Jateng

Gaji Mulai Menipis di Tengah Bulan? Ini 4 Kuliner Legendaris Semarang di Bawah Rp20 Ribu yang Bikin Kenyang dan Bahagia

Theo Adi Pratama | 12 Oktober 2026, 14:52 WIB
Gaji Mulai Menipis di Tengah Bulan? Ini 4 Kuliner Legendaris Semarang di Bawah Rp20 Ribu yang Bikin Kenyang dan Bahagia

JATENG.AKURAT.CO, Tanggal tua itu memang momen paling menyakitkan buat siapa pun yang hidup di kota besar. Dompet mulai ringan, notifikasi m-banking bikin sesak napas, dan pertanyaan klasik mulai menghantui: "Makan apa hari ini yang nggak bikin tabungan jebol?"

Nah, kalau kamu kebetulan sedang berada di Semarang—atau memang tinggal di sini—kabar baiknya adalah kota ini nggak pernah pelit soal makanan murah. Bahkan, beberapa di antaranya sudah bertahan puluhan tahun, bukan karena murahnya saja, tapi karena rasanya yang konsisten bikin orang balik lagi.

Ini bukan sekadar soal makan murah. Ini soal bagaimana warung-warung legendaris di Semarang tetap berdiri tegak di tengah gempuran kafe estetik dan restoran franchise yang harganya bikin dompet menjerit. Dari soto yang sudah eksis sejak zaman kemerdekaan sampai mie kopyok yang jadi favorit anak kos, semuanya punya cerita.

Soto Bokoran: Semangkuk Sejarah Sejak 1949

Warung Soto Bokoran yang berlokasi di Jalan Plampitan No. 55, Bangunharjo, ini sudah beroperasi sejak 1949. Artinya, warung ini sudah melayani pelanggan dari generasi kakek-nenek sampai cucu-cucunya sekarang. Pemilik aslinya dulu dikenal sebagai "Mbahe H Ngatiman", dan sampai sekarang resepnya nggak berubah.

Soto di sini disajikan dengan kuah bening yang segar, isian ayam suwir, sohun, dan nasi. Satu porsinya cuma Rp15.000. Kalau mau tambah lauk seperti sate kerang, perkedel, atau telur pindang, tinggal tambah Rp2.000 sampai Rp8.000 saja.

Buka dari jam 06.00 sampai 14.00 WIB, Soto Bokoran cocok banget buat sarapan atau makan siang yang mengenyangkan tanpa bikin kantong menangis. Suasananya klasik, porsinya pas, dan yang paling penting: rasa kuahnya bikin mata melek.

Mie Kopyok Pak Dhuwur: Andalan Anak Kos Sejak 1970

Kalau kamu tipe orang yang suka makanan berkuah gurih dengan tekstur yang beragam, Mie Kopyok Pak Dhuwur wajib masuk daftar. Kuliner legendaris yang satu ini sudah ada sejak 1970 dan berlokasi di Jalan Tanjung No. 18A, Pandansari.

Isinya? Mie, lontong, tahu, tauge, dan kerupuk gendar yang bikin teksturnya makin ramai di mulut. Kuahnya gurih, dan sambal kacangnya menambah dimensi rasa yang bikin nagih. Harga per porsinya mulai dari Rp10.000 saja.

Warung ini buka dari jam 08.00 sampai 20.00 WIB, jadi kamu bisa mampir kapan saja—entah itu untuk makan siang atau sekadar mengganjal perut sebelum balik ngantor. Buat mahasiswa yang sedang berjuang di akhir bulan, tempat ini sudah seperti kampus kedua.

Nasi Gandul Pak Memet: Gurihnya Kuah Santan di Atas Daun Pisang

Bagi kamu yang belum familiar dengan nasi gandul, hidangan ini adalah salah satu kekayaan kuliner Jawa Tengah yang wajib dicoba.

Nasi Gandul Pak Memet di Jalan Dokter Cipto Nomor 12, Bugangan, Semarang Timur, sudah jadi langganan warga lokal sejak lama.

Menu andalannya adalah nasi gandul dengan kuah santan gurih yang bercita rasa rempah kuat. Daging sapinya empuk, bumbunya meresap, dan disajikan di atas daun pisang yang menambah aroma khas. Harga per porsinya? Cuma Rp8.000 sampai Rp12.000.

Buka dari jam 16.30 sampai 21.30 WIB, tempat ini cocok banget buat makan malam yang hangat dan mengenyangkan. Suasananya sederhana, tapi justru itu yang bikin rasanya terasa seperti masakan rumah.

Soto Pak No: Buka 24 Jam, Harga Mulai Rp10 Ribu

Ini dia penyelamat sejati buat kamu yang sering lapar tengah malam atau subuh-subuh. Soto Pak No yang berlokasi di Jalan Kaligarang Raya, Barusari, Semarang Selatan, buka selama 24 jam penuh.

Kuah sotonya bening dengan rasa gurih dan segar. Isiannya ayam, dan kamu bisa menambahkan sambal, kecap, serta jeruk untuk menyesuaikan rasa sesuai selera. Harganya mulai dari Rp10.000 sampai Rp15.000 per porsi.

Kalau kamu pernah datang ke Pasar Johar, Soto Pak No juga punya gerai di lantai dua pasar tersebut. Salah satu pengunjung, Nindya (19), bahkan menyebut Soto Pak No sebagai salah satu kuliner wajib di Pasar Johar. Jadi, mau jam 2 pagi atau jam 2 siang, soto ini siap menyambut perutmu yang protes.


Empat warung di atas bukan sekadar tempat makan murah. Mereka adalah bukti bahwa kuliner legendaris di Semarang nggak perlu harga mahal untuk tetap bertahan.

Yang dibutuhkan cuma konsistensi rasa, porsi yang jujur, dan mungkin sedikit kesabaran saat mengantre di jam-jam sibuk.

Jadi, lain kali gaji mulai menipis di tengah bulan, jangan panik. Semarang sudah menyiapkan jawabannya: makan enak, kenyang, dan tetap bahagia—tanpa harus menguras saldo terakhir di rekening.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.