Spot Es Tradisional Segar: 5 Es Cendol dan Dawet Legendaris di Semarang-Solo yang Cocok Buat Ngadem Sore Ini

JATENG.AKURAT.CO, Akhir-akhir ini panas di Semarang dan Solo bener-bener bikin otak ikut mendidih. Kalau siang, aspal jalan kayak habis dipanggang, dan keringat nggak berhenti ngucur meski cuma duduk di teras.
Di momen kayak gini, es cendol dan dawet jadi penyelamat paling jujur. Bukan es boba atau kopi susu kekinian yang harganya bikin dompet menjerit, tapi es tradisional yang resepnya udah diwariskan dari generasi ke generasi.
Yang menarik, beberapa warung es ini udah eksis sejak zaman kolonial, bahkan ada yang sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka.
Mereka bukan cuma bertahan karena murah, tapi karena rasanya yang konsisten dan cerita yang bikin orang balik lagi. Dari Pasar Gede Solo sampai sudut-sudut Semarang, ini lima spot yang wajib kamu sambangi sore ini.
Es Dawet Telasih Bu Dermi: Dawet Zaman Kolonial yang Bikin Jokowi Rela Antre
Kalau main ke Pasar Gede Solo dan belum mampir ke lapak Bu Dermi, rasanya ada yang kurang. Warung sederhana di dekat pintu utara Pasar Gede Hardjonagoro ini sudah berjualan sejak tahun 1930-an, seangkatan dengan berdirinya pasar tersebut.
Dulu, minuman ini dikenal dengan nama "dawet jamu" karena salah satu isiannya, biji telasih atau selasih, dipercaya punya khasiat meredakan panas dalam. "Bagi masyarakat Jawa, biji telasih itu memiliki khasiat, antara lain untuk jamu, meredakan panas dalam. Makanya disebut dawet jamu," kata YF Sukasno, pemerhati budaya Solo.
Sekarang, warung ini dikelola oleh Ruth Tulus Subekti, generasi ketiga yang akrab disapa Uti. Ia mengaku bangga bisa melanjutkan warisan sang nenek. "Saya bangga sebagai penerus. Kami berjualan sudah dari lama, dari tahun 1930-an kira-kira sejak Pasar Gede juga didirikan," ujarnya.
Semangkuk Es Dawet Telasih Bu Dermi berisi cendol hijau lembut dari tepung beras dan perasan daun suji, ketan hitam, bubur sumsum, tape ketan hijau, serta biji telasih yang kenyal. Semuanya disiram santan segar dan juruh gula jawa cair. Harganya cuma Rp12.000 per porsi, dan kalau mau tambah durian, cukup merogoh kocek tambahan Rp8.000. Warung ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 15.00 WIB.
Yang bikin makin spesial, Es Dawet Bu Dermi ini pernah jadi langganan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, saat masih menjabat Wali Kota Solo. Bahkan, ketika ia sudah jadi presiden, dawet ini sesekali dibawa ke istana melalui ajudan. Sekarang, warung ini juga sudah menerima pembayaran digital lewat QRIS, jadi kamu nggak perlu repot bawa uang tunai.
Es Dawet Hj. Sipon: Legenda Pasar Gede Sejak 2006
Masih di Pasar Gede, ada satu lapak lagi yang nggak kalah legendaris: Es Dawet Hj. Sipon. Terletak di kios nomor 27, Los Makanan Nomor 9, Gedung Timur Pasar Gede, warung ini dirintis oleh Mulyadi bersama adiknya dan sang ibu, Hj. Sipon, sejak tahun 2006.
"Keistimewaan dawet ini ada pada racikan tradisional yang dijaga turun-temurun dari ibu saya. Bahannya harus terbaik, dan cara penyajiannya tetap sama seperti dulu," ujar Mulyadi.
Isiannya dawet hijau lembut, ketan putih, tape, dan biji telasih, semua berpadu dengan santan gurih dan gula jawa cair. Satu porsinya cuma Rp10.000, dan warung ini buka dari pukul 07.00 sampai 17.00 WIB.
Popularitas Es Dawet Hj. Sipon sudah sampai ke telinga tokoh-tokoh penting. Pakar kuliner Bondan Winarno pernah mencicipinya sebelum beliau wafat. Kaesang Pangarep dan istrinya juga sering datang bersama keluarga, dan Anies Baswedan pernah mampir pada 2024 saat berkunjung ke Solo.
Dawet Duren Pleburan: Porsi Bar-Bar yang Bikin Antre Satu Jam
Pindah ke Semarang, ada Dawet Duren Pleburan yang terkenal dengan porsi melimpah dan antrean panjang. Warung ini sudah berdiri sejak 1980-an dan sekarang dikelola generasi kedua.
"Ada lima cabang, yang terkenal di Pleburan, Semarang Selatan," jelas Irman, salah satu pegawai. Warung utamanya di Jalan Agus Salim kawasan Pasar Johar, tapi cabang di Pleburan yang paling ramai.
Isiannya komplit: alpukat, cendol hijau, cincau, nangka, tape ketan, tape singkong, dan durian. Semuanya ditata di atas es batu serut, lalu diguyur santan dan gula jawa kental. Harganya mulai Rp10.000 untuk dawet biasa sampai Rp18.000 untuk dawet durian komplit dengan tiga biji durian.
Salah satu pembeli, Dina Rahayu, mengaku puas meski harus mengantre sekitar satu jam. "Porsinya melimpah, bisa tambah santan atau gula. Untuk harga Rp18 ribu sangat terjangkau, duriannya juga enak," akunya.
Es Cendol 86 Kaligarang: Es Cendol dengan Topping Es Krim
Kalau kamu tipe orang yang suka es cendol tapi pengen sensasi berbeda, Es Cendol 86 di Jalan Kaligarang No. 1 Semarang bisa jadi jawabannya. Kedai kecil ini menawarkan es cendol dengan tambahan es krim dua scoop yang bikin rasanya creamy tapi nggak enek.
Isiannya bukan cuma cendol dan kuah santan. Ada kacang merah, kolang-kaling, jeli mutiara, dan gula Jawa yang bikin teksturnya ramai di mulut. "Berbagai isian es cendol dengan tekstur berbeda yang bikin kamu nggak berhenti mengunyah," tulis Inibaru.id dalam ulasannya.
Kamu juga bisa pesan es cendol dengan berbagai topping lain seperti keju, oreo, alpukat, durian, rumput laut, atau cincau. Harganya dibanderol antara Rp8.000 sampai Rp22.000, tergantung topping yang dipilih. Kedainya persis sebelum lampu merah RSUD Karyadi, jadi nggak terlalu susah dicari.
Dawet Lele Candi: Inovasi Cendol Berbahan Ikan yang Viral
Ini yang paling unik dan mungkin bikin kamu angkat alis. Di kawasan Candi, Kota Semarang, ada dawet yang cendolnya dibuat dari daging ikan lele. Namanya "Dawet Lelica", hasil inovasi Endang Sriwati bersama kelompok budidaya ikan Mina Candi 3.
"Kami berinovasi bagaimana caranya anak-anak yang tadinya enggak suka makan ikan jadi suka makan," kata Endang saat dikutip dari beritajateng.tv. Ide ini berawal dari upaya memanfaatkan budidaya lele untuk mendukung peningkatan konsumsi ikan, terutama bagi anak-anak.
Bikinnya nggak gampang. Endang dan kelompoknya harus bereksperimen berkali-kali sampai menemukan formula yang pas agar aroma lele nggak mengganggu rasa manis dawet. "Selama ini, lele lebih banyak dikenal dalam bentuk goreng, pecel lele, atau olahan gurih lainnya," ujarnya.
Hasilnya? Cendol hijau dengan gula aren dan santan yang sekilas terlihat biasa, tapi saat dikunyah ada tekstur daging lele yang dihaluskan sedikit kasar. Rasanya legit, nggak amis sama sekali.
Dari sisi harga, dawet lele dipatok sekitar satu setengah kali harga dawet biasa karena adanya tambahan daging lele dan bahan lain dalam proses pengolahannya. Sayangnya, Dawet Lelica belum diproduksi setiap hari dan masih dibuat terbatas berdasarkan pesanan.
Lima tempat ini bukan sekadar warung es. Mereka adalah bukti bahwa kuliner tradisional nggak pernah kehilangan tempat di hati orang Jateng.
Resepnya dijaga, ceritanya diwariskan, dan harganya tetap ramah di kantong. Jadi, lain kali panas bikin kamu pengen nangis, ingat lima spot ini. Es cendol dan dawet legendaris ini siap bikin soremu lebih adem, tanpa harus bikin dompet ikut keringetan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Drama VAR! Persib vs Dewa United, Maung Dibikin Geram! Penalti di Akhir Laga Tak Diberikan
- 2Prediksi Skor Deltras FC vs Persela Lamongan: Duel Sengit Perebutan Puncak Klasemen Pegadaian Championship 2026/27
- 3MotoGP Mandalika 2026: Acosta dan Marquez Saling Memberi Posisi demi Hindari Penalti
- 4Polda Jateng bersama BNN dan POM Lakukan Operasi Sarang Narkoba Serentak, Ribuan Pil Diamankan
- 5Semarang Heritage Night Run 2026 Hadirkan Sensasi Lari Malam di Tengah Kekayaan Budaya Kota Lama
- 6DPP Unnes Kucurkan Beasiswa Rp 3,38 Miliar untuk 530 Mahasiswa Kurang Mampu
- 7Tiga Hari Kendalikan Bara TPA Jatibarang, Pemkot Semarang Terapkan Teknologi Thermal
- 8Ofero Ride Fest 2026 Hadir di Semarang, Kenalkan Motor Listrik Carria 1 dengan Jarak Tempuh 130 Kilometer
- 9PSIS Semarang Bidik Kemenangan Keempat, Misi Tekuk Persiraja Bidik Pemuncak Klasemen Grup A!
- 10Dell XPS 16 RTX Spark Resmi Dijual, Harga Tembus Rp60 Jutaan dan Lebih Mahal dari Asus ProArt P16





