal kepada generasi berikutnya.

Menggabungkan Teknik Bercerita dan Nilai Pendidikan

Keunggulan dongeng yang dibawakan Najwa terletak pada kemampuannya mengemas cerita melalui perpaduan dialog, narasi, humor, ekspresi, serta keterlibatan pendengar.

Dengan durasi penyampaian sekitar enam menit, cerita disusun secara sistematis mulai dari pengenalan karakter, munculnya persoalan, upaya menghadapi konflik, hingga penarikan pesan moral.

Keempat karakter kera dibuat memiliki ciri khas masing-masing. Kera Merah merepresentasikan keberanian, Kera Putih menggambarkan kecerdasan, Kera Kuning menjadi sumber humor, sedangkan Kera Hitam melambangkan kekuatan dan kepedulian terhadap sesama.

Karakterisasi tersebut memungkinkan pendongeng memainkan beragam teknik, seperti perubahan intonasi, variasi suara, mimik wajah, dan gerakan tubuh untuk menghidupkan suasana cerita.

Tidak hanya menyampaikan cerita secara verbal, Najwa juga merancang keterlibatan langsung anak-anak melalui ajakan memberikan dukungan kepada para tokoh.

Ketika empat kera berusaha mengangkat kayu jati, pendengar diajak meneriakkan kata “dorong” secara bersama-sama. Interaksi ini memberikan kesempatan kepada anak untuk ikut mengambil bagian dalam jalannya cerita.

Metode tersebut menjadikan kegiatan mendongeng lebih komunikatif karena anak tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga diajak memberikan respons dan membangun imajinasi terhadap peristiwa yang diceritakan.

Pesan mengenai pelestarian lingkungan turut menjadi bagian dari materi dongeng. Melalui tokoh Sunan Kalijaga, anak-anak diajak memahami pentingnya menjaga kawasan hutan, merawat pepohonan, dan melindungi kehidupan makhluk lainnya.

Kombinasi berbagai pesan tersebut menunjukkan bahwa mendongeng dapat dimanfaatkan sebagai pendekatan pembelajaran yang mencakup pengembangan bahasa, kemampuan sosial-emosional, pembentukan karakter, serta pengenalan lingkungan dan kebudayaan.

Dosen pembimbing Najwa, Nur Khotimah, M.Pd., menjelaskan bahwa seni berkisah merupakan salah satu kemampuan yang perlu dikuasai mahasiswa calon pendidik anak usia dini.

Menurutnya, keterampilan mendongeng tidak sebatas menyampaikan cerita agar menarik perhatian pendengar. Lebih dari itu, kemampuan tersebut berkaitan dengan cara seorang pendidik membangun pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

“Seni berkisah bukan hanya tentang kemampuan menyampaikan cerita secara menarik, melainkan juga tentang bagaimana seorang calon pendidik mampu menghadirkan pengalaman belajar yang mendalam. Melalui dongeng, mahasiswa belajar memadukan komunikasi, kreativitas, imajinasi, pendidikan karakter, dan nilai budaya lokal. Prestasi Najwa menjadi contoh bagaimana kompetensi yang dikembangkan melalui pembelajaran dapat diterapkan dalam ruang kompetisi sekaligus memiliki relevansi bagi praktik pendidikan anak usia dini,” tutur Nur Khotimah.

Ia menilai penguasaan seni berkisah menjadi bekal penting bagi calon pendidik untuk menciptakan suasana belajar yang menarik. Mahasiswa juga perlu memahami karakteristik anak, menentukan materi yang tepat, serta membangun komunikasi yang mampu mendorong keterlibatan peserta didik.

UIN Walisongo Dorong Mahasiswa Hasilkan Karya Inovatif

Keberhasilan Najwa dalam kompetisi mendongeng nasional menjadi salah satu gambaran hasil pengembangan kompetensi mahasiswa melalui proses pembelajaran dan pembinaan di lingkungan kampus.

Prestasi tersebut juga memperlihatkan bahwa kreativitas mahasiswa dapat menghasilkan karya yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung pengembangan metode pendidikan anak usia dini.

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Abdur Rohman, M.Ag., menyambut positif capaian tersebut. Ia memandang prestasi mahasiswa sebagai bagian dari upaya mencetak calon pendidik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kreativitas dan kepedulian sosial.

“Prestasi mahasiswa merupakan bagian penting dari proses pengembangan kualitas calon pendidik yang memiliki kompetensi akademik, kreativitas, dan tanggung jawab sosial. Kemampuan mengolah cerita rakyat menjadi media pendidikan menunjukkan bahwa mahasiswa dapat menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dengan kebutuhan pembelajaran di masyarakat. Kami mendorong mahasiswa untuk terus menghasilkan karya yang memberikan manfaat nyata bagi pendidikan sekaligus berkontribusi dalam menjaga kekayaan budaya bangsa,” ungkap Prof. Dr. Abdur Rohman, M.Ag.

Menurutnya, kemampuan mengembangkan cerita rakyat menjadi materi pembelajaran merupakan bentuk penerapan pengetahuan akademik yang memiliki nilai praktis bagi dunia pendidikan.

Ke depan, pengembangan seni berkisah dapat diperluas melalui pemanfaatan cerita tradisional dari berbagai daerah. Materi tersebut dapat diolah menjadi bahan ajar, pertunjukan edukatif, media audiovisual, maupun kegiatan literasi yang melibatkan mahasiswa dan lembaga pendidikan anak usia dini.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan juga berpeluang menghasilkan media pembelajaran yang lebih kreatif serta sesuai dengan kebutuhan anak di lapangan.

Di sisi lain, pemanfaatan cerita rakyat dalam kegiatan pendidikan menjadi salah satu cara untuk mempertahankan tradisi lisan agar tetap dikenal oleh generasi muda di tengah perkembangan teknologi.

Prestasi Najwa Afifah membuktikan bahwa kekayaan budaya lokal memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi inovasi pendidikan. Melalui kreativitas dan kemampuan mengemas cerita, legenda yang diwariskan secara turun-temurun dapat terus hidup sekaligus menjadi sarana menanamkan nilai kehidupan kepada anak-anak.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.