Jateng

Perkembangan Gereja Gereformeerd Semarang: Pesona Arsitektur dan Jejak Sejarah di Pusat Kota

Theo Adi Pratama | 8 Januari 2024, 14:00 WIB
Perkembangan Gereja Gereformeerd Semarang: Pesona Arsitektur dan Jejak Sejarah di Pusat Kota

AKURAT.CO Sejarah, Kota Semarang, sebagai kota pesisir dengan sejarah panjang, menjadi saksi bisu kehadiran kolonial Belanda yang meninggalkan jejak bersejarah.

Dulu dikenal sebagai "the port of Java," pelabuhan Kota Semarang menjadi tempat berlabuhnya orang Belanda dan keturunan Eropa dengan berbagai tujuan, mulai dari ekspansi wilayah hingga penyebaran agama.

Banyak bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang masih tegak megah di Kota Semarang, menyimpan cerita masa lalu yang kaya.

Selain sebagai pusat perdagangan, kedatangan warga Belanda juga membawa misi penyebaran agama Kristen, yang tercermin dalam berdirinya beberapa gereja, seperti Gereja Blenduk, Gereja Katolik St. Yusuf, dan Gereja Gereformeerd.

Baca Juga: Misteri dan Sejarah Panggung Sangga Buwana di Keraton Kasunanan Surakarta

Gereja Gereformeerd: Keindahan di Tengah Kota

Berada di Jl Dr. Sutomo No.24 Randusari, Gereja Gereformeerd menarik perhatian dengan keberadaannya yang teduh di tengah hiruk-pikuk perkotaan.

Terletak di bukit kecil yang dikelilingi pepohonan pinus yang rindang, gereja ini memberikan nuansa tenang seperti di pedesaan.

Meskipun di pusat kota, Gereja Gereformeerd menjadi oase damai yang dikelilingi oleh alam.

Gereja ini, yang dikenal luas dan megah, mampu menampung lebih dari 400 jamaat, menjadikannya lebih besar daripada Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang yang hanya mampu menampung 300 jamaat.

Dibangun di atas tanah seluas 5.000 meter persegi, gereja ini memiliki peran penting tidak hanya sebagai tempat peribadatan warga Belanda dan Eropa, tetapi juga sebagai pusat penyebaran agama Kristen di Kota Semarang.

Baca Juga: Perkembangan Gereja Kepanjen Surabaya: Perjalanan Sejarah dan Keindahan Arsitektur Sebuah Bangunan Ibadah

Jejak Sejarah dan Keunikan Arsitektur

Gereja Gereformeerd, secara de facto, dibangun pada tahun 1918 dan diakui secara sah administratif oleh pemerintah Hindia Belanda pada 18 Maret 1928.

Bangunan ini menjadi saksi peristiwa sejarah saat pendudukan Jepang selama Perang Dunia II, di mana aktifitas gereja sempat terhenti.

Setelah perang berakhir pada tahun 1946, gereja kembali aktif dengan pimpinan pendeta utusan seperti Ds Van Eyk, Ds Vlijm, dan Ds Eoosjen hingga pertengahan tahun 1961.

Gereja Gereformeerd tetap mempertahankan keaslian bangunan dan interior yang telah berusia ratusan tahun.

Bangunan gereja ini terbuat dari batu, dengan minim penggunaan kolom besar, menciptakan ruang yang terlihat lebih luas.

Atap bangunan yang berbentuk segitiga transformasi pelana yang saling bersilangan memberikan sentuhan arsitektur khas.

Meskipun usianya telah mencapai ratusan tahun, Gereja Gereformeerd masih kokoh berdiri dan menjadi saksi bisu sejarah Kota Semarang.

Baca Juga: Perjalanan Gedung De Javasche Bank Surabaya: Jejak Sejarah Perbankan yang Hadir di Indonesia

Saksi Bisu Jejak Sejarah

Gereja Gereformeerd tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah Kota Semarang.

Dengan struktur bangunan yang unik, interior yang memukau, dan suasana damai yang diciptakan oleh pepohonan pinus yang rindang, gereja ini mengajak kita merenung dan menghargai nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.