Ngeteh Sore di Semarang Atas: 6 Kafe Vintage yang Bikin Senja Terasa Lebih Tenang

JATENG.AKURAT.CO, Semarang Atas lagi jadi primadona buat ngeteh sore sambil berburu senja, dan deretan kafe vintage di perbukitan ini bukan cuma soal pemandangan—ada cerita panjang di baliknya.
Sore di Semarang Atas punya magisnya sendiri. Udara mulai sejuk, kabut tipis kadang turun dari perbukitan, dan langit perlahan berubah warna dari biru ke jingga.
Di momen seperti ini, ngeteh atau ngopi di kafe vintage jadi ritual paling masuk akal—bukan cuma buat mengisi perut, tapi buat menenangkan kepala yang penuh deadline.
Kawasan Semarang Atas, yang meliputi Gombel, Gajahmungkur, Candisari, hingga Ngaliyan, memang punya konsentrasi kafe vintage yang bikin kamu susah memilih.
Beberapa di antaranya bahkan menempati bangunan bersejarah dengan koleksi barang antik yang bikin suasana terasa seperti pulang ke rumah nenek.
1. Anantari Coffee (Jangli): Joglo Warisan Keluarga dengan Rooftop Senja
Vibe: Joglo asli dengan gebyok kayu lawas, dinding bata ekspos, dan anyaman rotan yang dipadukan furnitur minimalis. Rooftop-nya jadi spot paling epic buat lihat sunset sampai city light malam hari.
Lokasi: Jl. Jangli Gabeng, Tembalang (masuk via Graha Candi Golf lebih mudah).
Menu: Rosa de Magic, Kopi Susu Anantarian, Red Velvet Latte.
Harga: Mulai Rp25.000-an.
Jam Buka: 11.00 – 23.00 WIB.
Yang bikin Anantari spesial bukan cuma view-nya. Bangunan utamanya pakai Joglo asli koleksi keluarga sejak 2009—sebuah warisan yang dirawat dengan serius oleh pemiliknya, Okky Rahmat Prasetyo, sejak kafe ini dibuka Agustus 2021.
Duduk di area Joglo Heritage sambil menyeruput teh, rasanya seperti melipir ke masa lalu tanpa harus meninggalkan kenyamanan modern.
2. Koenokoeni Cafe Gallery (Candisari): Galeri Sepeda Antik dan Nuansa "Rumah Nenek"
Vibe: Konsep galeri dengan koleksi motor klasik, vespa, radio jadul, dan kamera lawas. Bentuk bangunannya Joglo dengan interior barang-barang antik yang memberikan kesan "rumah nenek" yang mewah.
Lokasi: Jl. Tabanan No.4, Tegalsari, Kecamatan Candisari.
Menu: Beragam kopi dan camilan dengan pemandangan kota Semarang.
Harga: Terjangkau.
Koenokoeni bukan sekadar kafe—ini museum kecil-kecilan yang bisa kamu nikmati sambil duduk. Interior vintage-nya bikin kafe ini jadi favorit pecinta fotografi dan pencari inspirasi.
Sore hari, pemandangan kota dari ketinggian Candisari jadi latar yang sempurna buat ngeteh sambil melamun.
3. Kafe Gethe (Sekayu): Rumah Sastrawan NH Dini yang Jadi Tempat Nongkrong Penuh Sejarah
Vibe: Rumah Jawa tempo dulu dengan nuansa era 70-an yang kental. Dekorasi interior penuh elemen klasik, poster lawas, dan perabot vintage.
Lokasi: Jl. Sekayu Masjid No.341, Sekayu, Semarang Tengah.
Menu: Es puter, pangsit, kopi susu kramatdjati, wedang berbagai rasa, mi kuah, kwetiaw goreng, nasi goreng babat sekayu.
Harga: Rp5.000 – Rp25.000.
Jam Buka: Selasa-Minggu, 12.30 – 22.00 WIB.
Kafe Gethe punya cerita yang bikin merinding. Bangunan ini dulunya adalah rumah peninggalan sastrawan NH Dini—novelis perempuan yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Ari Purbono dan istrinya, Haermeli, merogoh tabungan pribadi sekitar Rp110 juta untuk menyulap rumah itu jadi kafe sekaligus museum.
Haermeli bahkan rela menjual bonsai kesayangannya demi modal pembangunan. "Saya pikir cara paling pas untuk mendatangkan orang ke sini ya salah satunya dengan membuat tempat nongkrong tapi terus saya kepikiran, nggak mau buat tempat yang biasa-biasa saja. Mangkanya kami konsep museum kecil-kecilan," tutur Ari.
Awalnya sepi, tapi setelah seorang mahasiswa datang meneliti kampung tua untuk tugas akhir dan mengajak teman-temannya, Kafe Gethe mulai ramai. Sekarang, tempat ini jadi jujugan anak muda yang rindu suasana masa lalu.
4. Semilir Cafe (Ngaliyan): Angin Sepoi-Sepoi, View Kota dari Atas Bukit
Vibe: Semi-outdoor yang menyatu dengan kontur alam perbukitan Ngaliyan. Sesuai namanya, angin di sini memang semilir—bikin ngantuk dan rileks.
Lokasi: Jl. Panembahan Senopati No.274L, Ngaliyan.
Menu: Mendoan panas, pisang goreng keju, aneka minuman.
Harga: Makanan mulai Rp10.000-an.
Jam Buka: 15.00 – 23.00 WIB.
Dari ketinggian Ngaliyan, kamu bisa melihat kerlap-kerlip lampu jalan tol dan perumahan. Karena tempatnya terbuka, udaranya segar banget—cocok buat ngeteh sore sambil menikmati transisi senja ke malam.
5. Kala Senja (Gajahmungkur): Ngeteh "di Atas Awan" Sambil Lihat Pesawat Lewat
Vibe: Rooftop hotel dengan sensasi makan "di atas awan". Udaranya sejuk dan vibes-nya intim.
Lokasi: Jl. Sumbing No.2A, Bendungan, Kecamatan Gajahmungkur.
Menu: Nasi Goreng Kala Senja, Rice Bowl Sambal Matah, Lychee Tea.
Harga: Makanan mulai Rp30.000-an.
Jam Buka: 15.00 – 23.00 WIB.
Sesuai namanya, Kala Senja jadi tempat favorit buat menikmati indahnya langit sore.
Duduk di rooftop Kala Hotel, kamu bisa melihat kota Semarang dari ketinggian, dan kalau beruntung, ada pesawat yang melintas di atas kafe.
Nasi Goreng Kala Senja jadi menu paling addictive menurut pengunjung—rempahnya kaya, porsinya pas buat ngobrol santai.
6. Cafe Sunset View (Candi): Namanya Aja Udah Nggak Bohong
Vibe: Kafe casual dengan area luas, bersih, adem, dan spot view kota Semarang yang bikin suasananya cozy.
Lokasi: Jl. Candi Sari No.17, Candi, Kecamatan Candisari.
Menu: Cireng, mix platters, aneka minuman.
Harga: Terjangkau.
Jam Buka: 14.00 – 22.00 WIB.
Sesuai namanya, tempat ini memang juara buat sunset. Pengunjung bilang view-nya "parah cantiknya" saat sore, dan pas malam city light-nya juga bagus. Ada wifi dan colokan di beberapa titik, jadi kamu bisa ngeteh sambil scrolling tanpa takut baterai habis.
Tips Ngeteh Sore di Semarang Atas
Datang sebelum gelap. Waktu terbaik adalah pukul 17.00 WIB agar kamu bisa dapat momen sunset sekaligus transisi ke city light.
Bawa jaket. Udara Semarang Atas saat malam bisa cukup dingin dan berangin.
Cek ramalan cuaca. City light paling bagus dinikmati saat langit cerah. Kalau hujan atau berkabut tebal, pemandangan bisa tertutup.
Pesan menu lokal. Di kafe vintage, menu tradisional seperti wedang atau camilan jadul biasanya lebih otentik dan ramah di kantong.
Semarang Atas bukan cuma soal pemandangan. Kafe-kafe vintage di sini menyimpan cerita—tentang keluarga yang merawat warisan, tentang sastrawan yang pernah tinggal di sebuah rumah, tentang bonsai yang dijual demi sebuah mimpi.
Sore ini, kalau kamu sedang di Semarang, coba melipir ke salah satu tempat di atas. Pesan teh atau kopi, duduk di dekat jendela atau rooftop, dan biarkan senja bercerita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Drama VAR! Persib vs Dewa United, Maung Dibikin Geram! Penalti di Akhir Laga Tak Diberikan
- 2Prediksi Skor Deltras FC vs Persela Lamongan: Duel Sengit Perebutan Puncak Klasemen Pegadaian Championship 2026/27
- 3MotoGP Mandalika 2026: Acosta dan Marquez Saling Memberi Posisi demi Hindari Penalti
- 4Polda Jateng bersama BNN dan POM Lakukan Operasi Sarang Narkoba Serentak, Ribuan Pil Diamankan
- 5Semarang Heritage Night Run 2026 Hadirkan Sensasi Lari Malam di Tengah Kekayaan Budaya Kota Lama
- 6DPP Unnes Kucurkan Beasiswa Rp 3,38 Miliar untuk 530 Mahasiswa Kurang Mampu
- 7Tiga Hari Kendalikan Bara TPA Jatibarang, Pemkot Semarang Terapkan Teknologi Thermal
- 8Ofero Ride Fest 2026 Hadir di Semarang, Kenalkan Motor Listrik Carria 1 dengan Jarak Tempuh 130 Kilometer
- 9PSIS Semarang Bidik Kemenangan Keempat, Misi Tekuk Persiraja Bidik Pemuncak Klasemen Grup A!
- 10Dell XPS 16 RTX Spark Resmi Dijual, Harga Tembus Rp60 Jutaan dan Lebih Mahal dari Asus ProArt P16





