Jateng

Ngeteh Sore di Semarang Atas: 6 Kafe Vintage yang Bikin Senja Terasa Lebih Tenang

Theo Adi Pratama | 12 Oktober 2026, 15:32 WIB
Ngeteh Sore di Semarang Atas: 6 Kafe Vintage yang Bikin Senja Terasa Lebih Tenang
Kafe Vintage Semarang

JATENG.AKURAT.CO, Semarang Atas lagi jadi primadona buat ngeteh sore sambil berburu senja, dan deretan kafe vintage di perbukitan ini bukan cuma soal pemandangan—ada cerita panjang di baliknya.

Sore di Semarang Atas punya magisnya sendiri. Udara mulai sejuk, kabut tipis kadang turun dari perbukitan, dan langit perlahan berubah warna dari biru ke jingga.

Di momen seperti ini, ngeteh atau ngopi di kafe vintage jadi ritual paling masuk akal—bukan cuma buat mengisi perut, tapi buat menenangkan kepala yang penuh deadline.

Kawasan Semarang Atas, yang meliputi Gombel, Gajahmungkur, Candisari, hingga Ngaliyan, memang punya konsentrasi kafe vintage yang bikin kamu susah memilih.

Beberapa di antaranya bahkan menempati bangunan bersejarah dengan koleksi barang antik yang bikin suasana terasa seperti pulang ke rumah nenek.

Baca Juga: Spot Es Tradisional Segar: 5 Es Cendol dan Dawet Legendaris di Semarang-Solo yang Cocok Buat Ngadem Sore Ini

1. Anantari Coffee (Jangli): Joglo Warisan Keluarga dengan Rooftop Senja

Vibe: Joglo asli dengan gebyok kayu lawas, dinding bata ekspos, dan anyaman rotan yang dipadukan furnitur minimalis. Rooftop-nya jadi spot paling epic buat lihat sunset sampai city light malam hari.

Lokasi: Jl. Jangli Gabeng, Tembalang (masuk via Graha Candi Golf lebih mudah).

Menu: Rosa de Magic, Kopi Susu Anantarian, Red Velvet Latte.

Harga: Mulai Rp25.000-an.

Jam Buka: 11.00 – 23.00 WIB.

Yang bikin Anantari spesial bukan cuma view-nya. Bangunan utamanya pakai Joglo asli koleksi keluarga sejak 2009—sebuah warisan yang dirawat dengan serius oleh pemiliknya, Okky Rahmat Prasetyo, sejak kafe ini dibuka Agustus 2021.

Duduk di area Joglo Heritage sambil menyeruput teh, rasanya seperti melipir ke masa lalu tanpa harus meninggalkan kenyamanan modern.

2. Koenokoeni Cafe Gallery (Candisari): Galeri Sepeda Antik dan Nuansa "Rumah Nenek"

Vibe: Konsep galeri dengan koleksi motor klasik, vespa, radio jadul, dan kamera lawas. Bentuk bangunannya Joglo dengan interior barang-barang antik yang memberikan kesan "rumah nenek" yang mewah.

Lokasi: Jl. Tabanan No.4, Tegalsari, Kecamatan Candisari.

Menu: Beragam kopi dan camilan dengan pemandangan kota Semarang.

Harga: Terjangkau.

Koenokoeni bukan sekadar kafe—ini museum kecil-kecilan yang bisa kamu nikmati sambil duduk. Interior vintage-nya bikin kafe ini jadi favorit pecinta fotografi dan pencari inspirasi.

Sore hari, pemandangan kota dari ketinggian Candisari jadi latar yang sempurna buat ngeteh sambil melamun.

Baca Juga: Semarang Lagi Panas-Panasnya atau Mau Hujan? Cek Prakiraan Cuaca Jateng Sepekan Ini Plus Tips Biar Gak Tumbang

3. Kafe Gethe (Sekayu): Rumah Sastrawan NH Dini yang Jadi Tempat Nongkrong Penuh Sejarah

Vibe: Rumah Jawa tempo dulu dengan nuansa era 70-an yang kental. Dekorasi interior penuh elemen klasik, poster lawas, dan perabot vintage.

Lokasi: Jl. Sekayu Masjid No.341, Sekayu, Semarang Tengah.

Menu: Es puter, pangsit, kopi susu kramatdjati, wedang berbagai rasa, mi kuah, kwetiaw goreng, nasi goreng babat sekayu.

Harga: Rp5.000 – Rp25.000.

Jam Buka: Selasa-Minggu, 12.30 – 22.00 WIB.

Kafe Gethe punya cerita yang bikin merinding. Bangunan ini dulunya adalah rumah peninggalan sastrawan NH Dini—novelis perempuan yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Ari Purbono dan istrinya, Haermeli, merogoh tabungan pribadi sekitar Rp110 juta untuk menyulap rumah itu jadi kafe sekaligus museum.

Haermeli bahkan rela menjual bonsai kesayangannya demi modal pembangunan. "Saya pikir cara paling pas untuk mendatangkan orang ke sini ya salah satunya dengan membuat tempat nongkrong tapi terus saya kepikiran, nggak mau buat tempat yang biasa-biasa saja. Mangkanya kami konsep museum kecil-kecilan," tutur Ari.

Awalnya sepi, tapi setelah seorang mahasiswa datang meneliti kampung tua untuk tugas akhir dan mengajak teman-temannya, Kafe Gethe mulai ramai. Sekarang, tempat ini jadi jujugan anak muda yang rindu suasana masa lalu.

4. Semilir Cafe (Ngaliyan): Angin Sepoi-Sepoi, View Kota dari Atas Bukit

Vibe: Semi-outdoor yang menyatu dengan kontur alam perbukitan Ngaliyan. Sesuai namanya, angin di sini memang semilir—bikin ngantuk dan rileks.

Lokasi: Jl. Panembahan Senopati No.274L, Ngaliyan.

Menu: Mendoan panas, pisang goreng keju, aneka minuman.

Harga: Makanan mulai Rp10.000-an.

Jam Buka: 15.00 – 23.00 WIB.

Dari ketinggian Ngaliyan, kamu bisa melihat kerlap-kerlip lampu jalan tol dan perumahan. Karena tempatnya terbuka, udaranya segar banget—cocok buat ngeteh sore sambil menikmati transisi senja ke malam.

Baca Juga: Gaji Mulai Menipis di Tengah Bulan? Ini 4 Kuliner Legendaris Semarang di Bawah Rp20 Ribu yang Bikin Kenyang dan Bahagia

5. Kala Senja (Gajahmungkur): Ngeteh "di Atas Awan" Sambil Lihat Pesawat Lewat

Vibe: Rooftop hotel dengan sensasi makan "di atas awan". Udaranya sejuk dan vibes-nya intim.

Lokasi: Jl. Sumbing No.2A, Bendungan, Kecamatan Gajahmungkur.

Menu: Nasi Goreng Kala Senja, Rice Bowl Sambal Matah, Lychee Tea.

Harga: Makanan mulai Rp30.000-an.

Jam Buka: 15.00 – 23.00 WIB.

Sesuai namanya, Kala Senja jadi tempat favorit buat menikmati indahnya langit sore.

Duduk di rooftop Kala Hotel, kamu bisa melihat kota Semarang dari ketinggian, dan kalau beruntung, ada pesawat yang melintas di atas kafe.

Nasi Goreng Kala Senja jadi menu paling addictive menurut pengunjung—rempahnya kaya, porsinya pas buat ngobrol santai.

6. Cafe Sunset View (Candi): Namanya Aja Udah Nggak Bohong

Vibe: Kafe casual dengan area luas, bersih, adem, dan spot view kota Semarang yang bikin suasananya cozy.

Lokasi: Jl. Candi Sari No.17, Candi, Kecamatan Candisari.

Menu: Cireng, mix platters, aneka minuman.

Harga: Terjangkau.

Jam Buka: 14.00 – 22.00 WIB.

Sesuai namanya, tempat ini memang juara buat sunset. Pengunjung bilang view-nya "parah cantiknya" saat sore, dan pas malam city light-nya juga bagus. Ada wifi dan colokan di beberapa titik, jadi kamu bisa ngeteh sambil scrolling tanpa takut baterai habis.


Tips Ngeteh Sore di Semarang Atas

  • Datang sebelum gelap. Waktu terbaik adalah pukul 17.00 WIB agar kamu bisa dapat momen sunset sekaligus transisi ke city light.

  • Bawa jaket. Udara Semarang Atas saat malam bisa cukup dingin dan berangin.

  • Cek ramalan cuaca. City light paling bagus dinikmati saat langit cerah. Kalau hujan atau berkabut tebal, pemandangan bisa tertutup.

  • Pesan menu lokal. Di kafe vintage, menu tradisional seperti wedang atau camilan jadul biasanya lebih otentik dan ramah di kantong.


Semarang Atas bukan cuma soal pemandangan. Kafe-kafe vintage di sini menyimpan cerita—tentang keluarga yang merawat warisan, tentang sastrawan yang pernah tinggal di sebuah rumah, tentang bonsai yang dijual demi sebuah mimpi.

Sore ini, kalau kamu sedang di Semarang, coba melipir ke salah satu tempat di atas. Pesan teh atau kopi, duduk di dekat jendela atau rooftop, dan biarkan senja bercerita.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.