Jateng

Tahan Persija 76 Menit, PSIM Kolaps di Akhir: Apa yang Salah? Analisa Pasca Pertandingan

Theo Adi Pratama | 12 Oktober 2026, 16:09 WIB
Tahan Persija 76 Menit, PSIM Kolaps di Akhir: Apa yang Salah? Analisa Pasca Pertandingan

JATENG.AKURAT.CO, PSIM Yogyakarta sudah susah payah menahan gempuran Persija Jakarta selama 76 menit, tapi lini belakang Laskar Mataram akhirnya runtuh dalam 15 menit terakhir dan harus menelan kekalahan telak 0-4 di kandang sendiri.

Sore itu, Stadion Sultan Agung di Bantul seharusnya jadi benteng terakhir Laskar Mataram. Tapi kenyataannya, stadion sendiri malah berubah jadi panggung pesta gol Macan Kemayoran. Suporter tuan rumah Brajamusti dan The Maidens harus menelan pil pahit: tribun stadion justru lebih banyak diisi The Jakmania yang datang dari Jakarta, bernyanyi dan berpesta setelah peluit panjang berbunyi.

Pertandingan pekan keempat BRI Super League 2026/2027 ini berakhir 0-4. Empat gol Persija tercipta dalam kurun waktu 15 menit terakhir babak kedua.

Tapi angka itu nggak pernah bisa menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi. Babak pertama adalah cerita tentang perlawanan sengit. Babak kedua adalah cerita tentang kehancuran total. Mari kita bedah satu per satu.

Baca Juga: Tertinggal 2 Gol, Comeback dalam 4 Menit: Drama Persib vs Dewa United yang Bikin Jantung Copot

Babak Pertama: 45 Menit yang Memberi Harapan Palsu

PSIM sebenarnya memulai laga dengan cukup disiplin. Pelatih Jean-Paul van Gastel menyiapkan strategi bertahan rapat untuk meredam agresivitas Persija. Dua bek asing, Franco Ramos Mingo dan Yusaku Yamadera, jadi tumpuan utama di jantung pertahanan.

Hasilnya? Selama 45 menit pertama, Persija memang tampil agresif tapi buntu. Peluang demi peluang gagal dikonversi jadi gol. Baru ada satu momen berbahaya dari PSIM sendiri lewat Caballero yang melepaskan tembakan pada menit ke-53, tapi masih bisa diblok kiper Persija, Nadeo Argawinata.

Hingga turun minum, papan skor masih 0-0. Di tribun, Bobotoh—eh salah, Brajamusti—mulai berharap. Tapi harapan itu ternyata cuma ilusi.

Babak Kedua: 15 Menit yang Menghancurkan Segalanya

Babak kedua dimulai dengan tempo yang masih seimbang. PSIM bahkan sempat mendapat peluang. Lalu pada menit ke-55, Arlyansyah Abdulmanan—mantan pemain PSIM yang kini berseragam Persija—mencetak gol ke gawang mantan timnya. Stadion Sunan Agung sempat hening. Tapi wasit kemudian meninjau VAR dan menganulir gol tersebut karena pelanggaran lebih dulu.

Drama VAR itu ternyata bukan penyelamat. Itu justru awal petaka.

Menit ke-77: Gol Pertama Jeremejeff

Alexander Jeremejeff akhirnya memecah kebuntuan. Berawal dari umpan Stjepan Loncar dari sisi kiri, Jeremejeff menyelesaikan peluang dengan tap-in yang gagal diantisipasi kiper PSIM, Cahya Supriadi. Skor 0-1.

Masalahnya, gol itu seolah membuka keran. PSIM yang sebelumnya disiplin tiba-tiba kehilangan arah. Lini belakang yang selama 76 menit tampak solid mendadak rapuh.

Menit ke-81: Loncar Menggandakan

Empat menit berselang, Loncar mencetak gol keduanya. Menerima umpan silang Kerim Memija, ia melepaskan tendangan langsung yang mengarah ke gawang PSIM. Kiper Cahya Supriadi gagal mengantisipasi. Skor 0-2.

Menit ke-87: Kwon Chang-hoon Menambah Derita

Berselang enam menit, Kwon Chang-hoon mencetak gol ketiga. Kali ini dari tendangan mendatar dari luar kotak penalti yang kembali gagal dibendung Cahya. Skor 0-3.

Menit ke-90+4: Loncar Menutup Pesta

Pada masa tambahan waktu, Loncar mencetak gol keduanya sekaligus menutup pesta gol Persija. Menerima umpan dari Chang-hoon, ia melepaskan tendangan melengkung ke sudut kanan gawang PSIM. Skor akhir 0-4.

Empat gol dalam 17 menit. Lini belakang PSIM seakan runtuh begitu saja.

Apa yang Sebenarnya Salah?

Kalau kita bedah lebih dalam, ada beberapa faktor yang menyebabkan keruntuhan lini belakang PSIM di babak kedua.

Pertama, faktor mental. Gol pertama Jeremejeff seolah meruntuhkan mental bertanding tuan rumah. Lini belakang yang sebelumnya tampak disiplin tiba-tiba kehilangan konsentrasi dan koordinasi.

Kedua, kelelahan fisik. PSIM tampil ngotot sejak awal laga. Menahan gempuran Persija selama 76 menit jelas menguras energi. Ketika gol pertama tercipta, pemain PSIM sudah kehabisan bensin.

Ketiga, kualitas pemain pengganti Persija. Van Gastel sendiri mengakui bahwa pergantian pemain yang dilakukan Persija di babak kedua mengubah jalannya pertandingan. “Mereka memasukkan beberapa pemain pengganti yang baru masuk sehingga situasinya sedikit berbeda dengan kondisi tim kami,” ujarnya.

Keempat, kehilangan Yusaku Yamadera. Bek asal Jepang ini sebelumnya jadi tumpuan utama di jantung pertahanan PSIM. Namun dalam tiga laga terakhir, PSIM harus kehilangan Yusaku yang mengalami cedera. Absennya Yusaku jelas mengurangi kekuatan lini belakang.

Van Gastel: Saya Tidak Bisa Menyalahkan Pemain

Di ruang konferensi pers, Van Gastel tampak lelah. Pelatih asal Belanda itu tetap membela para pemainnya meski menelan kekalahan telak.

“Saya pikir tim saya melakukan segala yang mereka bisa untuk mendapatkan hasil. Saya pikir tim saya masih terus berjuang, tetapi kami memang membutuhkan poin,” ujarnya dikutip dari laman resmi I.League.

Van Gastel juga menegaskan bahwa dirinya tidak menyalahkan para pemain. “Saya tidak bisa mengeluh tentang tim saya karena pemain sudah melakukan segalanya,” kata dia menegaskan.

Tapi di sisi lain, ia juga mengakui ada perbedaan level yang cukup signifikan antara kedua tim, baik dari sisi anggaran maupun komposisi pemain.

Ze Valente: Perbedaan Kelas yang Harus Diakui

Kapten PSIM, Ze Valente, bahkan lebih blak-blakan dalam mengakui perbedaan kelas antara timnya dan Persija.

“Kita tahu tidak pernah mudah untuk bermain melawan Persija. Mereka adalah tim besar di Indonesia, target berbeda (dengan kami), anggaran berbeda, level pemain berbeda,” ujarnya seperti dikutip BolaSport.com.

Namun, pemain asal Portugal itu menegaskan bahwa timnya sudah memberikan perlawanan maksimal sebelum kebobolan gol pertama. “Saya pikir kami memberikan semua yang kami bisa sampai sebelum kebobolan gol pertama,” tambahnya.

Statistik yang Bicara

Secara statistik, kekalahan ini memang pahit. PSIM tercatat sudah kebobolan 15 gol dari 13 laga di Super League musim ini, dengan rata-rata 1,3 gol kebobolan per pertandingan.

Dalam empat laga yang sudah dijalani musim ini, PSIM hanya mampu meraih satu poin—hasil imbang 1-1 melawan Persita Tangerang, sementara tiga laga lainnya berakhir dengan kekalahan. Hasil buruk ini menempatkan PSIM di peringkat ke-14 klasemen sementara.

Evaluasi yang Harus Dilakukan

Ada beberapa hal yang perlu dibenahi PSIM ke depan jika ingin keluar dari zona merah.

1. Konsistensi di 15 Menit Terakhir

Ini bukan pertama kalinya PSIM kolaps di menit-menit akhir. Pola kebobolan di 15 menit terakhir pertandingan harus segera dibenahi, baik dari sisi fisik maupun mental.

2. Rotasi Pemain yang Lebih Baik

Van Gastel perlu memikirkan rotasi pemain yang lebih efektif. Kelelahan fisik di babak kedua jelas terlihat ketika pemain PSIM mulai kehilangan konsentrasi.

3. Kembalinya Yusaku Yamadera

Kehadiran Yusaku di jantung pertahanan sangat krusial. Kembalinya bek asal Jepang itu diharapkan bisa mengembalikan kekokohan lini belakang PSIM.

4. Membangun Mentalitas Bertanding

Gol pertama lawan seolah meruntuhkan mental bertanding pemain. Ini masalah mentalitas yang harus segera dibangun kembali.

Laga Selanjutnya: Ujian Berat Menanti

PSIM tidak punya waktu lama untuk meratap. Pada laga pekan berikutnya, mereka dijadwalkan kembali bermain di kandang saat menjamu PSM Makassar di Stadion Sultan Agung, Bantul, pada Jumat (16/10) pukul 15.30 WIB.

PSM Makassar jelas bukan lawan yang mudah. Klub asal Sulawesi Selatan itu dikenal punya lini serang yang tajam. Jika lini belakang PSIM tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin kekalahan telak kembali terulang.

Tapi di sisi lain, bermain di kandang sendiri selalu punya magisnya. Dukungan penuh Brajamusti dan The Maidens bisa jadi energi tambahan bagi Laskar Mataram. Van Gastel dan anak-anak asuhnya harus segera bangkit. Sebab, kekalahan telak di rumah sendiri bukan cuma soal poin—itu soal harga diri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.